Sabtu, 06 DESEMBER 2025 • 15:30 WIB

Kisah Mistis Pager Wetan di Lereng Gunung Semeru: Perjanjian Kelam Sang Kuncen Cari Tumbal

Author

Ilustrasi Pager Wetan di Lereng Gunung Semeru. (Foto: Freepik @Freepik)

INDOZONE.ID - Desa Pager Wetan, sebuah desa kecil di lereng Semeru yang biasanya tenang dan dingin, berubah total sejak letusan kecil yang terjadi sebulan sebelum kejadian pertama. 

Malam-malam di desa itu seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin disebutkan keras-keras.

Nah di balik hilangnya para gadis yang terjadi tiap tahun, terselip satu kisah mistis yang selama puluhan tahun ditutup rapat oleh seorang kuncen yang dipercaya menjaga hubungan antara manusia dan penjaga gunung.

Yuk simak kisah mistis Pager Wetan dilansir dari YouTube @OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!

Baca juga: Kisah Mistis Warung Iblis di Tengah Gunung: Tempat yang Muncul Hanya untuk Pendaki Tersesat

Malam Saat Sari Hilang

Hawa dingin dari arah puncak Semeru menyelinap masuk ke setiap celah rumah. Sari, gadis 15 tahun, duduk di depan rumah sambil memeluk lutut.

Malam itu angin membawa suara-suara aneh dan gelap terasa lebih pekat dari biasanya. Sampai akhirnya Sari melihat sosok berbalut kain gelap berdiri di depan hutan. Terlalu tinggi, terlalu diam, terlalu gelap untuk disebut manusia.

Setelah sosok itu menghilang, ketenangan rumahnya runtuh satu per satu. Ibunya, Bu Hati, tiba-tiba lenyap dari pandangan dan Sari mendapati dirinya sendirian di dalam rumah yang semakin gelap.

Ketukan-ketukan berat datang dari arah dapur, lalu langkah-langkah mendekat. Bayangan tinggi muncul di balik pintu dapur.

Jeritan Sari memecah keheningan desa, tapi tak ada yang benar-benar mendengar. Pagi harinya, Sari menghilang. Jejak kakinya berhenti tepat di tepi hutan.

Tiga Tahun, Tiga Gadis

Sejak hilangnya Sari, suasana Pager Wetan berubah drastis. Tidak ada anak kecil yang berani bermain di luar, tidak ada warga yang nongkrong di teras saat malam. Setiap tahun, tepat di bulan yang sama, satu gadis selalu hilang tanpa jejak.

Pada tahun ketiga, warga akhirnya memanggil orang yang namanya tidak boleh disebut sembarangan yaitu Ki Kusumo, kuncen tua penjaga gelanggang adat desa-desa Semeru.

Baca juga: Kisah Mistis Gunung Sadakeling: Gunung Angker yang Dijaga Macan Hitam, Ular Gaib, dan Batu Hidup

Ilustrasi Pager Wetan di Lereng Gunung Semeru. (Foto: Freepik @Freepik)

Ritual Pembacaan Tanda

Ki Kusumo datang menjelang magrib. Dengan dupa kemenyan dan tongkat kayu, ia melakukan ritual membaca tanda di tengah lapangan desa. Angin tiba-tiba turun dari puncak gunung, dingin sampai menusuk tulang.

Setelah sekian lama hening, Ki Kusumo membuka mata dan berkata bahwa para gadis tidak hilang secara gaib, dan bukan korban hewan buas.

Mereka diambil sebagai tumbal pesugihan oleh seseorang yang memanfaatkan kekuatan gunung. Orang luar, begitu kata Ki Kusumo.

Warga kaget. Kepala desa Parno mempercayainya begitu saja. Mereka hanya bisa berharap Ki Kusumo bisa menghentikan kejadian itu.

Namun tahun demi tahun berlalu tanpa perubahan. Bahkan semakin banyak gadis hilang, hingga jumlahnya mencapai 17 orang. Nah alasan “orang luar” mulai terdengar makin tidak masuk akal.

Kecurigaan Baru

Masuk tahun 1977, Pager Wetan tampak lebih modern. Rumah-rumah sudah diterangi listrik. Tapi ketakutan tetap tidak hilang. Hilangnya gadis desa menjadi tradisi gelap yang tidak pernah berhenti.

Kirman, seorang warga yang sering keluar-masuk hutan, mulai curiga. Tidak pernah ada tanda kedatangan orang asing ke desa yang jalannya hanya satu dan selalu sepi. Ia juga sering melihat murid-murid Ki Kusumo keluar malam membawa kantong besar tanpa penjelasan.

Suatu malam, Kirman mendengar percakapan dari dalam pendopo Ki Kusumo. Kata-kata itu membuat seluruh tubuhnya gemetar. Satu gadis harus diambil sebelum fajar.

Perjanjian Kelam Kuncen

Kirman mengintip melalui celah dinding kayu. Di dalam, Kikusumo duduk bersama para muridnya. Mereka membicarakan tumbal yang sudah berjalan puluhan tahun.

Bukan untuk orang luar. Bukan karena ancaman makhluk gunung. Perjanjian itu dibuat oleh Kikusumo sendiri.

Ritual itu, tumbal itu, semuanya dilakukan agar desa diberi keselamatan dari letusan besar yang dulu pernah mengancam mereka. Semeru dianggap “menuntut” imbalan, dan Kikusumo menjadi perantaranya.

Kirman terpaku. Ia sadar bahwa seluruh desa telah hidup dalam kebohongan selama puluhan tahun.

Nah yang paling menyakitkan, para warga percaya dan menyerahkan nasib mereka pada seorang penjaga desa yang justru menjadi pelakunya.

Baca juga: Kisah Mistis Gunung Dempo: Rahasia Pak Sungai dan Manusia Harimau si Penunggu yang Menyeramkan

Ilustrasi Pager Wetan di Lereng Gunung Semeru. (Foto: Freepik @Freepik)

Keesokan harinya, Kirman memberanikan diri menghadap Kepala Desa Parno. Wajahnya pucat, suaranya bergetar saat menceritakan apa yang ia lihat.

Kepala desa awalnya tidak percaya, tetapi ketika murid-murid Kikusumo mencoba kabur dari desa, semuanya berubah.

Malam itu warga berkumpul, membawa obor dan memaksa membuka pendopo Ki Kusumo. Pendopo itu kosong.

Tidak ada Ki Kusumo, tidak ada murid-muridnya.Hanya lantai kayu yang penuh bekas telapak kaki yang menuju arah hutan. Jejak itu berakhir di kaki Semeru. Setelah itu hilang begitu saja.

Sejak malam itu, tidak ada lagi tumbal. Tidak ada lagi gadis hilang. Tidak ada lagi suara gemuruh ganjil yang turun dari gunung setiap setahun sekali.

Beberapa orang bilang Kikusumo telah memberi dirinya sendiri sebagai tumbal terakhir. Ada juga yang yakin ia dibawa penjaga gunung karena melanggar batas-batas yang tidak boleh dilewati manusia.

Namun yang pasti, Desa Pagerwetan akhirnya bisa bernapas lega setelah puluhan tahun dipenuhi ketakutan.

Angin Semeru masih dingin, tapi tidak lagi membawa pesan mencekam. Nah cerita tentang Pager Wetan kini menjadi peringatan bahwa manusia kadang jauh lebih menakutkan daripada makhluk apa pun yang hidup di gunung.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU