INDOZONE.ID - Nauru, negara kepulauan yang terletak di barat daya Samudera Pasifik, yang pernah menjadi negara kaya karena kotoran burung. Namun, negara yang tidak memiliki ibu kota resmi ini kini jatuh miskin, hal itu juga karena kotoran burung.
Melansir The Guardian, Kamis (21/12/2023), selama ribuan tahun Nauru telah menjadi tempat persinggahan burung-burung yang bermigrasi ke benua lain dan membuang kotorannya di sana.
Secara alami, kotoran tersebut membentuk kerak guano, yang merupakan bahan dasar pembuat fosfat, elemen penting untuk membuat pupuk dan salah satu elemen penting bagi pembentukan protein serta metabolisme.
Negara ini telah menambang fosfat sejak tahun 1907. Selama beberapa dekade, fosfat menjadi sumber daya utama dan satu-satunya ekspor Nauru, mendominasi perekonomian pulau tersebut, dan kualitasnya merupakan yang tertinggi di dunia.
Baca Juga: Jejak Dakwah Sunan Kalijaga di Klaten: dari Batu Petilasan hingga Asal Usul Dusun Sepi
Industri fosfat dan jasa pemerintah menyediakan hampir seluruh lapangan kerja bergaji di pulau tersebut. Hampir sepanjang abad ke-20, industri fosfat dimiliki dan dioperasikan oleh perusahaan yang dikelola bersama oleh pemerintah Inggris, Australia, dan Selandia Baru.
Karena tambang fosfat, negara dengan luas hanya 21 km persegi ini sempat menjadi salah satu negara terkaya di dunia, dengan pendapatan per kapita mencapai US$27.000 per tahun atau sekitar Rp421 juta, dengan jumlah warga hanya sekitar 10.000 jiwa.
Jumlah ini jauh di atas Amerika Serikat, yang hanya memiliki pendapatan per kapita sebesar US$12.500 atau sekitar Rp195 juta per tahun kala itu.
Dengan hasil tambang ini, pemilik tanah menerima royalty dari pendapatan fosfat dan banyak warga Nauru yang menganggur karena keinginannya sendiri.
Selain itu, pemerintah pun tidak membebankan pungutan pajak kepada penduduknya, serta menggratiskan semua layanan fasilitas kesehatan kepada masyarakat.
Sayang, karena terus menerus ditambang, pada akhir abad ke-20 cadangan fosfat di Nauru menipis dan dengan cepat habis. Karena hanya bertumpu pada satu pendapatan ekonomi saja, pendapatan domestik bruto (PDB) Nauru lantas merosot tajam dan menyebabkan negara ini hampir bangkrut di awal abad ke-21.
Setelah itu, Nauru berjuang untuk mengembangkan sumber daya lain dan mencari sumber pendapatan alternatif. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan infrastruktur pertambangan dan mempercepat ekstraksi dan ekspor sisa cadangan fosfat primer, serta mengupayakan penambangan fosfat sekunder. Namun, upaya-upaya tersebut sangat sulit dilakukan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian