Kamis, 12 MARET 2026 • 14:00 WIB

Korps Marsose: Pasukan Elite Kolonial yang Menghadapi Perlawanan Aceh

Author

Unit Marsose Brigade 6 Divisi 3 Marechaussee di Lamnjong Aceh tahun 1898 (sumber: wikipedia)

INDOZONE.ID - Korps Marechaussee te Voet atau yang lebih dikenal sebagai Korps Marsose merupakan satuan elite yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dari unsur-unsur terbaik dalam pasukan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Satuan ini dirancang sebagai unit taktis khusus untuk menghadapi perang gerilya yang dilakukan para pejuang Aceh dalam konflik panjang yang dikenal sebagai Perang Aceh.

Pada masa itu, pasukan KNIL kerap kewalahan menghadapi serangan mendadak para pejuang Aceh. Taktik gerilya yang mengandalkan mobilitas tinggi serta pemahaman mendalam terhadap medan hutan dan pegunungan membuat pasukan kolonial sulit menumpas perlawanan tersebut. Kondisi ini mendorong pemerintah kolonial untuk membentuk satuan khusus yang lebih fleksibel, cepat bergerak, dan mampu bertempur di medan berat.

Gagasan awal pembentukan unit ini disebut berasal dari seorang tokoh bernama M. Syarif, seorang kepala jaksa di Kutaraja (kini Banda Aceh) yang berasal dari Minangkabau. Ia dikenal sebagai pejabat pribumi yang mendukung kebijakan pemerintah kolonial. Syarif mengusulkan pembentukan pasukan khusus yang terdiri dari unit-unit kecil, tangguh, dan memiliki mobilitas tinggi untuk menghadapi para pejuang Aceh.

Baca juga: Cara Dunia Mengenang dan Menghargai Jasa Laksamana Malahayati: Pejuang Wanita Asal Aceh yang Jago Diplomat

Sebelum Marsose terbentuk, pemerintah kolonial sebenarnya telah mencoba membentuk beberapa unit kontra-gerilya. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil memuaskan karena para pejuang Aceh jauh lebih memahami kondisi geografis wilayah mereka dibandingkan pasukan KNIL.

Akhirnya, pada 2 April 1890, Korps Marsose resmi dibentuk. Dalam menjalankan tugasnya, satuan ini mendapatkan sejumlah keistimewaan dibandingkan serdadu kolonial lainnya. Dari segi persenjataan, pasukan Marsose dibekali senjata yang lebih modern pada masanya, seperti karabin Mannlicher Belanda berlaras pendek yang lebih ringan dan mudah digunakan di medan hutan. Selain itu, mereka juga dilengkapi dengan klewang, sejenis pedang pendek yang sangat efektif dalam pertempuran jarak dekat.

Dalam praktiknya, pasukan Marsose justru lebih sering menggunakan klewang dibandingkan senjata api. Senjata api biasanya hanya digunakan dalam situasi tertentu, sementara pertempuran jarak dekat menjadi taktik utama mereka saat melakukan penyergapan terhadap kelompok gerilya.

Keistimewaan lain yang dimiliki Marsose adalah soal kesejahteraan. Para prajuritnya menerima gaji yang lebih tinggi dibandingkan serdadu kolonial biasa. Bahkan, unit Marsose yang ditempatkan di Aceh dan di Jawa memperoleh tingkat gaji yang sama, meskipun kondisi penugasan di Aceh jauh lebih berbahaya karena harus menghadapi perlawanan gerilya secara intensif. Sementara itu, situasi di Jawa pada masa tersebut relatif lebih kondusif.

Dari segi komposisi, pasukan Marsose sebagian besar terdiri dari prajurit pribumi atau bumiputera yang berasal dari wilayah Maluku, Sulawesi, dan Jawa. Sementara posisi komando umumnya dipegang oleh perwira Eropa atau Belanda. Para prajurit ini dipilih dari unit-unit terbaik dalam KNIL dan kemudian dikumpulkan dalam satuan Marsose.

Penggunaan prajurit bumiputera dalam jumlah besar bukan hanya karena kemampuan mereka beradaptasi dengan iklim tropis dan medan hutan, tetapi juga terkait dengan strategi politik kolonial yang dikenal sebagai devide et impera atau politik pecah belah. Strategi ini dimaksudkan untuk melemahkan potensi persatuan di antara masyarakat pribumi.

Dalam operasi militernya, unit Marsose biasanya melakukan pengejaran terhadap lokasi-lokasi yang diyakini sebagai basis gerilyawan Aceh. Dengan mobilitas tinggi dan perlengkapan yang lebih ringan, mereka mampu menembus medan berat seperti hutan lebat, lembah, hingga wilayah pegunungan yang sulit dijangkau pasukan reguler.

Efektivitas taktik ini membuat Marsose dikenal sebagai salah satu unit paling ampuh dalam operasi kontra-gerilya di Hindia Belanda. Dengan jumlah pasukan yang relatif kecil namun terlatih, mereka mampu melakukan serangan cepat dan mendalam ke wilayah yang menjadi basis perlawanan.

Namun di balik reputasinya sebagai pasukan elite, Marsose juga dikenal karena tindakan brutal dalam menjalankan operasi militer. Dalam sejumlah operasi, pasukan ini tidak hanya menargetkan kelompok gerilya, tetapi juga menghancurkan kampung-kampung yang dicurigai menjadi tempat perlindungan para pejuang Aceh.

Baca juga: Mengenal Legiun Mangkunegaran: Pasukan Elite Khusus yang Dibentuk Mangkunegaran pada Abad 19

Salah satu operasi paling kontroversial terjadi di bawah komando Gotfried Coenraad Ernst van Daalen. Dalam operasi tersebut, pasukan Marsose menghancurkan sejumlah desa dan menewaskan sekitar 2.900 orang Aceh, termasuk sekitar 1.150 perempuan dan anak-anak. Sementara itu, di pihak pasukan Van Daalen hanya tercatat kehilangan sekitar 26 orang prajurit.

Alih-alih mendapat sanksi, Van Daalen justru dipromosikan setelah operasi tersebut, yang menunjukkan bagaimana kerasnya kebijakan militer kolonial pada masa itu.

Korps Marsose sendiri akhirnya dibubarkan pada tahun 1942, ketika kekuasaan kolonial Belanda di Hindia Belanda runtuh akibat invasi Jepang dalam peristiwa Invasi Jepang ke Hindia Belanda. Pembubaran ini sekaligus mengakhiri keberadaan salah satu unit kontra-gerilya paling efektif sekaligus paling kontroversial dalam sejarah militer kolonial di Nusantara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Unesa.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU