Sabtu, 29 MARET 2025 • 17:30 WIB

Sompret Melajoe: Pena jurnalistik dalam Kisruh Kolonialisme

Author

Jika berbincang mengenai pers, mari kita sambut Bataviase Nouvelles, surat kabar pertama di Hindia Belanda yang muncul pada tahun 1744.

INDOZONE.ID - Pernahkah kamu bertanya, mengapa pers menjadi penting di era pergerakan nasional? Bercinta, berpadu, atau pun bergulat dengan birokrasi yang kian menjerat, sementara rakyat mencengkeram erat harapan untuk mendapat demokrat?

Bernostalgia bagaimana pembredelan pers dan jurnalisme merupakan hal wajar di masa lalu memberi petunjuk jelas bahwa pers membawa dampak besar bagi pembentukan pola pikir masyarakat dan ketakutan penguasa gemuk akan suatu pergerakan.

Jika berbincang mengenai pers, mari kita sambut Bataviase Nouvelles, surat kabar pertama di Hindia Belanda yang muncul pada tahun 1744.

Bataviase Nouvelles membawa redaksi realitas perdagangan yang dianggap mengancam keberadaan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) dan akhirnya dinonaktifkan tahun 1746.

Baca Juga: Kisah Kelam di Tanah Deli, Menguak Kehidupan Para Kuli Tembakau

Beranjak dari pers tersebut, lahir berbagai jenis pers berbahasa Belanda yang memuat kepentingan ekonomi di Hindia Belanda yang tentunya diawasi oleh pemerintah kolonial.

Pada masa ini, pers didominasi oleh orang-orang Eropa dan China, keterlibatan kaum bumiputra terbilang nihil. Pada masa ini disebut sebagai “Babak Putih Sejarah Pers Indonesia” atas kenihilan partisipasi kaum Bumiputra.

Sebagian mungkin bertanya, apa itu pers Bumiputra? Pers Bumiputra merupakan pers yang dikelola oleh kaum Bumiputra untuk kepentingan pribumi sendiri yang penulisannya menggunakan Bahasa Melayu atau bahasa daerah setempat.

Pers Bumiputra haruslah milik pribumi itu sendiri, bukan pers yang diterbitkan pemerintah Kolonial berbahasa daerah.

Baca Juga: Misteri Tali Pocong Penglaris: Kisah di Balik Warung yang Ramai tapi Bikin Merinding

Surat kabar Bromartani menjadi salah satu pemantik lahirnya Slompret Melajoe. Bromartani diterbitkan di Surakarta pada tahun 1855 oleh C.F Winter dan putranya berbahasa kromo inggil.

Setahun setelahnya (1856), Soerat Kabar Slompret Melajoe lahir di Surabaya menggunakan Bahasa Melayu yang berorientasi pada informasi komersial pedagang di Jawa Timur. Slompret Melajoe juga berkembang di wilayah Jawa Tengah, khususnya Semarang.

Surat kabar hasil peranakan komunitas Tionghoa ini membawa kompleksitas isu sosial-politik yang diusung oleh pemerintah Kolonial, dan juga dinamika sosial masyarakat pribumi-Tionghoa.

Slompret Melajoe yang awalnya mewartakan iklan dan laporan bisnis pedagang Tionghoa, kian menjadi salah satu media yang cukup vokal dan berani untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan kelompok masyarakat Tionghoa dan pribumi.

Slompret Melajoe seringkali dianggap sebagai ancaman pemerintah kolonial sebab menimbulkan sikap kritis di kalangan masyarakat pribumi. Hal ini menunjukkan bahwa selain sebagai instrumen ekonomi yang memperkuat jaringan, pers juga jembatan penyampaian ideologi.

Selain sebagai media informasi, Slompret Melajoe pun menjadi wadah sastra cetak. Sastra Melayu yang pada mulanya bersifat tradisi beralih menjadi bentuk cetak seiring dengan meningkatnya jumlah penerbitan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur saat itu.

Dalam berbagai edisi Slompret Melajoe, beberapa memuat cerita pendek, syair, dan alih bahasa karya-karya asing. Konten-konten yang dimuat pada surat kabar tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik pembaca untuk kritis.

Tentunya sebagai media yang cukup vokal, Slompret Melajoe mendapat pengawasan yang ketat terkait isi pemberitaan yang dimuat.

Untuk mengakali tekanan tersebut, Slompret Melajoe menerapkan strategi penulisan cermat dengan Bahasa yang persuasive sehingga dapat bertahan di masa-masa sulit dan menjadi media yang cukup berpengaruh pada masanya.

Dengan demikian, Slompret Melajoe menjadi media cetak yang berperan penting dalam membangun identitas dan kesadaran nasional bangsa Indonesia di masa penjajahan.


Banner Z Creators Undip.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Bihari: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Ilmu Sejarah

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU