Kamis, 10 JULI 2025 • 17:30 WIB

Suaranya Membakar, Semangatnya Tak Padam: Warisan Perjuangan Rasuna Said

Author

Hajjah Rangkayo Rasuna Said (sumber: Cahaya Islam)

INDOZONE.ID - Pernah dengar nama Rasuna Said? Kalau kamu sering lewat kawasan Kuningan, Jakarta, pasti tahu jalan besar yang dinamai seperti itu. Tapi nggak banyak yang tahu bahwa di balik nama itu, ada sosok perempuan luar biasa yang berani melawan penjajahan, bahkan dari balik panggung politik yang dulu didominasi laki-laki.

Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir di Nagari Panyinggahan, Sumatera Barat, tahun 1910. Dari kecil, dia udah akrab dengan pendidikan agama dan tumbuh di tengah budaya Minangkabau yang menganut sistem matrilineal yang artinya, garis keturunan ditarik dari pihak ibu. Sistem ini bikin perempuan punya peran penting dalam kehidupan sosial, dan jelas pengaruhnya besar banget buat pembentukan karakter Rasuna.

Di usia muda, Rasuna sudah terjun ke dunia pergerakan lewat Sarekat Rakyat di Padang Panjang. Bukan cuma aktif, tapi ia dikenal kritis dan berani vokal. Ia juga mendirikan Persatuan Muslimin Indonesia (PMI), sebuah organisasi yang menggabungkan semangat Islam modernis dengan perjuangan kemerdekaan. Di sinilah Rasuna bersinar sebagai orator ulung, gaya bicaranya tegas, berapi-api, dan bikin banyak orang tergerak buat ikut berjuang. Ia bahkan dipercaya memimpin Departemen Perempuan, dan sukses mendorong para perempuan Minangkabau untuk turut terlibat dalam perlawanan terhadap penjajahan.

Baca juga: Perjuangan Perempuan Indonesia: Pendidikan sebagai Senjata Melawan Ketidakadilan

Tapi perjuangan Rasuna nggak cuma lewat organisasi. Pada 15 November 1932, ia naik ke podium Kongres Perempuan PMI di Payakumbuh dan menyampaikan pidato yang membakar semangat dan juga bikin Belanda gerah. Pidatonya secara terang-terangan mengkritik kolonialisme dan menyerukan kemerdekaan Indonesia. Nggak heran, pemerintah kolonial langsung menanggapinya dengan penangkapan. Ia dikenai pasal Vergaderverbod, yang melarang orang menggelar pertemuan tanpa izin.

Alih-alih gentar, Rasuna justru pakai momen persidangannya untuk kembali menyerukan pentingnya melawan penjajahan. Ia divonis satu tahun tiga bulan penjara. Tapi bukannya surut, semangat Rasuna justru makin menyala. Setelah bebas, dia nggak berhenti di politik, tapi juga mulai membangun akar perjuangan lewat pendidikan.

Ia mendirikan sekolah dan pusat pelatihan untuk perempuan, nggak cuma ngajarin baca tulis, tapi juga keterampilan hidup, agar perempuan Indonesia bisa mandiri dan berdaya. Buat Rasuna, kemerdekaan bukan cuma soal lepas dari penjajah, tapi juga soal membebaskan pikiran dan membuka peluang yang sama untuk semua, termasuk perempuan.

Baca juga: Evolusi Peran Perempuan Indonesia: Dari Pingitan hingga Politik

Rasuna Said bukan cuma nama jalan. Dia adalah suara lantang yang menggema dari masa lalu, perempuan yang berani melawan, dan simbol perjuangan tanpa kompromi. Dan hari ini, semangatnya masih hidup, di setiap langkah perempuan yang berani bicara, belajar, dan berdiri untuk keadilan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal.um-palembang.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU