Jumat, 12 DESEMBER 2025 • 09:05 WIB

Dari Sekutu Jadi Musuh: Kisah Pecahnya Cina dalam Perang Saudara Mematikan

Author

Potret pemimpin Mao Zedong & Chiang Kai-shek (orca.cardiff.ac.uk). 

INDOZONE.ID - Perjalanan Cina memasuki abad ke-20 dipenuhi ketegangan, tetapi sedikit yang menyangka bahwa dua kekuatan yang pernah berdiri sejajar akhirnya saling menodongkan senjata. 

Kisah pecahnya Partai Komunis Cina (PKC) dan Partai Nasionalis atau Kuomintang (KMT) sering digambarkan seperti drama panjang tanpa tokoh hitam-putih. 

Mereka pernah berbagi musuh yang sama, Jepang, namun begitu bayang-bayang invasi itu pergi, yang tersisa justru tumpukan kecurigaan lama yang menunggu saat meledak. 

Banyak orang saat itu mengira perang sudah berakhir, padahal yang mereka saksikan hanyalah jeda singkat sebelum konflik jauh lebih besar dimulai.

Pada 1930-an, ketika Jepang memperluas agresinya, PKC dan KMT terpaksa membentuk United Front. 

Baca juga: Kaki Teratai Emas, Standar Kecantikan yang Menyiksa di Era Tiongkok Kuno

Banyak sejarawan menyebutnya “aliansi darurat” karena lahir dari rasa terancam, bukan kedekatan ideologi. 

KMT berada pada posisi pemerintahan formal, sementara PKC bergerak dari desa ke desa dengan taktik gerilya. 

Keduanya tahu mereka butuh satu sama lain, tetapi tidak pernah benar-benar saling percaya. 

Selama perang, ketegangan itu hanya ditutup rapat oleh kebutuhan bertahan hidup, seperti kain tipis yang mudah robek oleh perbedaan strategi dan ambisi.

Begitu Jepang menyerah pada 1945, tirai penahan itu robek. Pertikaian ideologis yang sempat ditunda langsung muncul ke permukaan. 

Baca juga: Kisah Monster Laut Perairan Edo di Masa Politik Isolasi Keshogunan Tokugawa

KMT di bawah Chiang Kai-shek membawa gagasan republik nasionalis yang ingin menstabilkan negara menggunakan birokrasi dan militer. 

Sebaliknya, PKC yang dipimpin Mao Zedong menawarkan revolusi sosial yang menempatkan rakyat desa sebagai motor perubahan. 

Dua visi ini tidak sekadar berbeda arah; keduanya saling meniadakan. Ketika masing-masing pihak menyatakan diri sebagai pemilik masa depan Cina, bentrokan tak terhindarkan.

Konflik pun meluas menjadi perang saudara. Banyak warga sipil mendapati diri mereka terjebak di antara dua tentara, kadang dipaksa berpindah wilayah, kadang hanya bisa menunggu kota mereka jatuh ke tangan siapa. 

Manchuria, wilayah kaya sumber daya dan strategis, menjadi panggung penting dalam menentukan siapa yang lebih tahan tekanan. 

PKC memanfaatkan dukungan lokal dan disiplin pasukan gerilya yang telah mereka bangun sejak lama. Kemenangan kecil mereka menumpuk dan membuat posisi KMT semakin terpukul. 

Baca juga: India Bukan Sekadar Taj Mahal: Ini Tiga Fondasi Utamanya

Ada banyak catatan tentang menurunnya moral tentara KMT, sementara PKC memperoleh simpati publik, terutama dari petani yang merasa dekat dengan janji perubahan sosial.

Puncak perubahan itu datang pada 1949. Di Beijing, Mao Zedong memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat Cina. 

KMT, yang tak mampu menahan gelombang kekalahan, mundur ke Taiwan sambil membawa klaim sebagai pemerintahan Cina yang sah. 

Dari satu tanah air lahirlah dua pemerintahan, dua identitas politik, dan dua narasi sejarah yang sampai sekarang tetap berselisih. 

Perpecahan ini bukan hanya soal wilayah, tetapi soal bagaimana sebuah bangsa memilih mengingat dirinya sendiri.

Baca juga: Meiji Revolution: Perjalanan Jepang Menjadi Raksasa Asia

Kisah pecahnya sekutu ini bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah. Perang saudara Cina mengingatkan bahwa kerja sama yang dibangun atas dasar kebutuhan sesaat sering kali rapuh. 

Ketika ancaman bersama hilang, perbedaan yang tidak pernah diselesaikan berubah menjadi bara yang membelah satu bangsa menjadi dua jalan sejarah yang tak lagi sama. 

Di balik itu, tersimpan pelajaran bahwa kompromi tanpa fondasi saling percaya hanya menunda, bukan mencegah, pecahnya konflik yang sudah lama mengendap.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Journal Of Cold War Studies, Bill Of Rights In Action

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU