INDOZONE.ID - Pada awal 1970-an, di banyak desa Indonesia, sekolah dasar bukanlah gedung megah.
Dindingnya papan, atapnya seng dan lantainya masih banyak yang tanah.
Namun dari bangunan sederhana itulah lahir generasi yang untuk pertama kalinya merasakan pendidikan dasar secara lebih merata.
Program itu dikenal sebagai SD Inpres (Sekolah Dasar Instruksi Presiden). Dan dampaknya jauh lebih besar dari yang sering kita sadari.
Baca juga: Sejarah Syair Tombo Ati dan Makna Lima Obat Hati
Ketika Sekolah Masih Jadi Barang Langka
Sebelum 1970-an, akses pendidikan dasar di Indonesia masih timpang. Banyak wilayah pedesaan belum memiliki sekolah yang memadai.
Anak-anak harus berjalan jauh atau bahkan tidak sekolah sama sekali. Pada 1973, pemerintah meluncurkan program pembangunan SD besar-besaran.
Ribuan sekolah dibangun dalam waktu relatif singkat, terutama di desa-desa.
Gedungnya standar, desainnya seragam dan sederhana. Tapi yang berubah bukan hanya bangunannya.
Yang berubah adalah peluang, peluang untuk Masyarakat bisa mengenyam pendidikan.
Baca juga: Sejarah dan Makna Sakral Tembok Ratapan di Yerusalem yang Dikaitkan dengan Tembok Ratapan Solo
Pendidikan Sebagai Tangga Sosial
Anak petani, buruh tani, nelayan, dan pedagang kecil kini memiliki akses yang lebih dekat terhadap sekolah dasar.
Bagi banyak keluarga desa, memiliki anak yang bisa membaca dan menulis saja sudah menjadi lompatan besar.
Lulusan SD kemudian melanjutkan ke SMP di kecamatan. Sebagian ke SMA di kota. Sebagian lagi masuk perguruan tinggi.
Baca juga: Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia, Ini 4 Teori yang Perlu Diketahui
Dari situ muncul generasi baru:
- Guru
- Pegawai negeri
- Perawat
- Aparatur pemerintahan
- Pekerja sektor formal
Mobilitas sosial yang sebelumnya sangat terbatas mulai terbuka.
Penelitian ekonomi pembangunan menunjukkan bahwa pembangunan SD Inpres berkontribusi terhadap peningkatan rata-rata lama sekolah serta berdampak pada peningkatan pendapatan generasi yang terdampak program tersebut.
Artinya, kebijakan pendidikan dasar pada era itu tidak hanya berdampak pada literasi, tetapi juga pada kesejahteraan ekonomi jangka panjang.
Baca juga: Dari Dinas Code hingga menjadi Badan Siber dan Sandi Negara
Sekolah desa itu mungkin tampak sederhana. Tapi ia menjadi fondasi lahirnya kelas menengah Indonesia modern.
Guru dan Kapur Tulis
Di balik bangunan sederhana itu, ada guru-guru yang mengajar dengan fasilitas terbatas. Buku minim. Media belajar sederhana.
Tapi dedikasi tinggi. Mereka bukan sekadar pengajar mata pelajaran. Mereka adalah figur intelektual pertama di desa.
Banyak orang Indonesia hari ini yang kini menjadi profesional, dosen, atau pejabat pernah duduk di bangku kayu SD Inpres.
Dan mungkin tidak pernah membayangkan bahwa ruang kelas sederhana itu sedang mengubah arah hidup mereka. SD Inpres bukan sekolah elite.
Bukan sekolah unggulan. Tapi ia membuka pintu pertama bagi jutaan anak Indonesia. Dan terkadang, perubahan besar memang dimulai dari bangunan sederhana dengan papan tulis hitam dan kapur putih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Economic Review