INDOZONE.ID - Kedatangan Commodore Matthew Perry pada tahun 1853 dengan menggunakan “kapal hitam” miliknya merupakan momen penting dalam sejarah perkembangan Jepang.
Pasukan Amerika datang dengan peralatan tempur yang jauh lebih maju dan modern merupakan ancaman serius yang tidak mungkin dilawan Jepang.
Mereka berlabuh di Teluk Edo. Kapal uap Amerika yang jauh lebih besar dari pada kapal Jepang, dengan membawa dua frigat uap dan dua kapal layar.
Jepang langsung sadar bahwa mereka tidak akan mampu melawan kapal Amerika jika terjadi konflik terbuka dengan kapal Amerika.
Commodore Perry ditugaskan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk mengajukan beberapa permintaan kepada Jepang.
Baca juga: Organisasi Ini Jarang Dibahas, Padahal Jadi Titik Awal Pendidikan Modern di Indonesia
Beberapa di antaranya, memastikan perlindungan bagi pelaut amerika; mendapatkan akses ke pelabuhan jepang untuk perbekalan dan batu bara; serta mencari hak perdagangan.
Tak punya pilihan, Jepang terpaksa menandatangani perjanjian Kanagawa (1854).
Akibatnya, Jepang harus membuka dua pelabuhan dan mengizinkan keberadaan konsul Amerika.
Perjanjian tersebut membuat Jepang terbuka dengan dunia luar.
Sebelumnya, Keshogunan Tokugawa yang memerintah Jepang menerapkan politik isolasi dengan menutup diri dari dunia luar selama dua abad.
Baca juga: Strategi Sun Yat-sen Menggulingkan Kekaisaran Tiongkok: Dari Anti-Manchu ke Tiga Prinsip Rakyat
Kedatangan Barat di Jepang tidak hanya Commodore Perry saja.
Pada tahun 1858, Inggris, Belanda, Rusia, dan Prancis berhasil membuat Jepang menandatangani beberapa perjanjian dagang baru yang disebut “Perjanjian Tidak Seimbang”.
Bakufu sebagai pemerintah pusat terpaksa menandatangani perjanjian itu secara, setelah melakukan diskusi panjang.
Jepang takut mereka “akan kalah perang jika melawan”.
Perjanjian-perjanjian tidak menguntungkan dengan pihak Barat perjanjian membuat Jepang lebih banyak membuka perlabuhan mereka, menurunkan tarif, dan memberikan hak yuridiksi konsuler kepada warga asing.
Baca juga: Restorasi Meiji, Kebangkitan Negeri Matahari Terbit Menatap Era Modern
Perjanjian-perjanjian tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar bagi kekuasaan Keshogunan Tokugawa.
Bagi sejumlah kelompok, khususnya samurai dari wilayah-wilayah yang berpengaruh seperti Satsuma dan Choshu, ketidakmampuan Bakufu melindungi bangsa dari tekanan Barat merupakan tanda kelemahan yang serius.
Kekalahan dalam aspek diplomatik tersebut menyebabkan munculnya gelombang kemarahan di seluruh masyarakat Jepang.
Sejarawan menyatakan bahwa ejekan dari negara-negara Barat “dirasakan oleh semua kalangan.”
Hal itu mempercepat tumbuhnya nasionalisme di masyarakat Jepang yang sebelumnya terpecah oleh sistem feodal.
Baca juga: Bangkitnya Negeri Matahari Terbit: Transformasi Jepang Dimulai Di Era Meiji
Sementara itu wilayah-wilayah besar malah menfaatkan keterbukaan ini untuk mempercepat kemajuan militer mereka.
Klan Satsuma, Choshu, dan Saga mengadakan program “remilitarisasi” besar-besaran untuk menghadapi kekuatan Barat serta Bakufu yang mereka anggap melemah.
Tekanan dari Barat dan hilangnya kepemimpinan Bakufu menyebabkan lahirnya aliansi anti-Tokugawa yang dipimpin oleh Satsuma dan Choshu.
Mereka mendesak dikembalikannya kekuasaan kaisar sebagai lambang persatuan negara untuk menghadapi dunia modern.
Akibatnya, terjadilah Restorasi Meiji pada tahhun 1868 yang menandai era awal Jepang yang modern.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku The Making Of Modern Japan, Buku The Meiji Restoration