Rabu, 07 JANUARI 2026 • 12:20 WIB

Mengapa Sebagian Umat Kristiani Baru Merayakan Natal di Awal Januari? Ini Jawabannya!

Author

Ilustrasi Pohon Natal. (Unsplash)

INDOZONE.ID - Hari ini, 7 Januari 2026, ketika banyak negara sudah menurunkan lampu hias dan menyimpan pohon Natal, perayaan justru mencapai puncaknya bagi jutaan orang di belahan dunia lain. 

Di negara-negara seperti Rusia, Ethiopia, dan Mesir, gereja-gereja dipenuhi suasana ibadah yang khidmat ketika sekitar 260 juta umat Kristiani, atau sekitar 12 persen dari total populasi Kristen dunia berdasarkan data Pew Research Center, secara resmi merayakan hari kelahiran Yesus Kristus.

Bagi penganutnya, momentum ini jauh melampaui sisa kemeriahan tahun baru, ia merupakan ketetapan spiritual yang terjaga teguh selama berabad-abad meski terus digempur arus modernitas. 

Perayaan yang berlangsung dua pekan pasca-Natal Barat ini identik dengan prosesi kebaktian malam yang khusyuk serta jamuan tradisional sebagai tanda berakhirnya periode puasa yang disiplin. 

Baca juga: Penggalian Arkeologi di Xizang Ungkap Jejak Manusia Sejak 100.000 Tahun Lalu

Keunikan rentang waktu ini pun kerap mengundang tanya mengenai latar belakang historis yang membedakan penanggalan mereka dengan kalender dunia pada umumnya.

Mengapa ada dua kalender yang berbeda dalam satu agama yang sama? Bagaimana sebuah kesalahan hitung astronomi di masa Romawi kuno bisa menciptakan selisih 13 hari yang bertahan hingga ribuan tahun kemudian?

Warisan Julius Caesar dan Koreksi Paus Gregorius

Perbedaan tersebut berawal dari peristiwa bersejarah pada tahun 325 Masehi, ketika Konsili Nicea Pertama diselenggarakan untuk menyeragamkan ajaran gereja, khususnya dalam penetapan tanggal Paskah sebagai perayaan utama umat Kristiani. 

Dalam forum itu, para uskup sepakat mengadopsi kalender Julian, sistem penanggalan berbasis matahari yang diperkenalkan oleh Julius Caesar pada 46 SM dengan masukan dari astronom Mesir, Sosigenes.

Namun, perhitungan yang disusun Sosigenes ternyata belum sepenuhnya tepat, karena panjang tahun matahari yang dihitungnya meleset sekitar 11 menit. 

Ketidaktepatan yang terlihat kecil tersebut terus terakumulasi dari tahun ke tahun, hingga akhirnya memicu pergeseran waktu yang signifikan dalam sistem penanggalan.

Pada 1582, ketidaksesuaian penanggalan yang berdampak pada perayaan hari-hari besar keagamaan mendorong Paus Gregorius XIII untuk melakukan pembaruan melalui penerapan kalender Gregorian. 

Walaupun sistem ini dinilai mampu mengoreksi akumulasi kesalahan sebelumnya, Gereja Ortodoks, yang telah terpisah sejak Skisma Besar 1054, memilih untuk tidak menerima perubahan tersebut.

Di luar penolakan terhadap otoritas Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja, umat Ortodoks juga mengkhawatirkan bahwa penerapan kalender baru berpotensi membuat perayaan Paskah bertepatan dengan Paskah Yahudi (Passover), sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan ketentuan dalam tradisi dan teks suci mereka.

Menurut sejarawan Aram Sarkisian, perdebatan mengenai identitas gereja kala itu berlangsung sangat sengit. Hal ini dikarenakan persoalan kalender bukan hanya menyangkut aspek teologis, melainkan juga terkait erat dengan eksistensi komunitas tersebut. 

Pada tahun 1923, disparitas antara sistem Julian dan Gregorian telah melebar hingga 13 hari. Kendati Kongres Pan-Ortodoks di Konstantinopel sempat mengusulkan solusi berupa kalender Julian yang direvisi oleh ilmuwan Milutin Milanković, kesepakatan utuh gagal tercapai di antara seluruh gereja.

Di saat gereja-gereja di Yunani, Siprus, dan Rumania telah bermigrasi ke penanggalan 25 Desember, otoritas gereja di Rusia serta Mesir memilih untuk melestarikan tradisi kuno. 

Komitmen ini menyebabkan mereka tetap menyelenggarakan Natal pada 7 Januari, sebuah ketetapan yang akan bertahan hingga tahun 2100, sebelum akhirnya selisih waktu diprediksi akan bertambah satu hari menjadi tanggal 8 Januari.

Di luar persoalan kalender, keindahan tradisi ini terletak pada maknanya yang mendalam. Umat memulai persiapan melalui ibadah puasa 40 hari dengan pantangan makanan hewani dan minyak zaitun. 

Baca juga: Penemuan Kepala Patung Hestia di Turki: Jejak Kuno Sang Dewi Perapian

Dalam perjamuan puncaknya, masyarakat di Rusia dan Ukraina menghidangkan 12 macam masakan sebagai simbol dari 12 murid Yesus. 

Menu utama yang wajib hadir adalah kutya, sejenis bubur gandum manis yang merepresentasikan simbol kebersamaan serta ikatan keluarga.

Tradisi Natal ini menjangkau berbagai budaya, mulai dari hidangan fattah di Mesir hingga sup wat di Ethiopia yang melambangkan 12 rasul. 

Melalui fenomena pawai Alilo dan hiasan gandum didukh, semangat yang diusung tetap sama: sebagaimana dicatat oleh media internasional, ini adalah upaya menjaga kesakralan tradisi di tengah perbedaan sistem penanggalan modern.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: National Geographic, Al Jazeera

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU