INDOZONE.ID - Malam itu, empat pendaki muda, Raka, Dimas, Ari, dan Nando, berangkat menuju puncak gunung buat ngejar sunrise.
Awalnya semua berjalan normal, jalurnya jelas, cuaca bersahabat, dan mereka masih semangat meski udara mulai dingin.
Tapi semua berubah ketika mereka memutuskan ambil jalur kiri yang katanya lebih cepat.
Dari sinilah perjalanan mereka berubah jadi pengalaman yang nggak bakal mereka lupain seumur hidup.
Yuk simak kisah mistis warung iblis dilansir dari YouTube @Prasodjo Muhammad selengkapnya!
Baca juga: Kisah Mistis Gunung Sadakeling: Gunung Angker yang Dijaga Macan Hitam, Ular Gaib, dan Batu Hidup
Jalur yang Mulai Aneh
Awalnya jalur itu masih terlihat biasa. Tapi makin jauh mereka masuk, suasananya berubah. Pohon-pohonnya tinggi, gelap, dan seperti ngarahin mereka ke satu titik.
Angin berhenti, suara hutan lenyap. Raka sempat nyeletuk, “Kok seperti beda ya jalurnya?” Tapi yang lain cuma nyengir, sok pede bilang ini jalur alternatif yang jarang dilewati orang.
Baru beberapa menit kemudian, lampu senter mereka seperti kedip-kedip sendiri. Dimas mulai panik karena HP-nya juga tiba-tiba mati.
Tapi sebelum ketakutan itu tumbuh lebih besar, mereka ngeliat cahaya kecil di depan, seperti lampu warung.
Bertemu Warung Mak Ina
Di tengah gelap dan dinginnya malam, warung kecil itu rasanya seperti oasis. Bangunannya dari papan kayu tua, lampunya cuma minyak tanah, dan di meja sederhana ada termos besar serta panci yang masih ngebul. Aroma kopi dan rebusan jahe langsung nyambut mereka.
Seorang nenek tua keluar dari balik tirai. Rambut putihnya dicepol, wajahnya keriput tapi bersih, senyumnya ramah, terlalu ramah. “Mas-mas, istirahat dulu. Capek, ya?”
Mereka duduk, pesen minum, dan baru sadar kalau suasananya janggal. Warungnya dingin tapi nggak ada angin. Suaranya terlalu sunyi. Nah mata Mak Ina seperti seolah terus ngikutin setiap gerak mereka.
Wakty mereka pamit mau lanjut naik, Mak Ina cuma bilang pelan,
“Hati-hati kalau pulang. Jangan tinggalkan apa-apa.”
Kalimat itu awalnya cuma terdengar seperti nasihat biasa. Mereka nggak mikir aneh-aneh.
Baca juga: Kisah Mistis Gunung Dempo: Rahasia Pak Sungai dan Manusia Harimau si Penunggu yang Menyeramkan
HP Hilang dan Warung Menghilang
Pagi harinya Dimas sadar HP-nya hilang. Dia yakin banget dia naro HP itu di meja warung. Panik, mereka mutusin buat turun gunung dan balik ke jalur semalam buat cari. Empat-empatnya hafal betul lokasi warung itu. Nggak mungkin salah jalan.
Tapi begitu mereka sampai ke titik yang sama, warung itu nggak ada.
Nggak ada bangunan. Nggak ada teras kayu. Nggak ada bekas pijakan kaki.
Nggak ada tanah yang berubah warna karena sering dilewati orang.
Semuanya kosong. Hutan murni Seolah warung itu nggak pernah eksis.
Raka mulai pucat. Ari ngecek GPS beberapa kali. Nando sampai nyeletuk, “Kita ngehalu bareng-bareng?”
Tapi rasa dingin yang aneh langsung naik ke tengkuk mereka. Karena mereka semua mengingat wajah Mak Ina dengan detail.
Nah mereka ingat minuman yang mereka minum. Rasanya, aromanya, panasnya.
Terasa nyata.
Tanggapan Petugas: “Di Gunung Ini Nggak Ada Warung”
Sesampainya di basecamp, mereka tanya ke petugas. Salah satu bapak-bapak penjaga cuma nggeleng pelan sambil nunjuk arah gunung.
“Dek… di jalur itu dari dulu nggak pernah ada warung. Apalagi ada nenek-nenek jualan.”
Jawaban itu bikin badan mereka merinding semua. Raka cuma bisa menelan ludah. Nah Dimas makin pucat karena sadar bahwa yang semalam terjadi itu tidak masuk akal.
Nah yang mereka tinggalkan semalam bukan cuma HP. Tapi sesuatu yang lebih penting yaitu jejak mereka.
Pesan yang Tertinggal
Sejak hari itu, setiap mereka ngobrolin kejadian itu, selalu ada bau kemenyan samar yang muncul entah dari mana.
Raka bahkan sempat mimpi ketemu Mak Ina lagi, duduk di warung misterius yang sama, dengan senyum lebar yang pelan-pelan berubah aneh.
“Mas… jangan tinggalkan apa-apa, ya.”
Kalimatnya selalu sama. Nada suaranya selalu sama. Tatapannya, selalu bikin napas berhenti.
Baca juga: Kisah Mistis Pasar Bubrah Gunung Merapi: Pusat Jualan Para Makhluk Halus!
Sampai sekarang, mereka masih nggak tahu apakah Mak Ina itu penunggu jalur, penjaga gunung, atau sosok yang “meminjam wujud” biar mereka nggak ketakutan.
Nah yang jelas, ada satu hal yang mereka pahami setelah kejadian itu, di gunung, manusia cuma tamu dan kadang, tamu bisa aja disamperin tuan rumah yang wujudnya tidak selalu seperti yang kita bayangkan.
Warungnya mungkin hilang. HP-nya mungkin nggak ketemu. Tapi pengalaman itu tetap melekat dan mereka yakin, apa pun yang mereka temui malam itu tidak datang dari dunia kita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube