Bayang-bayang Maut di Tanah Deli: Kisah Wabah yang Renggut Nyawa Buruh dan Masyarakat Sumatera Timur
INDOZONE.ID - Sumatera merupakan salah satu pulau yang penting dalam perkembangan perekonomian Hindia Belanda, salah satunya adalah di wilayah Sumatera Timur.
Kurang dari satu abad wilayah ini berkembang pesat yang awalnya hutan belantara menjadi perkebunan yang besar.
Perkebunan tembakau menjadi salah satu sektor yang mengubah segala kondisi di Sumatera Timur, seperti kondisi ekonomi, sosial, politik, dan budaya.
Eksploitasi besar-besaran dilakukan disana yang mencakup pembukaan lahan-lahan hutan, penanaman tanaman komoditas, mengalirnya investasi swasta dalam jumlah besar, serta masuknya tenaga kerja dari luar wilayah.
Baca Juga: Mengulik Lebih Dalam Makna Simbolik dari Tradisi Jembul Tulakan
Pembukaan lahan-lahan hutan untuk perkebunan ini diawali oleh seorang Belanda yang bernama Nienhuys pada 1863 di wilayah Deli. Kawasan ini menjadi perkebunan yang berkembang makmur dan besar.
Komoditas yang sangat terkenalnya adalah tembakau, yang sering kali disebut dengan “Tembakau Deli”.
Tanahnya yang subur menghasilkan banyak hasil perkebunan yang dapat diekspor seperti tembakau, kelapa, karet, padi, kopi, kelapa sawit, teh, tebu, dan lainnya.
Hal tersebut menjadikan banyak para pengusaha-pengusaha asing mulai menanamkan kekuasaannya di Sumatera Timur, termasuk Belanda.
Baca Juga: Mengungkap Misteri Hewan Chupacabra di Situbondo, Beneran Nyata?
Karena lahan yang akan digarap sangat luas, maka mereka membutuhkan banyak buruh yang bukan hanya berasal dari rakyat pribumi saja, melainkan juga buruh pendatang dari China maupun Arab.
Pertumbuhan penduduk pada masa itu juga berkembang sangat pesat. Eksploitasi besar-besaran yang terjadi di sana secara tak langsung juga menebarkan bibit penyakit yang dibawa oleh para buruh asing tersebut.
Kondisi kesehatan masyarakat dan juga buruh perkebunan mengalami kondisi yang sangat memperhatinkan, karena adanya eksploitasi besar-besaran dari pemerintah Hindia Belanda.
Maraknya pelacuran dan juga perdagangan wanita atau prostitusi mengakibatkan mereka mengalami penyakit kelamin yaitu sifilis.
Faktor yang menjadi alasan maraknya kegiatan pelacuran dan prostitusi yang pertama adalah adanya izin yang dikeluarkan oleh pemilik perkebunan, yang kedua adalah karena jumlah perempuan di perkebunan sedikit dibanding laki-laki.
Beberapa faktor yang menyebabkan jumlah perempuan lebih sedikit di perkebunan yaitu pada awal pembukaan perkebunan sempat ada larangan untuk membawa istri dan perempuan bagi para petugas dan diperbolehkan menikah sesudah berdinas selama 6 tahun diperkebunan, karena dianggap menggangu pengembangan perkebunan.
Hal ini menyebabkan kekurangan perempuan Eropa dan terjadinya ikatan antara lelaki Eropa dengann wanita pribumi yang jarang ke jenjang pernikahan dan hanya sebatas memenuhi kebutuhan seksual hal ini disebut juga kepada pergundikan.
Maraknya wabah kolera juga terjadi di Sumatera Timur, yang disebabkan oleh kuli-kuli yang berasal dari China.
Penyakit kolera sendiri merupakan penyakit yang menular dan disebabkan oleh bakteri yang mengganggu sistem pencernaan. Di daerah ini akses air bersih terbatas sehingga menyebabkan penyakit tersebut menyebar dengan cepat.
Pada tahun 1884 penyakit kolera kembali menyebar terutama di Langkat. Dalam catatan laporan tahunan Deli Maschappij 1869-1919 oleh Herbert Cremer Directeur Deli Maatschappij mensurvei pada tahun 1876 mengenai kesehatan yaitu 1.418 kuli dirawat dirumah sakit, diantaranya 1.124 pulih dan 203 meninggal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal