Senin, 08 DESEMBER 2025 • 16:20 WIB

Kisah Kasim, Dikebiri sejak Kecil hingga Menguasai Kekaisaran Tiongkok

Author

Ilustrasi kasim istana yang mendampingi kaisar Tiongkok masa kuno. (History Collections)

INDOZONE.ID - Kasim telah dikenal sejak era kerajaan di Tiongkok sebelum masa kekaisaran. Di lingkungan istana, mereka bekerja sebagai pelayan di area dalam istana. 

Mayoritas kasim berasal dari keluarga kurang mampu. Sebagian besar harus dikebiri sebagai syarat untuk bertugas, sementara lainnya mengalami pengebirian sebagai bentuk hukuman atau karena dijual oleh orang tua mereka yang hidup dalam kemiskinan.

Untuk menjadi kasim, seorang anak laki-laki biasanya menjalani proses pengebirian sebelum mencapai masa pubertas. Tindakan ini umumnya dilakukan oleh seorang ahli yang berpengalaman, dan ia akan diberikan ramuan serta obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit. 

Baca juga: Mengenal Tiga Prinsip Rakyat: Warisan Sun Yat-sen yang Membentuk Tiongkok Modern

Bagian genitalnya diangkat menggunakan pisau tajam, kemudian lukanya dibalut dengan campuran herbal agar proses pemulihan berlangsung lebih cepat. Anak tersebut harus beristirahat selama beberapa minggu hingga pulih sepenuhnya, sebelum akhirnya mulai bekerja di lingkungan istana.

Kasim dinilai sebagai pelayan yang paling bisa diandalkan karena mereka tidak dapat merayu perempuan di rumah tangga atau memiliki anak yang dapat membentuk dinasti yang menyaingi dinasti kaisar yang sedang berkuasa.

Maka dari itu, kasim hanya bertugas melayani para wanita di istana kerajaan. Kasim bertindak sebagai pengantar dan pengangkut, pengawal, perawat, dan pada dasarnya menjalankan peran sebagai pelayan, kepala pelayan, dayang, dan juru masak. 

Meskipun memiliki posisi istimewa, pandangan masyarakat umum terhadap kasim sangat negatif karena mereka dianggap sebagai kelas terendah dari semua pelayan.

Mengapa orang-orang di Kekaisaran Tiongkok masih ingin menjadi kasim, meskipun mereka akan dikebiri dan menghadapi pandangan negatif masyarakat?

Kekayaan Kasim di Kekaisaran Tiongkok

Menurut Profesor Henry Tsai, kasim di Kekaisaran Tiongkok memiliki pengaruh dan kekayaan besar karena mereka melayani kaisar secara langsung.

Mereka dibawa ke istana sejak kecil, diberi kehidupan mewah, dan diajarkan adat istiadat istana, sehingga mereka sangat dekat dengan keluarga kekaisaran.

"Katakanlah kau masih remaja ketika mulai bekerja untuk pelindungmu, mungkin putra dari salah satu istri kaisar. Kau berusia 13 atau 14 tahun, dan pangeran ini berusia lima atau enam tahun. Kau mengawasinya. Kau bermain dengannya. Kalian tumbuh bersama. Lalu, berkat keberuntungan, anak yang kamu awasi ini menjadi kaisar. Tiba-tiba, kau menjadi salah satu orang yang paling dipercaya kaisar, dan itu memberimu akses besar ke kekuasaan," jelas Tsai dikutip laman News Wise.

Keintiman dan kesetiaan kasim-kasim ini membuat para kaisar sangat mempercayai mereka, bahkan beberapa kaisar membiarkan mereka memegang kekuasaan. 

Kaisar Dinasti Tang memberi gelar bangsawan kepada kasim, dan di masa lain, kasim diizinkan memiliki tanah, mengadopsi anak, memimpin pasukan, dan menduduki jabatan penting.

Menurut usrf.org, pada akhir abad ke-19 kasim biasanya memperoleh upah sekitar dua hingga empat tael per bulan, dengan gaji tertinggi mencapai dua belas tael untuk posisi tertinggi. Selain bayaran uang, setiap kasim juga mendapatkan jatah beras bulanan.

Untuk memenuhi kebutuhan makan, para kasim biasanya membentuk kelompok dan masing-masing membawa bahan makanan sesuai kemampuan, sementara proses memasak dilakukan di dapur istana.

Para kasim menempati hunian kecil yang disebut 'rumah bawahan', yakni gubuk-gubuk sederhana yang menempel pada bangunan utama agar mereka dapat dipanggil kapan saja. Hampir setiap halaman di Kota Terlarang memiliki area tempat tinggal kasim sendiri.

Menjadi Penasihat Politik Kaisar

Sejak era Chou hingga masa Han, Tang, Ming, dan Sung, kasim memainkan peran penting sebagai penasihat politik bagi para kaisar Tiongkok, dan jabatan ini bertahan hampir sampai akhir masa kekaisaran. 

Pada beberapa titik sejarah, kekuasaan mereka bahkan melampaui otoritas kaisar, sehingga mereka menjadi pengendali pemerintahan yang sesungguhnya.

Rangkaian stigma, keterbatasan fisik, serta penghinaan dari kelas elite menjadikan mereka lebih berambisi menggunakan kedudukan istana untuk memperluas kekuasaan politik.

Kehidupan sebagai budak biasa tidak pernah cukup bagi para kasim. Melalui aliansi dengan biara-biara Buddha yang memiliki kekuasaan besar, mereka menempuh berbagai cara, mulai dari memberi saran, mengawasi pergerakan orang, hingga terlibat dalam permainan politik, untuk merangkak naik ke jabatan-jabatan tinggi negara.

Pada masa Dinasti Han

Para kasim kerap memicu serta memperparah konflik antarfaksi politik sehingga melemahkan kesatuan pemerintahan. Mereka dianggap memiliki peran besar dalam runtuhnya Dinasti Han (206 SM–220 M).

Terutama pada abad ke-2 M, para kaisar yang lemah mudah dipengaruhi oleh kasim istana. Dukungan kekaisaran terhadap para kasim semakin menguat, dan posisi mereka makin kokoh setelah tahun 159 M ketika mereka membantu Kaisar Huan menyelesaikan sengketa suksesi keluarga. Sebagai balasan, lima kasim terkemuka diberi gelar bangsawan.

Baca juga: Peran Ideologi dan Kebijakan dalam Mengelola Sosial-Budaya Tiongkok: Dari Mao Zedong hingga Xi Jinping

Kasim Membangun Birokrasi Sendiri

Sejak awal abad ke-15, para kasim mulai membangun birokrasi kecil mereka sendiri di lingkungan istana, memungkinkan mereka mengakses dokumen-dokumen penting dan menyaring laporan yang diajukan para menteri sebelum sampai kepada kaisar.

Tak hanya itu, birokrasi tersebut juga memiliki cabang intelijen yang bertugas mengusut kasus korupsi dan mengawasi kemungkinan adanya pengkhianatan. Para tersangka bisa ditahan, dipukuli, atau disiksa di fasilitas penjara yang dibangun khusus oleh para kasim.

Menjelang akhir abad tersebut, jaringan administratif yang dipimpin kasim berkembang hingga mencakup sekitar 12.000 anggota, nyaris menyamai ukuran birokrasi negara. 

Pada periode akhir Dinasti Ming, jumlah kasim diperkirakan mencapai 70.000 orang, dan mereka hampir menguasai seluruh mekanisme istana.

Tokoh-tokoh seperti Wang Zhen, Wang Zhi, Liu Jin, dan Wei Zhongxian menjadi diktator paling terkenal pada masa itu, dan semuanya adalah kasim.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: World History Encyclopedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU