Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 21 MARET 2026 • 09:52 WIB

Ternyata Ini Awal Tradisi Sungkem saat Hari Idul Fitri, Benarkh Hanya Ada di Indonesia?

Ternyata Ini Awal Tradisi Sungkem saat Hari Idul Fitri, Benarkh Hanya Ada di Indonesia?Ilustrasi sejarah sungkeman saat lebaran (Gemini AI)

INDOZONE.ID - Setiap perayaan Idul Fitri di Indonesia selalu diwarnai dengan tradisi khas yang sulit dipisahkan dari momen tersebut. Di antaranya adalah sungkem, yaitu bersimpuh di hadapan orang tua, serta menyantap hidangan ketupat. 

Meski sudah menjadi kebiasaan turun-temurun, tidak semua orang mengetahui asal-usul dari tradisi ini.

Jika dibandingkan dengan perayaan Idul Fitri di negara lain, tradisi di Indonesia memang memiliki keunikan tersendiri. Di berbagai belahan dunia Islam, perayaan ini umumnya diisi dengan saling memberi ucapan selamat tanpa ritual khusus seperti sungkem atau makanan simbolik tertentu.

Dalam tradisi Jawa, perayaan lebaran dengan nuansa saling memaafkan diyakini mulai berkembang sejak masa Sunan Bonang, salah satu tokoh Wali Songo pada abad ke-15. Ia menganjurkan umat Islam untuk menyempurnakan ibadah puasa di bulan Ramadan dengan saling meminta dan memberi maaf atas kesalahan yang telah dilakukan.

Baca juga: Sejarah Tradisi Sungkem dan Makan Ketupat Setiap Lebaran, Ternyata dari Zaman Wali Songo

Praktik saling memaafkan ini menjadi ciri khas yang menonjol di Indonesia. Berbeda dengan sebagian besar umat Islam di kawasan Timur Tengah atau negara lain, yang umumnya merayakan lebaran dengan ucapan selamat tanpa ritual khusus permohonan maaf secara formal.

Salah satu tradisi khas yang berkembang adalah sungkem. Dalam budaya Jawa, sungkem merupakan bentuk penghormatan kepada orang tua, kakek-nenek, dan orang yang lebih tua.

Prosesi ini dilakukan dengan cara membungkuk atau bersimpuh, lalu mencium atau menyentuhkan tangan orang tua ke dahi. Tindakan tersebut melambangkan kerendahan hati, bakti, serta penghormatan yang mendalam kepada orang yang lebih tua.

Selain sungkem, tradisi lain yang tidak kalah penting adalah menyantap ketupat, atau kupat dalam bahasa Jawa. Tradisi ini sering dikaitkan dengan ajaran Sunan Kalijaga, tokoh Wali Songo lainnya yang berperan dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.

Ketupat tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga memiliki makna simbolis. Istilah “kupat” sering diartikan sebagai “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan.

Baca juga: Filosofi Ketupat "Laku Papat" Dalam Budaya Jawa, Simbol Hari Raya Idul Fitri

Anyaman daun kelapa yang membungkus ketupat melambangkan berbagai kesalahan manusia, sementara bagian dalamnya yang berwarna putih mencerminkan kesucian setelah menjalani ibadah puasa, salat, dan rangkaian ibadah lainnya di bulan Ramadan.

Dengan demikian, tradisi lebaran di Indonesia tidak hanya menjadi momen perayaan, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai filosofis tentang permohonan maaf, penyucian diri, dan penghormatan terhadap sesama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Ternyata Ini Awal Tradisi Sungkem saat Hari Idul Fitri, Benarkh Hanya Ada di Indonesia?

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!