Rabu, 13 MEI 2026 • 09:23 WIB

Penyebab Punahnya Suku Aztec Akhirnya Terungkap Setelah Ratusan Tahun

Author

Ilustrasi suku aztec. (Gemini AI)

INDOZONE.ID - Lebih dari lima abad setelah peristiwa tersebut terjadi, para peneliti akhirnya menemukan dugaan kuat mengenai penyebab runtuhnya peradaban Aztec. 

Wabah penyakit yang dikenal dengan nama Cocoliztli diyakini menjadi faktor utama yang memicu kematian massal di wilayah Meksiko pada masa itu.

Peristiwa tersebut bermula sekitar tahun 1545 ketika masyarakat Aztec mulai terserang penyakit misterius dengan gejala berat, seperti demam tinggi, sakit kepala, hingga pendarahan pada mata, mulut, dan hidung. 

Kondisi penderita biasanya memburuk dengan sangat cepat, bahkan banyak korban meninggal hanya dalam hitungan beberapa hari setelah gejala muncul.

Baca juga: Fakta Sejarah Perang Diponegoro: Perlawanan Gerilya Sang Pangeran yang Bikin Belanda Bangkrut

Dalam kurun sekitar lima tahun, wabah itu menyebabkan jumlah penduduk menyusut drastis. Diperkirakan sekitar 15 juta orang atau hampir 80 persen populasi meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Biarawan Fransiskan bernama Fray Juan de Torquemada juga pernah mencatat bagaimana dahsyatnya wabah itu hingga menghancurkan kehidupan masyarakat dan peradaban pada masa tersebut.

"Demam itu menular, terasa membakar dan terus menerus. Lidah kering dan hitam. Rasa hausnya luar biasa. Urin berwarna hijau laut, hitam, kadang kehijauan menjadi pucat. Denyut nadi kadang cepat, kadang melemah," tuturnya.

Torquemada juga menggambarkan situasi mengerikan saat itu, ketika masyarakat terus menggali lubang besar sejak pagi hingga senja untuk menguburkan para korban. 

Hampir seluruh aktivitas warga kala itu hanya berkutat pada mengangkut jenazah dan memasukkannya ke dalam kuburan massal tersebut.

Masyarakat pada masa itu meyakini bencana tersebut dipicu oleh wabah penyakit misterius, meski belum ada yang mengetahui secara pasti jenis penyakit yang menyerang. 

Baru sekitar 500 tahun kemudian, para peneliti berhasil menemukan petunjuk mengenai penyebabnya melalui penelitian DNA yang diambil dari gigi para korban meninggal dunia.

"Penyebab epidemi ini telah lama diperdebatkan dan sekarang kita dapat memberikan bukti langsung melalui DNA," kata Åshild Vågene peneliti dari University of Tuebingen, Jerman.

Para peneliti menemukan petunjuk penting setelah memeriksa DNA dari 29 kerangka yang dimakamkan di area pemakaman korban wabah. 

Melalui metode analisis genetik modern bernama Meta Genome Analyzer Alignment Tool (MALT), mereka mendeteksi keberadaan bakteri Salmonella enterica pada sampel tersebut. Bakteri itu diketahui berkaitan dengan demam enterik yang memiliki gejala mirip tifus. 

Para ilmuwan menduga penyakit tersebut dibawa oleh pendatang Eropa yang datang ke wilayah Amerika pada masa kolonial. 

Masyarakat lokal yang sebelumnya belum pernah terpapar bakteri tersebut diyakini belum memiliki kekebalan tubuh yang memadai sehingga wabah menyebar dengan cepat.

Pada periode abad pertengahan, Salmonella enterica memang telah dikenal di Eropa dan dapat menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi, termasuk kemungkinan terbawa bersama hewan ternak maupun peliharaan milik para pendatang.

"Kami menguji semua bakteri patogen dan virus DNA yang data genomnya ada. Dan S. enterica adalah satu-satunya kuman yang terdeteksi," kata Alexander Herbig, peneliti lain yang terlibat dalam studi ini.

Lantas, meski ada patagon lain yang tidak terdeteksi atau sama sekali tidak diketahui, peneliti percaya S.enterica adalah kandidat kuat penyebab wabah.

Baca juga: Inilah 5 Fakta Menarik tentang Penguasa Romawi Kaisar Nero yang Jarang Diketahui

"Ini adalah kemajuan penting yang tersedia bagi periset penyakit kuno. Sekarang kita bisa mencari jejak molekuler dari banyak agen infeksi dalam catatan arkeologi yang sebelumnya penyebabnya tidak diketahui," kata Kirsten Bos, arkeolog sekaligus peneliti dalam studi ini.

Penjajah dari Eropa menyebarkan penyakit ini, membawa kuman dan memaparkannya kepada populasi lokal yang tidak pernah bertemu dan memiliki kekebalan terhadapnya, sementara Salmonella entericasendiri telah ada di Eropa pada abad pertengahan.

Banyak galur Salmonella yang menyebar luas lewat makanan atau air yang terinfeksi, atau juga terbawa dari hewan peliharaan orang-orang Eropa.

Lalu, meski ada patagon lain yang tidak terdeteksi atau sama sekali tidak diketahui, peneliti percaya S.enterica adalah kandidat kuat penyebab wabah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU