Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 08 FEBRUARI 2026 • 11:30 WIB

Kenapa Suku Kajang Selalu Pakai Serba Hitam? Ini Filosofi dan Tradisinya

Kenapa Suku Kajang Selalu Pakai Serba Hitam? Ini Filosofi dan TradisinyaIlustrasi Suku Kajang Ammatoa. (Freepik)

INDOZONE.ID - Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya dan komunitas adat. Salah satu komunitas adat yang masih memegang teguh tradisi leluhur adalah Suku Kajang Ammatoa yang berasal dari Sulawesi Selatan.

Komunitas ini menjadi sorotan karena identitas khas mereka, terutama kebiasaan mengenakan pakaian serba hitam dalam kehidupan sehari-hari.

Mengenal Suku Kajang Ammatoa

Suku Kajang Ammatoa merupakan salah satu komunitas adat tertua di Indonesia yang bermukim di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, sekitar 200 kilometer dari Kota Makassar. Kehidupan masyarakat Kajang sangat erat dengan adat istiadat yang diwariskan turun-temurun.

Baca juga: Dua Kebohongan Sains Terbesar dalam Sejarah: Kasus Tengkorak Piltdown dan Suku Tasaday

Secara umum, masyarakat Kajang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Kajang Dalam dan Kajang Luar. Kajang Dalam merupakan wilayah yang dianggap sakral sehingga masyarakatnya diwajibkan menjalankan hukum adat secara ketat.

Mereka hidup sederhana, tidak menggunakan alas kaki, serta menolak teknologi modern seperti listrik dan kendaraan bermotor.

Sementara itu, masyarakat Kajang Luar tinggal di sekitar kawasan adat. Mereka masih menghormati tradisi leluhur, tetapi diperbolehkan menggunakan teknologi modern dan berpakaian lebih bebas. 

Meski demikian, saat mengikuti upacara adat, mereka tetap diwajibkan mengenakan pakaian hitam sebagai simbol penghormatan terhadap tradisi.

Makna Filosofis Warna Hitam

Penggunaan pakaian hitam bukan sekadar identitas visual, melainkan memiliki filosofi mendalam. Bagi masyarakat Kajang Ammatoa, warna hitam melambangkan kesederhanaan dan penolakan terhadap kemewahan duniawi. Hitam dianggap sebagai warna alam yang paling dasar dan tidak mencolok.

Selain itu, keseragaman warna pakaian menciptakan rasa kesetaraan sosial. Tidak ada perbedaan mencolok antara orang kaya dan miskin, maupun antara pemimpin adat dan masyarakat biasa. Semua dipandang setara dalam kehidupan komunitas.

Warna hitam juga menjadi simbol keteguhan hati dalam menjaga adat istiadat dari pengaruh luar. Filosofi ini menunjukkan komitmen kuat masyarakat Kajang dalam mempertahankan identitas budaya mereka di tengah arus modernisasi.

Peran Ammatoa sebagai Pemimpin Adat

Pemimpin tertinggi masyarakat Kajang disebut Ammatoa. Uniknya, posisi ini tidak diwariskan berdasarkan garis keturunan. Ammatoa dipilih melalui proses musyawarah adat yang disertai ritual spiritual, dengan mempertimbangkan kemurnian hati, pengetahuan tentang pesan leluhur (pasang), serta kemampuan membaca tanda-tanda alam.

Sebagai pemimpin adat, Ammatoa bertugas menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam serta memastikan hukum adat dijalankan dengan baik.

Kearifan Lokal dalam Menjaga Alam

Bagi masyarakat Kajang Ammatoa, hutan memiliki kedudukan yang sangat penting. Mereka memandang hutan sebagai “ibu bumi” yang harus dijaga keberadaannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube @risyadandson

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kenapa Suku Kajang Selalu Pakai Serba Hitam? Ini Filosofi dan Tradisinya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!