Senin, 20 JANUARI 2025 • 10:52 WIB

Sejarah Imlek dan Legenda di Balik Perayaannya: Ada Makna, Tradisi, serta Keunikan

Author

Ilustrasi Imlek. (Chinesenewyear)

INDOZONE.ID - Imlek atau yang sering disebut Tahun Baru China, adalah salah satu perayaan paling penting bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. 

Selain dikenal dengan tradisi penuh warna seperti dekorasi merah, petasan, dan makanan khas, Imlek juga memiliki sejarah panjang yang berakar pada kepercayaan, legenda, dan budaya agraris masyarakat Tionghoa.  

Baca Juga: 10 Fakta dan Mitos Seputar Imlek: Yuk Pahami Tradisi dengan Bijak!

Asal Usul Istilah Imlek

Kata Imlek berasal dari dialek Hokkian, "Im" yang berarti bulan, dan "Le" yang berarti penanggalan.

Jika digabungkan, Imlek berarti "kalender bulan."

Dalam bahasa Mandarin, Imlek disebut Chun Jie, yang berarti "festival musim semi." 

Pada mulanya sejarah Imlek identik dengan, perayaan dalam bentuk sukacita menyambut musim semi, yang menandai berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim tanam baru.  

Musim semi dianggap sangat penting karena menjadi awal dari kehidupan baru, ketika masyarakat agraris mulai bercocok tanam setelah melewati musim dingin yang sulit. 

Oleh sebab itu, Imlek dirayakan dengan harapan kemakmuran, kebahagiaan, dan keberuntungan bagi tahun yang akan datang.  

Legenda Nian: Monster yang Melahirkan Tradisi Merah dan Petasan

Salah satu legenda Imlek terkenal yang melatarbelakangi perayaan Imlek adalah kisah tentang monster bernama Nian. 

Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa kuno, Nian adalah makhluk buas yang hidup di dasar laut. 

Setiap malam tahun baru, Nian muncul ke permukaan untuk memangsa manusia dan hewan.  

Karena takut akan ancaman Nian, penduduk desa selalu mengungsi ke pegunungan setiap malam tahun baru. 

Namun, suatu hari seorang pria tua pemberani dengan rambut putih dan kulit kemerahan memutuskan untuk melawan Nian. 

Ia menggunakan berbagai cara, seperti menempelkan kertas merah di pintu rumah, menyalakan lilin, memakai pakaian merah, dan membakar batang bambu yang menciptakan suara retakan keras (nenek moyang petasan).  

Ajaibnya, Nian merasa takut dengan warna merah, cahaya terang, dan suara bising, lalu melarikan diri. 

Sejak saat itu, penduduk desa mengadopsi tradisi memasang dekorasi merah, menyalakan petasan, dan memasang lentera untuk mengusir energi buruk. 

Warna merah pun menjadi simbol keberuntungan hingga hari ini.  

Baca Juga: Imlek Identik dengan Hujan: Mitos atau Fakta?

Ilustrasi Tahun Baru Imlek. (Photo/Ilustrasi/Wallpaperboat)

Tradisi Angpau: Perlindungan dari Hantu Sui

Selain legenda Nian, Imlek juga memiliki kisah lain yang melahirkan tradisi angpau, yaitu amplop merah berisi uang. 

Konon, ada hantu bernama Sui yang muncul setiap malam tahun baru untuk menakut-nakuti anak-anak. 

Jika hantu ini menyentuh seorang anak, mereka akan mengalami demam tinggi dan kehilangan suara.  

Dalam sebuah cerita, seorang pejabat memberikan delapan koin logam kepada anaknya untuk menjaga agar tetap terjaga sepanjang malam. 

Koin tersebut dibungkus dengan kertas merah dan disimpan di bawah bantal anaknya. 

Ketika hantu Sui mendekat, koin tersebut memancarkan cahaya terang yang menakutkan hantu itu.  

Sejak saat itu, masyarakat percaya bahwa uang yang dibungkus dalam amplop merah dapat melindungi anak-anak dari energi buruk. 

Tradisi ini terus berlanjut, dan angpau kini menjadi simbol berkah dan harapan baik bagi penerimanya.  

Bait Sajak Musim Semi: Tradisi Berusia Ribuan Tahun

Dekorasi merah dengan tulisan kaligrafi China yang menghiasi pintu rumah selama Imlek dikenal sebagai bait sajak musim semi atau chunlian.

Tradisi Imlek ini berawal dari Dinasti Song, ketika masyarakat mulai menggantungkan kayu persik yang bertuliskan nama pengawal dunia hantu, yaitu Shentu dan Yulei. 

Kayu ini dipercaya mampu mengusir roh jahat.  

Seiring waktu, kayu persik digantikan oleh kertas merah yang melambangkan keberuntungan.

Tulisan pada kertas ini berupa puisi pendek berisi doa, harapan, dan keberuntungan untuk tahun yang akan datang. 

Tradisi Imlek ini bertahan hingga kini dan menjadi salah satu elemen penting dalam perayaan Imlek.  

Baca Juga: Sejarah dan Makna Cap Go Meh: Merayakan Akhir Perayaan Imlek dengan Kemeriahan

Rangkaian Perayaan Imlek  

Dilansir dari YouTube @Daftar Populer, Imlek dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dalam kalender China dengan ritual sembahyang kepada leluhur dan Tuhan (Tian). 

Perayaan berlangsung selama 15 hari dan diakhiri dengan Cap Go Meh, sebagai wujud syukur dan harapan akan tahun yang penuh berkah.  

Selain itu, ada dongeng terkenal tentang balapan 12 hewan yang menjadi dasar penamaan shio dalam kalender China. 

Kisah ini sering diceritakan kepada anak-anak untuk memperkenalkan makna tahun kelahiran mereka.  

Ilustrasi Imlek. (Chinesenewyear)

Imlek bukan sekadar perayaan tahun baru, tetapi juga cerminan kekayaan budaya dan tradisi yang telah diwariskan selama ribuan tahun. 

Dari legenda Nian dan Sui hingga bait sajak musim semi, setiap elemen Imlek memiliki makna mendalam yang mengajarkan nilai keberanian, harapan, dan kebahagiaan.  

Pada Imlek 2025 ini, yuk kita rayakan dengan semangat kebersamaan, saling berbagi berkah, dan menjaga tradisi yang penuh makna. 

Semoga tahun baru membawa keberuntungan dan kebahagiaan bagi semua!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU