Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 17 DESEMBER 2023 • 15:09 WIB

Jejak Dakwah Sunan Kalijaga di Klaten: dari Batu Petilasan hingga Asal Usul Dusun Sepi

Jejak Dakwah Sunan Kalijaga di Klaten: dari Batu Petilasan hingga Asal Usul Dusun SepiSunan Kalijaga.

INDOZONE.ID - Sunan Kalijaga merupakan salah satu ulama terkenal yang tergabung dalam Wali Songo, sebutan bagi sembilan orang ulama yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Meski telah lama wafat, jejak dakwah Sunan Kalijaga masih dapat ditelusuri melalui berbagai peninggalan yang sampai sekarang masih dijaga dan dikelola dengan baik.

Salah satu peninggalan dari Sunan Kalijaga adalah sebuah batu petilasan yang dipercaya menjadi alas salat sang ulama. Batu petilasan ini terletak di Dusun Sepi, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten.

Baca Juga: Makna dan Simbol Ketupat yang Disantap Setiap Lebaran, Tradisi Jawa dari Sunan Kalijaga

Sampai saat ini, petilasan ini masih terawat dengan baik oleh para warga dan sering dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah.

Batu Petilasan Tempat Salat Sang Ulama

Batu petilasan yang diyakini sebagai tempat Sunan Kalijaga menunaikan salat subuh ini merupakan batu kapur yang berwarna kecoklatan dengan panjang sekitar 1,5 meter dan berbentuk datar cenderung elips.

Pada batu kapur tersebut terdapat cekungan-cekungan yang diyakini terbentuk dari gerakan sujud Sunan Kalijaga ketika salat seperti kepala, telapak tangan, serta telapak kaki. Ada pula cekungan lain yang diperkirakan menjadi tempat sang ulama menancapkan tongkatnya.

Jejak Dakwah Sunan Kalijaga di Klaten: dari Batu Petilasan hingga Asal Usul Dusun SepiJejak telapak kaki Sunan Kalijaga.

Perjalanan dakwah Sunan Kalijaga di Klaten ini berawal dari tugas yang diberikan oleh Sunan Bonang untuk menyebarkan agama Islam di utara Gunung Gambar, Gunung Kidul yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Cawas.

Saat tiba di Cawas, musim kemarau tengah melanda sehingga Sunan Kalijaga menjadi kesulitan untuk mendapatkan air wudhu. Pada akhirnya, beliau pun lalu berjalan ke bukit tak jauh dari Cawas.

Sesampainya di bukit tersebut, beliau menancapkan sebuah ranting pohon ke tanah lalu berdoa kepada Allah SWT untuk meminta pertolongan. Seusai berdoa, ranting tersebut dicabutnya.

Dari tempat ranting ditancapkan tadi, keluarlah sumber mata air. Dengan adanya sumber mata air tersebut, Sunan Kalijaga pun dapat mengambil wudhu dan menunaikan salat isya.

Tak lama setelahnya, Sunan Kalijaga melanjutkan perjalanan ke Kauman untuk menemui temannya yaitu Kyai Khatib Banyu Meneng, seorang ulama terpandang di Kauman. Akan tetapi, Sunan Kalijaga tak jadi mampir karena mendengar para santri yang tengah mengaji.

Sunan Kalijaga pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke arah timur. Sampai di suatu lokasi, Sunan Kalijaga berhenti sejenak dan memutuskan untuk membuat satu sumur yang kemudian diberi nama Sumur Kawak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Sunankalijaga.isi.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Jejak Dakwah Sunan Kalijaga di Klaten: dari Batu Petilasan hingga Asal Usul Dusun Sepi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!