Minggu, 31 AGUSTUS 2025 • 19:30 WIB

Perjalanan Sekar Rukun dalam Pergerakan Nasional Indonesia

Author

Peserta Kongres Pemuda II tahun 1928. (Sumber : kebudayaan.kemendikbud.go.id)

INDOZONE.ID - Terdapat pandangan dari masyarakat bahwa organisasi pemuda Sekar Rukun mempunyai peranan dalam melestarikan seni tradisional suku Sunda. Organisasi ini berdiri pada 26 Oktober 1919 di Batavia.

Mereka memiliki tujuan untuk mengumpulkan berbagai kalangan dari suku Sunda guna meningkatkan kualitas masyarakat Sunda dan melestarikan kebudayaannya. Dengan harapan organisasi ini dapat berkembang lebih baik, dipilihlah nama Sekar Rukun alih-alih Jong Sunda. Hal ini dikarenakan nama tersebut berbeda dari kebanyakan organisasi pemuda saat itu yang umumnya diawali dengan kata Jong.

Sebelumnya, banyak pendiri Sekar Rukun merupakan mantan anggota Jong Java yang tidak lagi bergabung karena visi, misi, dan pergerakan Jong Java cenderung meninggikan kebudayaan suku Jawa. Hal ini membuat para pelajar Sunda merasa terpinggirkan dan akhirnya memutuskan membentuk perkumpulan sendiri.

Baca juga: Melampaui Perbedaan: PPPKI dan Persatuan Kaum Nasionalis untuk Kemerdekaan Indonesia

Banyak pelajar dan tokoh Sunda ikut terlibat dalam pembentukan Sekar Rukun, antara lain: Iki Adiwidjaja, Hilman, Moh. Sapii, Djuwariah, Doni Ismail, Mangkudiguna, Prof. Dr. Husein Djajadiningrat, Iwa Kusumasumantri, dan R. Adjoe.

Dalam perjalanannya, Sekar Rukun juga menerbitkan surat kabar Sekar Roekoen. Pada Januari 1922, surat kabar ini resmi terbit setiap bulan dan dikelola langsung oleh organisasi. Isi pemberitaan banyak membahas kebudayaan Sunda.

Dalam bidang pendidikan, pandangan tokoh seperti Prof. Dr. Husein Djajadiningrat dan Iwa Kusumasumantri turut memengaruhi arah organisasi. Target pendidikan Sekar Rukun adalah memberikan pendidikan umum bagi semua kalangan serta pendidikan khusus untuk wanita. Untuk mendukung hal itu, Sekar Rukun menyediakan perpustakaan (bibliotheek) bagi para anggotanya, terutama pelajar, agar mudah mengakses berbagai referensi bermanfaat. Program ini sangat berpengaruh karena sebelumnya para siswa kesulitan mendapatkan buku-buku, khususnya yang diperlukan untuk sekolah.

Dalam hubungan antarorganisasi, pada 1922 Sekar Rukun menjalin kerja sama dengan Analfabetisme Bestrijdings Comite (A.B.C), sebuah organisasi pemuda yang berfokus pada pemberantasan buta huruf.

Pada 15 November 1925, Sekar Rukun turut hadir dalam pertemuan berbagai organisasi pemuda di gedung Lux Orientis, Batavia. Pertemuan tersebut melahirkan keputusan untuk menyelenggarakan Kongres Pemuda I. Sebelum kongres digelar, Sekar Rukun berinisiatif mengadakan pentas seni yang mengundang organisasi peserta kongres, bertempat di gedung Societeit Blavatsky Park, Weltevreden, Batavia.

Dalam Kongres Pemuda I, Sekar Rukun menjadi salah satu organisasi yang menyuarakan penggunaan bahasa Melayu dalam sidang-sidang kongres. Kongres ini menghasilkan proses awal pengakuan dan penerimaan cita-cita persatuan Indonesia, meskipun masih samar dan belum jelas.

Baca juga: Kongres Perempuan 1928: Saat Suara Perempuan Menggema dalam Pergerakan Nasional

Sekar Rukun tidak menjadi panitia persiapan Kongres Pemuda II karena polemik dengan Jong Java. Jong Java berusaha mengajak Sekar Rukun bergabung demi mewujudkan gagasan persatuan “Jawa Raya”. Namun, hal tersebut tidak disetujui oleh Sekar Rukun. Akhirnya, organisasi ini memutuskan ikut secara mandiri dalam Kongres Pemuda II dan tidak bergabung dengan Jong Java.

Sebagai konsekuensinya, Sekar Rukun juga turut menanggung biaya keikutsertaan sebesar f.250, dengan tiap cabang menyumbang f.35.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Journal.unja.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU