Minggu, 13 JULI 2025 • 17:00 WIB

Tradisi Jauhar di India: Antara Simbol Pengorbanan dan Isu Hak Asasi Manusia

Author

Ilustrasi Tradisi Jauhar (The Quint)

INDOZONE.ID - Zaman dulu, sejarah India menyimpan banyak cerita yang bikin penasaran, salah satunya adalah Tradisi Jauhar. Tradisi ini bukan sekadar legenda, tapi pernah jadi bagian nyata dari kehidupan para perempuan Rajput, salah satu komunitas paling berpengaruh dalam sejarah India. Namun, seiring waktu, Jauhar berubah makna, dari simbol kehormatan menjadi isu yang memicu perdebatan soal hak asasi manusia.

Apa sih Jauhar itu?

Jauhar (kadang disebut Johar atau Juhar) adalah tradisi yang dilakukan oleh perempuan Hindu dari kalangan bangsawan Rajput ketika kerajaan mereka kalah perang. Daripada menjadi tawanan atau mengalami kekejaman dari pihak musuh, para perempuan ini memilih untuk mengakhiri hidup mereka sendiri secara massal dengan membakar diri. Momen tragis ini biasanya dilakukan saat malam hari, di mana mereka memakai busana pernikahan, membawa serta anak-anak, lalu bersama-sama masuk ke kobaran api besar.

Tradisi ini dulunya dianggap sebagai bentuk keberanian dan pengorbanan demi menjaga kehormatan. Dalam budaya Rajput, harga diri adalah segalanya, dan Jauhar dianggap sebagai cara terakhir mempertahankannya.

Baca juga: Menelusuri Jejak Leluhur Lewat Tradisi Mapak Tirto di Sidoarjo

Namun, kalau dipikir-pikir dari sudut pandang kita sekarang, praktik ini tentu terasa jauh dari kata manusiawi.

Banyak pihak, terutama pejuang hak asasi manusia dan kaum feminis, melihat Jauhar sebagai bentuk pelanggaran HAM. Bayangkan saja, perempuan dan anak-anak “dipaksa” untuk mengakhiri hidup hanya karena tekanan budaya dan ketakutan terhadap musuh. Nggak cuma kehilangan nyawa, tradisi ini juga menimbulkan trauma, memperkuat stigma gender, dan menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus terus “berkorban” dalam konflik yang bahkan bukan mereka yang mulai.

Untungnya, generasi sekarang semakin kritis dan terbuka. Kita mulai menyadari bahwa warisan budaya tidak selalu harus dilestarikan secara buta. Banyak sejarah yang tetap bisa dikenang tanpa harus diulang, apalagi kalau sudah menyangkut nyawa dan kemanusiaan.

Tradisi Jauhar kini banyak dipelajari bukan untuk diterapkan kembali, tapi sebagai refleksi: tentang bagaimana budaya, martabat, dan hak asasi bisa saling bertabrakan. Dari situ, muncul harapan baru untuk menciptakan masa depan yang lebih adil, terutama bagi perempuan.

Baca juga: Madu Gila Himalaya: Antara Khasiat Tradisional, Racun, dan Nilai Budaya

Sejarah memang nggak selalu indah, tapi dari sejarah kita bisa belajar. Tradisi seperti Jauhar jadi pengingat bahwa keberanian sejati bukan soal berkorban nyawa, tapi soal berani mengubah cara pandang demi kehidupan yang lebih baik dan manusiawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: IBTimes India

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU