Jumat, 10 APRIL 2026 • 22:28 WIB

Peninggalan Kerajaan Banten: Bukti Kejayaan Islam di Nusantara

Author

Peninggalan Kerajaan Banten (Nano Banana)

INDOZONE.ID - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana sebuah kota pelabuhan di ujung barat Pulau Jawa mampu menjadi pusat perdagangan internasional maritim yang menggetarkan kekuatan kolonial Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-17? Kerajaan Banten bukan sekadar catatan usang di dalam buku pelajaran sejarah sekolah. Eksistensinya adalah manifestasi dari puncak kejayaan peradaban Islam di Nusantara yang menggabungkan kekuatan militer, diplomasi ekonomi tingkat global, dan toleransi antarumat beragama yang sangat tinggi. Lantas, jejak apa saja yang ditinggalkan oleh imperium hebat ini setelah runtuh oleh tipu daya kolonialisme?

Berbagai peninggalan Kerajaan Banten yang masih berdiri tegak maupun yang kini tersisa berupa reruntuhan eksotis adalah kunci untuk membuka pintu lorong waktu ke masa lalu. Benda-benda cagar budaya, bangunan keraton, hingga masjid bersejarah tersebut tidak sekadar menjadi tumpukan bata merah kuno, melainkan saksi bisu dari hiruk-pikuknya para saudagar dari Arab, Tiongkok, Gujarat, hingga Eropa yang berlabuh di Teluk Banten.

Artikel ini akan membedah secara komprehensif sejarah dan ragam peninggalan Kerajaan Banten, mulai dari situs arkeologi, warisan budaya tak benda, hingga bukti empiris kejayaan masa lalunya yang patut menjadi kebanggaan generasi masa kini.

Baca juga: Apa Saja Peninggalan Kerajaan Tarumanegara? Ini Daftarnya

Sejarah Singkat Kerajaan Banten

Sebelum membedah peninggalan-peninggalannya, penting untuk memahami akar historis bagaimana Kesultanan Banten dapat berdiri kokoh. Kerajaan Banten secara resmi berdiri pada dekade 1520-an. Secara historis, wilayah Banten awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Sunda (Pajajaran) yang bercorak Hindu. Namun, ekspansi Islam yang dipimpin oleh Fatahillah (Sunan Gunung Jati) bersama pasukan dari Kesultanan Demak dan Cirebon berhasil menguasai Banten pada tahun 1526.

Sunan Gunung Jati kemudian menyerahkan takhta pemerintahan Banten kepada putranya, Maulana Hasanuddin, yang kelak diakui sebagai raja pertama sekaligus pendiri Kesultanan Banten yang mandiri. Di bawah kepemimpinan Maulana Hasanuddin, Banten melepaskan diri dari bayang-bayang Demak dan berkembang pesat menjadi pusat penyebaran agama Islam serta pelabuhan dagang internasional.

Puncak masa keemasan Kesultanan Banten terjadi pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1682). Pada era ini, armada laut Banten sangat kuat, sistem irigasi dan pertanian dimodernisasi, serta Banten berhasil memonopoli perdagangan lada. Sultan Ageng Tirtayasa juga dikenal sebagai raja yang sangat gigih menentang praktik monopoli Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Sayangnya, kejayaan tersebut harus meredup akibat konflik internal (perang saudara) antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya sendiri, Sultan Haji, yang dihasut dan dibantu oleh VOC. Intervensi Belanda ini perlahan-lahan menggerogoti kedaulatan Banten hingga akhirnya kesultanan ini secara resmi dihapuskan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada awal abad ke-19 (1813).

Peninggalan Kerajaan Banten yang Masih Ada Hingga Kini

Bukti nyata eksistensi dan kebesaran Kesultanan Banten dapat ditelusuri melalui kawasan Banten Lama (Old Banten). Di kawasan situs bersejarah inilah berbagai peninggalan Kerajaan Banten memusat. Berikut adalah daftar peninggalan fisik dan arsitektural yang memiliki nilai historis tak ternilai:

A. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten lama Kawasan Kesultanan Banten Lama, Kasemen, Kota Serang. (banten.indozone.id)

Ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Banten yang paling ikonis. Dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin, masjid ini memiliki ciri khas menara yang bentuknya menyerupai mercusuar bergaya arsitektur Eropa-Tiongkok.

Desain menara ini merupakan karya arsitek keturunan Belanda bernama Hendrik Lucasz Cardeel (yang kelak masuk Islam bergelar Pangeran Wiraguna), sementara atap masjid yang bertumpuk lima mencerminkan akulturasi dengan arsitektur lokal/Hindu dan Tiongkok (karya Tjek Ban Tjut).

B. Keraton Surosowan

Keraton Surasowan sekaligus cagar budaya yang ada di di Kawasan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten. (Mirani Pramitasari - commons.wikimedia.org)

Keraton Surosowan adalah pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggal para Sultan Banten. Dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanuddin, keraton ini dikelilingi tembok bata tebal dan bastion (pos pertahanan) di setiap sudutnya.

Sayangnya, akibat penghancuran brutal yang dilakukan oleh Daendels pada tahun 1813, saat ini Keraton Surosowan hanya menyisakan fondasi, sisa tembok, dan reruntuhan tata ruang pemandian keraton.

C. Keraton Kaibon

Keraton Kaibon dibangun untuk tempat tinggal Ratu Aisyah, yang merupakan Ibu dari Sultan Syafiudin. (Tito Tri Kadafi - id.wikipedia.org)

Berbeda dengan Surosowan, Keraton Kaibon dibangun lebih lambat, yakni pada era Sultan Syafiuddin (1815) sebagai tempat tinggal khusus bagi ibundanya, Ratu Aisyah. Nama "Kaibon" sendiri bermakna keibuan. Meski kini juga tersisa berupa reruntuhan candi bentar (gerbang masuk) dan sisa dinding batu bata, kemegahannya masih sangat terasa dan sering dijadikan spot wisata sejarah fotografi.

D. Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk merepresentasikan perluasan pengaruh kolonial Belanda di wilayah Kesultanan Banten, khususnya selama masa pemerintahan Sultan Abu Nashar Abdul Qahar antara tahun 1672-1684. (Mirani Pramitasari - commons.wikimedia.org)

Kehadiran Benteng Speelwijk merupakan simbol dari kontrol dan campur tangan kolonial Belanda di wilayah Kesultanan Banten. Dibangun oleh VOC pada tahun 1682 pada masa pemerintahan Sultan Haji, benteng pertahanan ini dinamai dari nama Gubernur Jenderal VOC, Cornelis Speelman. Peninggalan ini menjadi penanda beralihnya hegemoni dari Kesultanan Banten ke tangan Belanda.

E. Vihara Avalokitesvara

Vihara Avalokitesvara, Banten lama, Kasemen, Kota Serang, Banten. (Mamo Erfanto)

Peninggalan ini adalah representasi paling kuat dari tingginya rasa toleransi beragama di Kesultanan Banten. Vihara ini diperkirakan dibangun pada pertengahan abad ke-16, menjadikannya salah satu kelenteng tertua di Indonesia.

Pembangunannya diyakini sangat berkaitan dengan kehadiran Syarifah Mudaim atau Putri Ong Tien (istri Sunan Gunung Jati) serta komunitas saudagar Tiongkok di Banten.

Baca juga: Apa Saja Peninggalan Kerajaan Majapahit? Ini Daftar Lengkapnya

F. Danau Tasikardi

Tasikardi secara harfiah berarti "Danau Buatan". Peninggalan ini dibangun pada masa Sultan Maulana Yusuf untuk menampung air dari Sungai Cibanten.

Danau berlapis batu bata ini tidak hanya berfungsi sebagai sistem irigasi pengairan sawah untuk ketahanan pangan, tetapi juga sebagai penyuplai air bersih yang disalurkan melalui pipa-pipa terakota (tanah liat) ke dalam kompleks Keraton Surosowan.

G. Meriam Ki Amuk

Sebagai kesultanan maritim dengan militer kuat, Banten memiliki persenjataan artileri berat. Salah satu peninggalan terbesarnya adalah Meriam Ki Amuk. Meriam raksasa yang terbuat dari perunggu ini konon merupakan hasil rampasan atau hadiah, yang dihiasi dengan kaligrafi Arab yang menawan.

Untuk memudahkan pembaca, berikut adalah tabel ringkasan peninggalan Kerajaan Banten:

Nama Peninggalan Kategori Fungsi di Masa Lalu
Masjid Agung Banten Bangunan Ibadah Pusat syiar Islam dan ibadah kesultanan.
Keraton Surosowan Bangunan Sipil Istana Sultan dan pusat pemerintahan utama.
Keraton Kaibon Bangunan Sipil Tempat tinggal ibunda Sultan Banten.
Benteng Speelwijk Militer Basis pertahanan maritim VOC di Banten.
Vihara Avalokitesvara Bangunan Ibadah Tempat ibadah masyarakat Buddha/Tionghoa.
Danau Tasikardi Infrastruktur Sistem irigasi dan penyuplai air bersih keraton.
Meriam Ki Amuk Persenjataan Pertahanan militer pantai dari serangan musuh.

Warisan Budaya Banten dari Masa Kerajaan

Peninggalan Kerajaan Banten tidak semata-mata bersifat fisik, melainkan juga melingkupi warisan budaya tak benda yang sudah mengakar kuat dan dilestarikan oleh masyarakat Banten hingga abad modern ini.

Salah satu warisan budaya yang paling tersohor adalah Kesenian Debus. Pada masa kejayaan Kesultanan Banten, khususnya pada era Sultan Maulana Hasanuddin dan Sultan Ageng Tirtayasa, kesenian ekstrem ini digunakan sebagai metode penyebaran agama Islam yang atraktif sekaligus untuk memompa semangat patriotisme tempur prajurit Banten melawan kolonial Belanda. Debus menunjukkan kekebalan tubuh terhadap senjata tajam, api, dan benda keras lainnya, yang dibarengi dengan doa-doa dan selawat tasawuf Islam.

Selain itu, Pencak Silat khas Banten juga menjadi warisan tak terpisahkan. Ekosistem para pendekar dan Jawara Banten lahir dari rahim tradisi pesantren yang didirikan pada masa kesultanan. Mereka inilah yang menjadi garda terdepan pelindung ulama dan rakyat dari penindasan.

Bukti Kejayaan Kerajaan Banten di Masa Lalu

Kejayaan Kesultanan Banten bukanlah sebuah mitos atau klaim sepihak dari sejarah lokal. Catatan para pengembara asing dan bukti-bukti arkeologis menegaskan bahwa Banten adalah kota metropolitan abad pertengahan.

Hasil utama dari Kerajaan Banten yang membuatnya kaya raya adalah lada. Letaknya yang strategis di Selat Sunda membuat Banten mengambil alih urat nadi perdagangan Nusantara setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Kapal-kapal dari berbagai negara berlabuh di sana, membawa porselen dari Dinasti Ming, kain sutra dari India, hingga senjata dari Eropa, ditukar dengan rempah-rempah Banten.

Mengenai kosmopolitannya Banten, sejarawan terkemuka asal Prancis, Claude Guillot, dalam karyanya Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X - XVII, menuliskan pengakuan penting:

"Banten pada abad ke-16 dan ke-17 adalah salah satu kota terbesar di Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Kotanya dirancang dengan sistem tata ruang yang modern untuk masanya, mencerminkan kekuatan ekonomi dan toleransi sosial sebuah kerajaan berdaulat yang terbuka pada perdagangan dunia." (Guillot, 2008).

Baca juga: Peninggalan Kerajaan Kutai: Bukti Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

Bukti kejayaan ini juga ditegaskan oleh pakar arkeologi Islam Indonesia, Uka Tjandrasasmita. Penemuan ribuan pecahan keramik asing di sekitar Teluk Banten serta tata letak istana yang didukung infrastruktur canggih seperti pengelolaan air Tasikardi merupakan bukti empiris tingginya teknologi dan peradaban yang dicapai pemerintahan Banten di masa lalu.

Berbagai peninggalan Kerajaan Banten yang tersebar dari arsitektur masjid agung, reruntuhan istana Surosowan dan Kaibon, hingga artefak meriam raksasa adalah bukti autentik bahwa di masa silam, Nusantara memiliki pusat peradaban Islam dan kekuatan maritim tingkat dunia. Reruntuhan batu bata merah di kawasan Banten Lama tidak seharusnya dilihat sebagai sisa-sisa kehancuran, melainkan sebagai monumen ketahanan identitas, kemajuan infrastruktur, ekonomi global, serta kuatnya akar toleransi beragama yang ditanamkan oleh para Sultan Banten.

Melihat nilai historisnya yang luar biasa, sudah sepatutnya kita, para generasi penerus, aktif berkunjung dan merawat kawasan cagar budaya ini agar tidak terkikis zaman. Menjawab pertanyaan di awal tulisan ini jejak yang ditinggalkan oleh Kesultanan Banten rupanya bukanlah sekadar abu sejarah, melainkan nyala api inspirasi kebangsaan. Sebab pada akhirnya, peradaban besar tidak pernah benar-benar mati; mereka tertidur dalam wujud reruntuhan, menunggu generasi baru untuk kembali memaknai kebesarannya.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Peninggalan apa saja yang ada di Kerajaan Banten?
Peninggalan fisik Kerajaan Banten di antaranya adalah Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, Benteng Speelwijk, Danau Tasikardi, Meriam Ki Amuk, dan Vihara Avalokitesvara. Semuanya terletak di kawasan cagar budaya Banten Lama.

2. Apa hasil utama dari Kerajaan Banten?
Hasil utama dan komoditas perdagangan paling berharga dari Kerajaan Banten adalah lada (merica). Komoditas inilah yang mengundang datangnya saudagar dari Tiongkok, Arab, Gujarat, hingga bangsa-bangsa Eropa seperti Belanda dan Inggris.

3. Apa warisan budaya benda Banten?
Warisan budaya benda (bendawi) meliputi bangunan bersejarah (seperti keraton dan masjid), persenjataan kuno (meriam perunggu), hingga berbagai pecahan keramik dan artefak terakota (pipa air) yang ditemukan melalui penggalian arkeologis di situs Surosowan.

4. Apa bukti adanya Kerajaan Banten?
Bukti adanya Kerajaan Banten dapat dipastikan melalui berdirinya kawasan Kesultanan Banten (Banten Lama) yang mencakup struktur tata kota keraton, masjid kesultanan yang masih aktif, naskah-naskah kuno kesultanan, catatan pelayar Eropa (seperti catatan Cornelis de Houtman), hingga silsilah kesultanan yang masih tercatat rapi hingga hari ini.

Referensi Tulisan:

  1. Guillot, Claude. (2008). Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X - XVII. Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
  2. Tjandrasasmita, Uka. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU