INDOZONE.ID - Kalau ngomongin kerajaan besar di Nusantara, Sriwijaya itu ibarat legenda hidup.
Namanya mungkin sering kita dengar di buku pelajaran, tapi ceritanya jauh lebih seru kalau dibongkar pelan-pelan.
Kerajaan ini bukan cuma soal kekuasaan dan wilayah luas, tapi juga soal laut, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan toleransi yang udah maju jauh sebelum zamannya.
Sriwijaya pernah jadi pusat perhatian dunia, terutama di Asia Tenggara. Pedagang dari berbagai negara singgah, pendeta datang buat belajar, dan jalur laut jadi sumber kekuatan utama.
Meski sekarang yang tersisa “cuma” prasasti dan bangunan kuno, peninggalan itu masih bisa cerita banyak soal betapa besarnya peran Sriwijaya di masa lalu.
Video Peninggalan Kerajaan Sriwijaya dari YouTube/Ensiklopedia Sejarah Indonesia, ngebantu kita buat ngelihat ulang kisah kejayaan itu dengan cara yang lebih gampang dipahami.
Baca juga: Hubungan Pendidikan Sriwijaya dengan Mancanegara
Awal Berdirinya Sriwijaya di Sumatera
Sriwijaya dipercaya sudah berdiri sejak abad ke-7 di wilayah Pantai Timur Sumatera Selatan. Informasi ini bukan karangan belaka, tapi tercatat dalam sumber sejarah Dinasti Tang dari Tiongkok. Dalam catatan itu, Sriwijaya disebut dengan nama Selly Voce.
Letaknya strategis banget. Bayangin wilayah yang berada tepat di jalur pelayaran internasional, tempat kapal-kapal dari India, Tiongkok, dan Asia Tenggara mondar-mandir buat berdagang.
Dari situ, Sriwijaya pelan-pelan tumbuh jadi kekuatan besar. Mereka paham betul kalau laut bukan penghalang, tapi justru jalan utama buat jadi penguasa.
Sejak awal, Sriwijaya udah nunjukin ciri kerajaan maritim sejati. Fokusnya bukan cuma di daratan, tapi juga di laut. Ini yang bikin Sriwijaya beda dari banyak kerajaan lain pada masanya.
Sriwijaya dan Dunia Pendidikan Buddha
Salah satu fakta paling keren dari Sriwijaya adalah, perannya sebagai pusat pendidikan agama Buddha.
Di abad ke-7, Palembang bukan cuma kota pelabuhan, tapi juga tempat belajar yang terkenal sampai mancanegara.
Pendeta Tiongkok bernama I-Tsing pernah tinggal cukup lama di Sriwijaya. Dalam catatannya, dia menyebut kalau ada ribuan sarjana Buddha yang belajar dan mengajar di sana.
Bahkan, para pelajar dianjurkan buat singgah dulu di Sriwijaya sebelum melanjutkan studi ke India.
Ini bukti kalau Sriwijaya bukan kerajaan yang cuma mikirin kekayaan dan kekuasaan. Mereka juga peduli sama ilmu pengetahuan.
Bisa dibilang, Sriwijaya adalah kampus internasional di zamannya, tempat berbagai budaya dan pemikiran ketemu dalam satu ruang.
Wilayah Kekuasaan dan Jalur Laut Andalan
Kejayaan Sriwijaya nggak lepas dari kemampuannya menguasai jalur laut penting. Kerajaan ini pegang kendali atas Selat Malaka, Selat Sunda, sampai Laut Cina Selatan.
Jalur ini adalah “jalan tol”-nya perdagangan internasional pada masa itu.
Wilayah kekuasaan Sriwijaya luas banget. Mulai dari Sumatera, Bangka Belitung, sebagian Jawa, Semenanjung Malaya, sampai Thailand Selatan.
Dengan posisi ini, Sriwijaya punya pengaruh besar terhadap arus barang dan kapal yang lewat.
Kalau ada wilayah yang nggak mau tunduk, Sriwijaya juga nggak segan bertindak tegas.
Tapi menariknya, kekuatan mereka nggak selalu lewat perang. Diplomasi, kerja sama dagang, dan pengaruh budaya juga jadi senjata utama.
Baca juga: Lapisan Sosial Kerajaan Makassar: Dari Bangsawan Anakarung hingga Rakyat Merdeka
Prasasti Sebagai Bukti Nyata Kejayaan
Bukti paling kuat keberadaan Sriwijaya bisa dilihat dari prasasti-prasasti yang ditemukan di berbagai daerah.
Prasasti ini isinya bukan cuma tulisan kuno, tapi cerita tentang politik, kekuasaan, dan nilai hidup masyarakat saat itu.
Prasasti Kota Kapur di Pulau Bangka misalnya. Isinya cukup tegas, bahkan terkesan serem, karena memuat kutukan bagi siapa pun yang melanggar perintah raja.
Di prasasti ini juga disebutkan ekspedisi militer untuk menaklukkan wilayah yang membangkang.
Ada juga Prasasti Ligor di Thailand Selatan yang menyebut raja Sriwijaya sebagai raja dari semua raja. Ini nunjukin kalau pengaruh Sriwijaya nggak main-main dan diakui sampai luar wilayah Indonesia sekarang.
Di Palembang, Prasasti Telaga Batu terkenal karena isinya penuh sumpah dan kutukan, buat para pejabat yang nggak setia.
Sementara Prasasti Kedukan Bukit menceritakan perjalanan suci Dapunta Hyang, yang membawa puluhan ribu pasukan, yang dianggap sebagai awal kebesaran Sriwijaya.
Prasasti Talang Tuo punya nuansa yang beda. Isinya tentang pembangunan Taman Sriksetra oleh Raja Sri Jayanasa, lengkap dengan doa agar taman itu membawa kebahagiaan bagi semua makhluk. Dari sini kelihatan sisi humanis Sriwijaya.
Candi dan Bangunan Bersejarah
Selain prasasti, Sriwijaya juga meninggalkan jejak berupa candi dan bangunan keagamaan. Salah satu yang paling terkenal adalah Candi Muara Takus di Riau.
Bentuknya unik, mirip stupa di Myanmar dan Sri Lanka, yang nunjukin kuatnya hubungan budaya lintas negara.
Candi Muara Takus diduga jadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus pemerintahan. Ornamen roda dan kepala singa di bangunannya, punya makna simbolis yang berkaitan dengan ajaran Buddha dan kekuasaan.
Kompleks Candi Muaro Jambi di Jambi bahkan, disebut sebagai kompleks candi terluas di Asia Tenggara. Luasnya hampir 4.000 hektar.
Area ini diyakini sebagai pusat pendidikan dan keagamaan yang sangat besar di masanya.
Di Sumatera Utara, ada Candi Bahal yang bercorak Buddha aliran Vajrayana. Sementara di Pagaralam, Sumatera Selatan, ditemukan sisa Gapura Sriwijaya yang meski sudah runtuh, tetap jadi bukti fisik pengaruh kerajaan ini.
Nilai Toleransi dan Kepedulian Sosial
Nah yang bikin Sriwijaya terasa relevan sampai sekarang adalah, nilai-nilai yang mereka pegang. Dari prasasti Talang Tuo, kelihatan jelas kalau kerajaan ini peduli pada kesejahteraan rakyat.
Pembangunan taman umum dengan doa untuk kebahagiaan semua makhluk adalah, hal yang jarang ditemui di kerajaan-kerajaan kuno.
Sriwijaya juga dikenal toleran. Berbagai budaya, bahasa, dan kepercayaan bisa hidup berdampingan.
Inilah salah satu kunci kenapa Sriwijaya bisa bertahan lama dan dihormati banyak pihak.
Baca juga: Ajian Cakra Buana: Rahasia Pertahanan Mistis Kerajaan Pajajaran yang Bikin Musuh Nyasar di Hutan
Peninggalan Kerajaan Sriwijaya adalah bukti kalau Nusantara pernah jadi pusat peradaban besar.
Dari prasasti yang penuh cerita, candi yang megah, sampai perannya sebagai penguasa laut dan pusat pendidikan Buddha, Sriwijaya meninggalkan warisan yang luar biasa.
Cerita Sriwijaya bukan cuma soal masa lalu, tapi juga pengingat bahwa, kekuatan sejati datang dari ilmu, toleransi, dan kemampuan membangun hubungan dengan dunia luar.
Meski kerajaan ini sudah lama runtuh, jejaknya masih hidup dan layak terus diceritakan ke generasi sekarang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube