INDOZONE.ID - Selama abad ke-20, banyak tokoh-tokoh pemimpin, maupun politikus di dunia yang memimpin bangsa nya. Namun, ketika sebuah bangsa mengalami keadaan sulit, dengan berbagai alasan seperti peperangan maupun revolusi, terkadang tokoh-tokoh ini pada akhirnya mengkhianati bangsa mereka sendiri.
Seiring perjalanan sejarah, banyak dari tokoh-tokoh ini berkhianat dengan berbagai alasan, dan kejadian ini tidak hanya terjadi di Eropa maupun Asia, bahkan hal ini juga terjadi di Indonesia.
Lalu, bagaimana kisah mereka? Apa yang terjadi kepada tokoh-tokoh tersebut setelah mereka berkhianat?
1. Vidkun Quisling
Lahir pada tahun 1887, Vidkun Quisling merupakan seorang politikus Norwegia yang mengkhianati negaranya dengan membantu Nazi Jerman dalam menaklukan Norwegia pada Perang Dunia Kedua.
Baca Juga: Tebing Tarpeian, Tempat Para Pengkhianat Romawi Dilemparkan sebagai Eksekusi Mati
Sebagai seorang politikus yang anti-komunisme, Quisling mendirikan partai fasis di Norwegia, Nasjonal Samling mengikuti ajaran fasisme Italia dan Jerman dengan tujuan menghapuskan komunisme dan serikat pekerja. Namun, suara partainya tidak pernah lolos ke parlemen Norwegia.
Karena kejadian tersebut, Quisling akhirnya bekerjasama dengan Nazi Jerman dalam menaklukan Norwegia. Jerman memilih menaklukan Norwegia pada tahun 1940 dikarenakan posisi Norwegia yang strategis bagi Jerman, sehingga dengan bantuan Quisling, Jerman berhasil menaklukan Norwegia.
Quisling pada akhirnya menjadi pimpinan boneka Norwegia yang dikendalikan Jerman, kebijakan nya dalam mengirimkan 1.000 Yahudi Norwegia, dan mengubah ajaran gereja menjadi Nazisme membuatnya tidak populer dengan rakyat Norwegia, bahkan rakyat Norwegia banyak yang menentangnya.
Nasib sial menimpa Quisling pasca pembebasan Norwegia oleh sekutu pada Mei 1945, Ia ditangkap dan dinyatakan bersalah atas pengkhianatan dan kejahatan lainnya, lalu dieksekusi. Kini, di Norwegia namanya diasosiasikan dengan kata yang sinonim dengan arti pengkhianatan.
Baca Juga: Benedict Arnold: dari Pahlawan Revolusi ke Pengkhianat Terbesar dalam Sejarah Amerika Serikat!
2. Anton Mussert
Memiliki sebutan “Leider” atau Sang Pemimpin, Anton Mussert yang lahir pada tahun 1894 pada awalnya adalah seorang sukarelawan tentara Belanda, namun tidak bertahan lama karena faktor kesehatan sehingga dia melanjutkan karirnya di Departemen Pekerjaan Air Provinsi Utrecht sebelum pada nantinya dipecat karena kegiatan politiknya.
Aktivitas politiknya sebagai politisi sayap kanan dimulai pada tahun 1931 dengan mendirikan partai NSB (Nationaal-Socialistische Beweging). Namun, seiring perkembangan waktu popularitas partainya tidak setinggi di awal berdirinya, hal ini menyebabkan Mussert memilih sikap netralitas bagi Belanda yang bersimpati dengan Nazi Jerman dengan harapan dapat menjadi pemimpin Belanda dibawah pengaruh Jerman.
Setelah Jerman menginvasi Belanda pada tahun 1940, partai NSB berkolaborasi dengan Jerman dalam membantu setiap agenda Jerman di Belanda. Hal ini mengakibatkan rakyat Belanda benci dan melihat Mussert sebagai pengkhianat karena menjual Belanda kepada Jerman.
Dilain sisi, Mussert menjadi pimpinan boneka Jerman selama Jerman menguasai Belanda, seiring dengan kekalahan Jerman dan sekutu yang terlahan memasuki wilayah Belanda, Ia ditangkap oleh Pasukan Pembebasan Belanda yang datang bersama sekutu pada 7 Mei 1945. Ia akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh regu tembak pada tanggal 7 Mei 1946 di daerah sekitar The Hague.
3. Wang Jingwei
Dikenal sebagai salah satu Politikus Tiongkok yang dikenal, Wang Jingwei lahir pada tahun 1883 di Provinsi Guangdong ini dalam sejarah Tiongkok dikenal sebagai Hanjian atau pengkhianat oleh Bangsa Tiongkok.
Wang mulai berkarir dalam politik saat Ia bergabung dengan gerakan revolusioner yang didirikan oleh Sun Yat-sen yang berhasil menggulingkan Dinasti Qing dan mendirikan Republik Tiongkok pada tahun 1911. Ia sempat ditangkap dan dipenjara oleh Pemerintah Dinasti Qing karena berencana membunuh Adipati Dinasti Qing, namun Revolusi Tiongkok 1911 membuat dirinya dibebaskan dari penjara.
Pasca bebas dari penjara Ia menjadi asisten personal dari Sun Yat-Sen dan Kuomintang hingga Sun Yat-Sen wafat pada tahun 1925. Sempat menjadi ketua pemerintahan menggantikan Sun Yat-Sen, namun Ia tersingkir oleh Chiang Kai Shek yang lebih berpengaruh, sempat memberontak melawan Chiang, namun pada tahun 1927 Wang Jingwei kalah.
Baca Juga: Kisah Tragis Marie Antoinette, Ratu Cantik di Balik Revolusi Prancis
Pada akhirnya, terjadi kompromi politik antara Chiang dan Wang Jingwei tentang kepemimpinan keduanya di Kuomintang dan pemerintahan nasional, namun tetap karir politik Wang Jingwei di Kuomintang mulai memudar seiring kuatnya pengaruh Chiang.
Pada akhirnya, keadaan ini membuat Wang membelot dan mendukung pihak Jepang dalam perang Tiongkok-Jepang Kedua pada tahun 1937, dimana pada akhirnya Ia memimpin sebuah pemerintahan boneka Tiongkok dalam pengaruh Jepang di Nanking pada tahun 1940.
Wang Jingwei yang berkolaborasi dengan Jepang ini mendapat nasib yang lebih baik daripada para pengkhianat sebelumnya, beliau wafat pada November 1944 dikarenakan luka yang dideritanya karena upaya pembunuhan yang terjadi pada tahun 1939, awalnya dia dimakamkan bersama disamping makam Sun Yat-Sen.
Namun karena kekalahan Jepang, dan pengkhianatan yang dilakukan oleh Wang, maka pemerintahan Chiang yang bekerjasama dengan sekutu menghancurkan makam Wang dan mengkremasi mayat Wang. Nama Wang Jingwei dikenal dalam sejarah sebagai kata pengganti untuk “pengkhianat”, khususnya di dataran Tiongkok.
4. Abdulkadir Widjojoatmodjo
17 Agustus 1945, Indonesia meraih kemerdekaan yang diiringi semangat terbebas dari penjajahan Belanda. Namun, tidak semua orang memiliki sifat yang sama, bahkan ada yang bekerjasama dengan Belanda untuk melawan Indonesia pasca kemerdekaannya.
Baca Juga: Nasib Jennifer Levin: Dituduh Masokis saat Berhubungan Intim di Taman sebelum Dibunuh
Abdulkadir Widjojoatmodjo namanya, seorang petinggi kelahiran Salatiga tahun 1904 ini pernah menjadi Konsulat Belanda di Jeddah, Ia bergabung dan jadi petinggi pemerintahan sementara Hindia Belanda (NICA) dengan pangkat kolonel, walaupun dirinya hanya menjabat sebagai pegawai sipil.
Dan sejak saat itulah, Ia memilih setia sebagai pegawai negeri Belanda sebagai pejabat NICA ketika Republik Indonesia diproklamasikan, hal ini dikarenakan kariernya di dalam NICA terus berkembang pesat, sehingga Ia setia dengan Belanda bersama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru, Van Mook daripada bergabung dengan Republik Indonesia.
Berakhirnya penjajahan Belanda di Indonesia pada akhir tahun 1949 tidak membuatnya khawatir, pengajuan mundurnya yang diajukan setelah pada tahun 1948 Van Mook dipaksa mundur oleh Kabinet Belanda, Ia tinggal di Indonesia dengan keadaan sulit selama 17 tahun karena kelelahan dan kesakitan.
Namun pada akhirnya, Ia pindah ke Belanda, dan menghabiskan masa-masa tuanya disana, Ia meninggal mendadak di Belanda pada 24 Desember 1992 di usia 89 tahun, tanpa mengalami sebuah keadilan atas tindakannya yang mendukung Belanda untuk kembali menguasai wilayah jajahannya pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia.
Namun, di lain sisi Ia dipuji oleh kawan-kawan Belanda sejawatnya sebagai “seorang diplomat yang terampil, kepribadian yang karismatik, sopan dan menarik, sangat patuh dan tepat waktu, halus dan berani secara mental dan fisik.
Nah itulah beberapa kisah dan nasib para pengkhianat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Britannica, Jurnal