Sabtu, 21 FEBRUARI 2026 • 16:47 WIB

Mengapa Korea Selatan Gak Akur Sama Jepang dan China? Alasan Knetz Gak Dibantu saat Ribut dengan Seablings

Author

Ilsutrasi Korea Selatan, Jepang, dan China (Gemini AI)

INDOZONE.ID - Perang digital di sosial media antara netizen Korea Selatan atau Knetz melawan persatuan netizen Asia Tenggara, atau yang disbeut SEAblings mengungkap banyak hal. Salah satunya mengapa netizen Korea Selatan tak dibantu netizen dari dua negara tetangga mereka, yaitu China dengan Jepang.

Salah stau buktinya, beberapa netizen Korea mencoba meminta bantuan untuk ikutan ribut di X saat melihat Malaysia dibantu oleh Indonesia, Thailand, Filiphina, hingga Vietnam. Salah satu akun Knetz mencoba meminta bantuan netizen China, namun ditolak. 

Penolakkan tersebut membuka kembali hubungan politik antara tiga negara tersebut yang ternyata berkaitan dengan sejarah Korea Selatan, Jepang dan China. 

Mengutip dari situs dari asiasoceity.or, ada segitiga ketegangan antara tiga negara besar Asia Timur - China, Korea, dan Jepang. Ketidakpercayaan dan kebencian, warisan dari konflik selama beberapa dekade di abad ke-19 dan ke-20, membayangi prospek era perdamaian dan kerja sama yang lebih cerah di abad ke-21. .

Baca juga: Perang Korea Selatan dan Jejak Bantuan Internasional yang Jarang Disorot

Berikut ini ada beberapa penjelasan hubungan ketegangan tiga negara tersebut.

Sentimen Historis Korea Selatan terhadap Jepang

Sentimen historis Korea Selatan terhadap Jepang seringkali dipenuhi dengan rasa dendam dan trauma, yang berakar kuat pada masa pemerintahan kolonial Jepang dari tahun 1910 hingga 1945. Pada tahun 1910, Jepang secara resmi menganeksasi Korea setelah melemahkan Dinasti Joseon melalui tekanan politik dan militer. 

Selama 35 tahun penjajahan, bahasa dan budaya Korea ditekan; penggunaan bahasa Korea dibatasi di sekolah dan administrasi, sementara banyak warga dipaksa menggunakan nama Jepang. Selain itu, tanah pertanian diambil alih oleh pemerintah dan perusahaan Jepang, dan ratusan ribu warga Korea dijadikan pekerja paksa di tambang, pabrik, dan proyek militer Jepang. 

Perang Jepang dan Korea Selatan (Wikipedia)

Salah satu luka terdalam dalam sejarah ini adalah nasib para “wanita penghibur,” perempuan yang dipaksa menjadi budak seksual bagi tentara Jepang selama Perang Dunia II. Trauma kolektif dari periode ini diwariskan antar generasi dan menjadi bagian penting dari identitas nasional Korea Selatan.

Meski perjanjian normalisasi hubungan ditandatangani pada 1965, banyak warga Korea merasa kompensasi yang diberikan tidak cukup. Perselisihan mengenai kerja paksa, isu “comfort women,” dan sengketa kedaulatan pulau Dokdo (Takeshima) terus memicu ketegangan diplomatik hingga saat ini. 

Baca juga: Bukan Sekadar Pendekar, Ini Evolusi Panjang Samurai Jepang

Pulau kecil ini memiliki nilai simbolis dan strategis, dan sengketa kedaulatannya terus mempengaruhi hubungan modern antara Korea Selatan dan Jepang. Trauma historis ini masih membentuk pandangan publik Korea terhadap Jepang hingga hari ini.

Hubungan Historis Korea Selatan dengan China

Hubungan Korea Selatan dengan China memiliki sejarah yang lebih panjang dan bersifat lebih stabil, meskipun bersifat hierarkis. Selama berabad-abad, Korea beroperasi dalam sistem upeti kepada China, mengakui kekuasaan China secara simbolis dan mengirimkan utusan serta upeti. 

Sebagai imbalannya, Korea mendapat perlindungan dan legitimasi politik. Pengaruh Tiongkok sangat terasa dalam bidang budaya, termasuk sistem pendidikan, pemerintahan, filsafat Konfusianisme, seni, dan aksara.

Meskipun berada di bawah pengaruh China, Korea tetap menegaskan identitas budayanya sendiri. 

Upaya ini kadang menimbulkan perseteruan, karena Korea berusaha mengklaim warisan budaya tertentu, seperti masakan tradisional, pakaian adat, dan ritual budaya, yang juga dikaitkan dengan China. 

Perselisihan semacam ini menunjukkan bahwa hubungan historis yang dekat sekalipun dapat memiliki ketegangan budaya.

Hubungan Korea dan China (warmilitary.org)

Solidaritas Anti-Jepang

Hubungan antara Korea dan China semakin menguat ketika Dinasti Ming Tiongkok turun tangan membantu Korea menghadapi invasi besar Jepang pada akhir abad ke-16, yang dikenal sebagai Perang Imjin. 

Invasi yang dipimpin Toyotomi Hideyoshi tersebut menghancurkan banyak kota, menewaskan ribuan orang, dan meninggalkan trauma mendalam. Kerja sama militer Korea dan Tiongkok selama peristiwa ini membentuk dasar solidaritas anti-imperialisme yang masih diingat hingga hari ini.

Baca juga: Fenomena Joki Penjara di China: Orang Kaya Jahat Bisa Sewa Orang Miskin Menggantikannya Masuk Penjara

Pada abad ke-19, Perang Sino-Jepang pertama (1894–1895) menandai titik balik penting bagi semenanjung Korea. Jepang berhasil mengalahkan China untuk mendapatkan pengaruh atas Korea, melemahkan posisi Tiongkok di Asia Timur, dan membuka jalan bagi aneksasi resmi Korea pada tahun 1910. 

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana kekuatan regional saling bersaing dan membentuk nasib Korea di abad berikutnya.

Selama masa penjajahan Jepang, banyak pejuang kemerdekaan Korea melarikan diri ke Tiongkok dan membentuk Pemerintahan Sementara Republik Korea di Shanghai, yang kemudian berpindah ke Chongqing. 

Kolaborasi ini memperkuat solidaritas antara Korea dan China dalam melawan Jepang dan membentuk ingatan kolektif yang kini menjadi bagian dari hubungan historis kedua negara. 

Segitiga ketegangan Tiga Negara

Hingga hari ini, ingatan tentang perlawanan terhadap imperialisme Jepang menjadi simbol kedekatan historis Korea Selatan dengan China, sementara persaingan budaya dan klaim warisan budaya kadang menimbulkan ketegangan ringan antara kedua negara. 

Baca juga: Kisah Pemberontakan Gwangju, Jadi Titik Balik Demokrasi Korea Selatan

Dan semua warga ketiga negara tersebut memiliki argumen masing-masing soal konflik masa lalu. Nah, karena masalah individualisme dan masyarakat yang homogen, ketiganya yang sulit bersatu.

Netizen Korea Selatan yang kini merasa seluruh dunia berpusat kepada mereka karena Hallyu Wave (Kpop, KDrama, K Food, K Beauty dan lainnya), membuat mereka kadang bersitegang dengan negara tetangganya. Sementara itu netizne China dan Jepang menyebut kalau semua yang ada di Korea saat ini hasil dari mengambil budaya dari negara lain dan mengemasnya saja.

Wajar saja bila mengapa Korea Selatan nggak akur dengan China dan Jepang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Asiasociety.org

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU