Senin, 02 MARET 2026 • 18:00 WIB

Kolese Xaverius, Kolese Jesuit Pertama di Muntilan Dalam Mendidik Pribumi sejak 1902

Author

Kolese Xaverius. (Sumber: KITLV)

INDOZONE.ID - Pernahkah Anda mendengar SMA Seminari Petrus Kanisius Mertoyudan dan SMA Pangudi Luhur Van Lith? Kedua SMA tersebut memiliki asal-usul yang sama dari sebuah sekolah bernama Kolese Xaverius.

Kolese Xaverius merupakan salah satu kolese Jesuit pertama di Indonesia yang berdiri pada masa kebijakan Politik Etis pada 1910. Sekolah ini pertama kali didirikan oleh Pater Franciscus Georgius Josephus Van Lith, SJ, sebagai langkah awal pendidikan bagi kaum pribumi di Muntilan.

Pada masa itu, masyarakat Jawa di tanahnya sendiri berada dalam posisi yang timpang dibandingkan orang Belanda. Ketimpangan kemanusiaan tersebut mendorong Pater Van Lith untuk mengubah persepsi, sikap, dan penghayatan tentang martabat manusia melalui pendidikan.

Baca juga: Kolese Kanisius, Bukti Pendidikan Formal Jesuit Sejak 1927

Di Kolese Xaverius, para siswa dididik untuk meresapi iman dan keyakinan bahwa setiap manusia diciptakan setara sebagai anak-anak Allah. Selain itu, mereka juga mempelajari bahasa serta budaya Belanda. Di asrama, para siswa menjalani pola hidup modern ala Eropa. Dengan bekal tersebut, para siswa Jawa diharapkan mampu menghayati nilai kemanusiaan secara utuh, tidak merasa inferior, serta memiliki kemampuan bahasa dan tata krama yang setara dengan masyarakat Belanda.

Peran Pater Van Lith, SJ, dalam dunia pendidikan ini juga menarik perhatian Kiai Haji Ahmad Dahlan dalam mengembangkan model pendidikan serupa yang kemudian dikenal melalui Muhammadiyah.

Pater Franciscus Georgius Josephus Van Lith SJ. (Sumber: KITLV)

Kolese Xaverius kemudian membuka pendidikan bagi calon imam pada 1911. Dua pendaftar pertamanya adalah Petrus Darmaseputra dan Fransiskus Xaverius Satiman, yang kemudian dikenal sebagai dua pribumi pertama yang menjadi imam Jesuit. Pada 1925, pendidikan calon imam dipindahkan ke Yogyakarta dan selanjutnya kembali ke Muntilan. Perpindahan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Seminari Petrus Kanisius Mertoyudan.

Di tengah perkembangan tersebut, Kolese Xaverius tetap menerima siswa hingga 1942 saat Jepang datang ke Hindia Belanda. Pada 1948, bangunan utama Kolese Xaverius dibumihanguskan dan kemudian dipulihkan kembali oleh Bruder FIC.

Atas jasa pemulihan yang dilakukan para Bruder FIC, nama Kolese Xaverius kemudian berubah menjadi SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan.

Baca juga: Mengungkap 3 Kebijakan K.H. Hisyam dalam Memperkuat Eksistensi Sekolah Muhammadiyah

Hingga kini, jejak pendidikan Kolese Xaverius masih dapat ditemukan di SMA Seminari Petrus Kanisius Mertoyudan dan SMA Pangudi Luhur Van Lith.

Dari kerja keras Pater Van Lith, SJ, lahir sejumlah alumnus ternama seperti Uskup Albertus Soegijapranata, SJ, I.J. Kasimo, serta Dr. Fransiscus Xaverius Seda yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ejournal Unesa

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU