INDOZONE.ID - K.H. Hisyam merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan Muhammadiyah. Ia dikenal karena dedikasinya dalam mengembangkan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi oleh sekolah-sekolah Muhammadiyah pada masanya, K.H. Hisyam berperan memperkokoh fondasi pendidikan dengan menghadirkan sistem pengajaran yang relevan dan berorientasi pada nilai-nilai Islam.
Sebagai seorang pemimpin visioner, K.H. Hisyam menerapkan sejumlah kebijakan strategis yang bertujuan memperkuat eksistensi dan kualitas pendidikan Islam di Indonesia. Berikut tiga kebijakan penting yang ia terapkan:
1. Perubahan Kurikulum
K.H. Hisyam menyadari pentingnya pembaruan kurikulum agar mampu menjembatani jurang antara sistem pendidikan kolonial Belanda dan pendidikan Islam tradisional.
Pada masa itu, sekolah-sekolah Belanda menekankan ilmu pengetahuan umum tanpa memperhatikan nilai-nilai Islam, sedangkan pendidikan Islam tradisional lebih fokus pada ilmu agama dan mengabaikan pengetahuan umum.
Untuk mencapai keseimbangan, K.H. Hisyam mengembangkan dua model kurikulum utama, yaitu:
- Model Kurikulum Terintegrasi, yang mengadaptasi kurikulum sekolah kolonial dengan menambahkan pelajaran agama Islam sekitar 10–15% dari keseluruhan mata pelajaran. Model ini diterapkan di sekolah-sekolah umum Muhammadiyah seperti Volkschool, Standaardschool, HIS, MULO, dan HIK.
- Model Kurikulum Khas Muhammadiyah, yang dirancang untuk melahirkan kader mubaligh dan mubalighat. Dalam model ini, pendidikan agama lebih dominan (70%) dibandingkan pelajaran umum (30%). Model ini diterapkan di sekolah-sekolah keagamaan Muhammadiyah seperti Madrasah Ibtidaiyah, Diniyah, Mubalighin, Mualimin Mualimat, dan Zuama.
Baca juga: Ternyata Ini Loh Perbedaan Muhammadiyah dengan Organisasi Islam Lainnya
2. Peningkatan Jumlah Sekolah Muhammadiyah
Pada masa awal, sekolah Muhammadiyah hanya berjumlah tujuh dan semuanya berada di Yogyakarta, mencakup sekolah umum maupun sekolah agama. Dalam waktu tiga tahun, jumlah murid terus bertambah signifikan.
Empat tahun kemudian, jumlah sekolah Muhammadiyah di Pulau Jawa meningkat pesat menjadi 93 sekolah. Pertumbuhan ini berlanjut hingga pada 1932, ketika Muhammadiyah di bawah kepemimpinan K.H. Hisyam telah memiliki 324 sekolah. Pada 1938 jumlahnya mencapai 466 sekolah, mencakup berbagai jenis, seperti volkschool, HIS, hingga sekolah keagamaan.
Meskipun hanya sebagian sekolah yang memperoleh subsidi pemerintah, lembaga pendidikan Muhammadiyah tetap berkembang pesat. Lonjakan ini mencerminkan kontribusi besar K.H. Hisyam dalam memperkuat eksistensi Muhammadiyah sebagai lembaga pendidikan Islam modern di Indonesia.
Baca juga: Jejak Muhammadiyah dalam Pendidikan Islam di Sumatera Barat
3. Perubahan Kualitas Guru
Pada masa K.H. Ahmad Dahlan, kebutuhan guru di sekolah Muhammadiyah belum terlalu terasa karena jumlah sekolah masih terbatas di Yogyakarta. Namun, seiring berkembangnya sekolah Muhammadiyah ke berbagai daerah, kebutuhan guru yang sejalan dengan visi Muhammadiyah semakin penting.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah guru bernama Al-Qismul Arqa pada 1919, yang kemudian berubah nama menjadi Kweekschool Muhammadiyah. Namun, jumlah lulusan Kweekschool masih belum mencukupi.
Oleh karena itu, pada 1926 K.H. Hisyam mendirikan CVO (Cursus voor Volkschool Onderwijzers), kursus untuk melatih guru mengajar di Volkschool (Sekolah Desa) dengan masa studi dua tahun. Pada 1929, K.H. Hisyam juga mendirikan Normaalschool di Solo untuk melatih guru di Standaardschool dan Vervolgschool dengan masa studi empat tahun.
Upaya-upaya ini menunjukkan komitmen K.H. Hisyam dalam meningkatkan kualitas guru, sehingga mampu mendukung perkembangan pendidikan Muhammadiyah secara lebih luas dan terstruktur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ilmu Sejarah-S1