Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 17 JULI 2026 • 14:41 WIB

Telepati, Fiksi Ilmiah atau Fakta yang Terbukti Secara Sains?

Telepati, Fiksi Ilmiah atau Fakta yang Terbukti Secara Sains?Ilustrasi Ajian Telepati. (Foto: Freepik @Freepik)

INDOZONE.ID - Kemampuan membaca pikiran orang lain tanpa kata-kata, atau telepati, selama ini identik dengan dunia fiksi ilmiah dan film superhero.

Tapi benarkah fenomena ini pernah diuji secara ilmiah? Berikut penjelasannya dari sudut pandang neurologi dan para psikolog.

Apa Itu Telepati? Nyata atau Tidak?

Secara istilah, telepati berasal dari kata "tele" (jarak) dan "pathy" (perasaan), merujuk pada komunikasi antara dua pikiran yang dipisahkan jarak tanpa melibatkan panca indera.

Baca juga: Diklaim Sakti Berabad-Abad, Ternyata Ini Fakta Ilmiah di Balik Telekinesis

Dalam bidang parapsikologi, telepati masuk kategori Extra Sensory Perception (ESP) bersama kewaskitaan dan prekognisi, kemampuan yang diklaim berada di luar jangkauan indra biasa manusia.

Fenomena "bisa menebak pikiran sahabat atau pasangan" yang sering dianggap sebagai bukti telepati sebenarnya punya penjelasan yang lebih sederhana.

Kedekatan emosional dan waktu yang dihabiskan bersama membuat seseorang jadi sangat familiar dengan pola pikir, kebiasaan, dan reaksi orang lain, sehingga tebakan yang muncul terasa seperti "membaca pikiran", padahal itu hasil dari pengenalan pola yang terbentuk dari pengalaman berulang, bukan transfer sinyal antarotak.

Salah satu percobaan paling dikenal dalam sejarah penelitian telepati adalah eksperimen Ganzfeld. Dalam metode ini, satu orang (penerima) diisolasi dari rangsangan sensorik seperti suara dan cahaya.

Sementara orang lain (pengirim) di ruangan terpisah mencoba "mengirimkan" gambar atau video secara acak lewat pikirannya. Penerima kemudian diminta menebak apa yang dilihat atau dirasakan si pengirim.

Hasilnya sejauh ini tidak konsisten. Sejumlah peneliti parapsikologi mengklaim menemukan hasil statistik yang sedikit di atas kebetulan.

Namun komunitas sains arus utama menilai penelitian semacam ini kerap memiliki kelemahan metodologis, seperti ukuran sampel kecil, kontrol eksperimen yang longgar, hingga potensi bias konfirmasi dari peneliti.

Karena itu, hingga sekarang belum ada bukti yang benar-benar meyakinkan bahwa telepati alami, tanpa bantuan alat bisa benar-benar terjadi.

Menariknya, meski telepati alami belum terbukti, para ilmuwan berhasil menciptakan bentuk "telepati" versi teknologi lewat antarmuka otak komputer (brain computer interface).

Salah satu eksperimen yang cukup terkenal terjadi pada 2014, ketika sebuah tim peneliti berhasil mengirim kata seperti "hola" dan "ciao" dalam bentuk kode biner dari seorang partisipan di India ke penerima di Prancis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Quora, New York Magazine

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Telepati, Fiksi Ilmiah atau Fakta yang Terbukti Secara Sains?

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!