Minggu, 24 MEI 2026 • 13:40 WIB

Rahasia di Balik Istilah "Sewu" pada Bangunan Bersejarah di Jawa

Author

Candi Prambanan. (Wikipedia)

INDOZONE.ID - Candi Prambanan selama ini dikenal luas melalui legenda Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang yang menceritakan pembangunan 1.000 candi dalam satu malam. 

Dalam kisah tersebut, Bandung Bondowoso diminta membangun seribu candi sebagai syarat untuk mempersunting Roro Jonggrang. 

Namun, usaha itu disebut gagal karena hanya berhasil menyelesaikan 999 candi sebelum akhirnya Roro Jonggrang dikutuk menjadi arca batu. 

Legenda tersebut sudah sangat melekat di masyarakat dan menjadi cerita turun-temurun yang identik dengan kompleks Candi Prambanan.

Baca juga: Daftar Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno: Candi dan Prasasti

Meski demikian, fakta sejarah menunjukkan jumlah candi di kompleks Prambanan sebenarnya tidak mencapai seribu. 

Berdasarkan data arkeologis, total bangunan candi di kawasan tersebut hanya sekitar 240 candi.

Selain itu, pembangunan Candi Prambanan juga bukan dilakukan oleh Bandung Bondowoso seperti dalam legenda, melainkan oleh Rakai Pikatan, raja dari Wangsa Sanjaya yang memimpin Kerajaan Mataram Kuno sekitar tahun 850 Masehi.

Wangsa Sanjaya merupakan dinasti yang berkuasa di Mataram Kuno. Nama Sanjaya berasal dari tokoh pendiri kerajaan tersebut. 

Dalam sejarah, Rakai Pikatan dikenal sebagai penguasa yang membangun kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia itu sebagai simbol kejayaan kerajaan dan penghormatan kepada Trimurti, yakni Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Mengapa Prambanan sering Dikaitkan dengan Istilah "Seribu Candi"? 

Dalam budaya Jawa kuno, kata “sewu” atau seribu tidak selalu dimaknai secara harfiah sebagai angka pasti. Istilah tersebut kerap digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang jumlahnya sangat banyak, sulit dihitung, atau memiliki kesan megah dan sakral. 

Penggunaan kata tersebut mirip dengan gaya bahasa hiperbola yang dipakai untuk memberikan penekanan tertentu.

Fenomena serupa juga terlihat pada Candi Sewu yang berada tidak jauh dari kawasan Prambanan. Meski namanya berarti “seribu candi”, jumlah bangunan di kompleks tersebut sebenarnya hanya sekitar 249 candi. 

Banyak masyarakat kemudian menghubungkan Candi Sewu dengan legenda Bandung Bondowoso karena lokasinya berdekatan dengan Prambanan. 

Namun secara historis, jumlah candinya tetap tidak pernah mencapai seribu.

Pembangunan kompleks candi pada masa Mataram Kuno memang memerlukan waktu yang sangat lama, bahkan bisa berlangsung selama puluhan tahun. 

Para sejarawan memperkirakan proses pembangunan candi besar seperti Prambanan dapat memakan waktu sekitar 50 hingga 100 tahun. 

Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan candi pada masa itu merupakan proyek besar kerajaan yang melibatkan banyak tenaga kerja, sumber daya, dan proses bertahap.

Penggunaan Istilah "Sewu" pada Lawang Sewu di Semarang

Lawang Sewu. (Z Creators/Umaera)

Penggunaan istilah “sewu” ternyata tidak hanya ditemukan pada kompleks candi. Salah satu contoh lain adalah Lawang Sewu di Semarang. 

Bangunan peninggalan Belanda tersebut dikenal sebagai “seribu pintu”, padahal jumlah pintu dan bukaan yang dimiliki sebenarnya sekitar 929. 

Banyaknya pintu dan jendela besar pada bangunan itu dibuat untuk menciptakan sirkulasi udara yang baik agar ruangan tetap sejuk di tengah iklim tropis Indonesia.

Dalam filosofi masyarakat Jawa, kata “sewu” lebih dipahami sebagai simbol kelimpahan, keagungan, dan kesempurnaan daripada sekadar angka matematis. 

Baca juga: Peninggalan Sriwijaya: Prasasti, Candi, dan Jejak Sejarahnya

Karena itu, bangunan atau tempat yang dianggap luar biasa sering diberi nama dengan unsur “sewu” untuk memberikan kesan besar dan sakral.

Kesalahpahaman penamaan juga terjadi pada Candi Asu di Magelang. Nama “asu” yang berarti anjing muncul karena kondisi arca di kawasan candi tersebut sudah rusak dan terpotong-potong, sehingga bentuknya disalahartikan oleh masyarakat. 

Padahal, arca tersebut sebenarnya adalah Nandi, yakni lembu yang menjadi kendaraan Dewa Siwa dalam ajaran Hindu.

Berbagai fakta tersebut menunjukkan bahwa banyak nama bangunan bersejarah di Indonesia tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya secara harfiah. 

Di balik nama-nama tersebut terdapat unsur budaya, simbol, hingga interpretasi masyarakat yang berkembang dari generasi ke generasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube @risyadandson

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU