INDOZONE.ID - Tahukah kamu kalau Negeri Sakura, Jepang, sudah punya infrastruktur jalan sejak abad ke-17? Sama seperti Indonesia dengan Jalan Pantura yang legendaris, Jepang juga memiliki sistem jalan terkenal bernama Gokaido.
Gokaido adalah jaringan infrastruktur darat yang menghubungkan ibu kota Edo (kini Tokyo) ke berbagai penjuru Jepang. Jalan ini bukan hanya dipakai untuk mobilitas barang dan penduduk, tapi juga jadi jalur pertukaran budaya sekaligus tulang punggung kestabilan negara di era Keshogunan Tokugawa. Setelah Tokugawa Ieyasu berhasil menyatukan Jepang pada awal abad ke-17, stabilitas politik menjadi prioritas utama pemerintahannya. Untuk menjaga kendali atas para daimyo (tuan tanah) yang tersebar di seluruh negeri, pemerintahan Tokugawa menerapkan sistem sankin-kōtai.
Dalam sistem ini, setiap daimyo diwajibkan melakukan perjalanan dari wilayahnya ke ibu kota keshogunan dan menetap di sana dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, keluarga para daimyo juga harus tinggal menetap di Edo sebagai jaminan loyalitas politik terhadap shogun.
Kebijakan ini bertujuan agar para daimyo tidak memiliki cukup waktu maupun sumber daya untuk memberontak. Bahkan, menurut catatan Jalur Nakasendō, para daimyo bisa kehilangan hingga 25 persen penghasilan bersihnya hanya untuk biaya perjalanan. Karena itulah, pemerintahan Tokugawa membangun jaringan infrastruktur darat yang memadai untuk menunjang mobilitas ini, yang kemudian dikenal sebagai Gokaido.
Baca juga: Uniknya Tradisi Nyotaimori di Jepang: Makan Sushi Tanpa Piring
Lima Jalan Utama Gokaido
Gokaido terdiri dari lima jalur utama yang menghubungkan Edo dengan wilayah lain di Jepang, masing-masing dengan fungsi strategisnya sendiri.
1. Tōkaidō
Tōkaidō merupakan jalur paling terkenal dan tersibuk karena menghubungkan Kyoto dan Edo. Dibandingkan jalur Gokaido lainnya, rute ini memiliki intensitas penggunaan tertinggi karena melewati wilayah pesisir timur Honshu yang relatif datar dan padat penduduk.
Sepanjang jalurnya terdapat 53 kota pos (shukuba) yang berfungsi sebagai tempat beristirahat dan pengisian suplai bagi para daimyo. Popularitas Tōkaidō juga diabadikan dalam karya sastra dan seni, seperti Tōkaidō Gojūsan-tsugi. Hingga kini, jalur ini masih digunakan dan bahkan menjadi rute Tōkaidō Shinkansen yang mengikuti jejak sejarahnya.
2. Nakasendō
Berbeda dari Tōkaidō yang berada di pesisir, Nakasendō membentang melalui pegunungan di pedalaman Honshu. Jalur ini dikenal lebih aman dari cuaca ekstrem dan gangguan laut.
Nakasendō memiliki 63 kota pos dan berfungsi sebagai jalur pendukung sekaligus pengaman pemerintahan Tokugawa karena dapat digunakan sepanjang tahun dan lebih mudah diawasi. Dari sisi sosial dan budaya, jalur ini mendorong perkembangan kota-kota pedalaman. Hingga kini, pengaruhnya masih terasa, salah satunya di kawasan wisata bersejarah Magome–Tsumago.
3. Kōshū Kaidō
Kōshū Kaidō menghubungkan Edo dengan Provinsi Kai, yang kini dikenal sebagai Prefektur Yamanashi. Jalur ini memiliki peran strategis sebagai penghubung Edo dengan wilayah barat dan pedalaman, khususnya area sekitar Gunung Fuji.
Dengan 44 kota pos, Kōshū Kaidō menawarkan rute yang lebih pendek dibandingkan Tōkaidō dan Nakasendō, sehingga lebih efisien untuk mobilitas orang dan barang. Jalur ini juga berfungsi penting dalam pengamanan wilayah barat Edo serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah pedalaman. Hingga kini, jejak Kōshū Kaidō masih bisa ditemui pada jaringan jalan dan permukiman di Jepang tengah.
4. Ōshū Kaidō
Ōshū Kaidō menghubungkan Edo dengan wilayah Ōshū atau kawasan Tōhoku. Jalur ini memiliki 24 kota pos yang memfasilitasi perjalanan para daimyo dari wilayah utara menuju Edo.
Peran jalur ini sangat krusial secara politik dan militer, terutama untuk mengontrol wilayah utara yang sempat rawan ketidakstabilan di awal masa keshogunan. Selain itu, Ōshū Kaidō juga mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Tōhoku. Hingga kini, jalur ini masih digunakan sebagai rute transportasi modern yang mengikuti jejak historisnya.
5. Nikkō Kaidō
Nikkō Kaidō menjadi jalur paling istimewa di antara Gokaido lainnya. Jalur ini menghubungkan Edo dengan Nikkō, lokasi makam Tokugawa Ieyasu, pendiri Keshogunan Tokugawa.
Fungsinya lebih bersifat seremonial dan digunakan oleh pejabat serta peziarah yang menuju Nikkō Tōshō-gū. Awalnya, jalur ini mengikuti rute Ōshū Kaidō sebelum bercabang menuju Nikkō. Sepanjang jalurnya terdapat 21 kota pos yang mendapat perhatian khusus dari pihak keshogunan demi menjaga citra dan legitimasi kekuasaan.
Baca juga: Restorasi Meiji: Pengubah Wajah Jepang yang Terisolasi Menjadi Imperialis dalam 30 Tahun
Secara budaya, Nikkō Kaidō menjadi simbol kuat hubungan antara kekuasaan dan keagamaan pada periode Edo. Hingga kini, jalur ini masih dikenang lewat deretan pohon cedar tua yang menghiasi jalan modern di atas rute bersejarahnya.
Seperti halnya Jalan Pantura di Indonesia, sistem jalan Gokaido menjadi contoh nyata bagaimana infrastruktur dimanfaatkan sebagai alat integrasi pertahanan, politik, ekonomi, dan budaya. Hingga era modern, jalur-jalur Gokaido tetap dijadikan acuan pembangunan tanpa menghilangkan jejak sejarah yang melekat di sepanjang rutenya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber Berita