INDOZONE.ID - Sebuah skandal penelitian membuat gempar pada tahun 70-an. Kejadian memalukan yang dikenal dengan "Studi Sifilis Tuskegee" itu mengubah dunia akademik.
Studi Sifilis Tuskegee sejatinya ialah program dari US Public Health Service yang dilaksanakan di wilayah Tuskegee, Alabama, Amerika Serikat antara tahun 1932 hingga 1972.
Sebanyak 600 petani keturunan Afrika-Amerika dilibatkan dalam studi ini.
Di antara mereka 399 merupakan penderita sifilis, dan 201 orang sisanya menjadi populasi kontrol, atau yang tidak terkena sifilis.
Studi ini dilakukan untuk mengamati riwayat alami penyakit sifilis yang tak terobati.
Baca juga: Opperhoutvester: Kolaborasi Praja dan Rakyat dalam Pelestarian Hutan Mangkunegaran
Nah, pelanggaran etika terjadi pada studi ini. Para peneliti tidak memberi tahu diagnosis penyakit kepada para subjek penelitian.
Mereka juga tidak memberi obat utama untuk sifilis, yaitu penisilin, kepada para subjek.
Padahal penisilin sudah ditetapkan menjadi standar terapi pengobatan pada 1947.
Selain dua hal tersebut, peneliti juga melakukan penyelewengan etika lain.
Mereka rupanya tidak memberikan inform consent kepada para subjek penelitian.
Studi tersebut dinilai sebagai sebuah penipuan yang mengeksploitasi kelompok rentan, dan menimbulkan kerugian secara sengaja.
Baca juga: Misteri Wayang Kulit Manusia di Lereng Merbabu: Mitos atau Fakta?
Banyak korban tewas yang berjatuhan selama studi ini berlangsung, dampak dari pelanggaran etika tersebut.
Berbagai kebobrokan studi Sifilis Tuskegee pun terkuak ke media pada tahun 1972.
Di tahun yang sama studi ini dihentikan. Langkah tersebut diambil berdasarkan masukan dari Panel Penasihat Ad Hoc.
Panel ini dibentuk oleh Asisten Sekretaris untuk bidang Kesehatan dan Ilmiah, setelah berita tentang studi ini menyebar.
Baca juga: Makna Jack-o’-Lantern, Lentera Labu yang Jadi Ikon Perayaan Halloween di Dunia
Tujuh tahun kemudian, pada 1979, terbitlah Belmont Report, yang diinisiasi oleh Komisi Nasional Amerika Serikat, sebagai tindak lanjut dari kasus Studi Sifilis Tuskegee ini.
Belmond Report kemudian menjadi fondasi etika pada penelitian modern.
Dokumen ini meliputi tiga prinsip dasar universal etika penelitian, yaitu prinsip menghormati martabat manusia (respect for persons), prinsip kemanfaatan (beneficence), dan prinsip keadilan (justice).
Seiring berjalannya waktu, etika tentang penelitian pun semakin diperhatikan dan dijunjung tinggi, salah satunya yaitu munculnya kewajiban untuk mengurus ethical clearance saat akan melakukan penelitian.
Pada tahun 1997, 25 tahun setelah penghentian Studi Sifilis Tuskegee, Presiden Bill Clinton secara resmi menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa tersebut.
Baca juga: Tragedi Lion Air JT-610 Genap 7 Tahun, Begini Kronologi Lengkap dan Fakta di Baliknya
Ia juga mengumumkan bahwa Amerika akan berinvestasi untuk mendirikan The National Center of Bioethics in Research and Health Care di Tuskegee University.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Cdc.gov