Bajak laut Tobelo dan Galela. (Facebook/Galela Tobelo Tempo Doeloe, Freepik)
INDOZONE.ID - Bagi penggemar kisah bajak laut seperti dalam film Pirates of the Caribbean atau petualangan kru Topi Jerami dalam One Piece, dunia perompak identik dengan kapal layar, pertempuran laut, dan perebutan kekuasaan di samudra.
Namun cerita serupa ternyata pernah benar-benar terjadi di Nusantara.
Di wilayah utara Pulau Halmahera, Maluku Utara, masyarakat Tobelo dan Galela pernah berubah dari komunitas nelayan damai menjadi kelompok bajak laut yang ditakuti di perairan timur Indonesia.
Berabad-abad lalu, Tobelo dan Galela dikenal sebagai dua komunitas nelayan yang hidup dari laut. Mereka tinggal di pesisir utara Halmahera dan menggantungkan kehidupan pada hasil tangkapan ikan.
Baca juga: Sosok Ching Shih, Bajak Laut Wanita Memimpin 70.000 Awak Kapal yang Tak Pernah Kalah
Walau memiliki adat, pemimpin, dan budaya berbeda, kedua komunitas ini tetap hidup berdampingan.
Mereka memiliki kepercayaan bahwa nenek moyang mereka diciptakan oleh Jou Giki Moi, sehingga setiap konflik biasanya diselesaikan melalui hukum adat.
Salah satu sistem unik dalam kehidupan mereka adalah konsep Canga.
Canga merupakan wilayah tangkapan ikan yang dimiliki oleh kelompok nelayan tertentu. Jika seseorang memasuki wilayah tersebut tanpa izin, ia harus memberikan kompensasi adat kepada pemilik wilayah.
Aturan ini menjaga keseimbangan kehidupan laut selama bertahun-tahun.
Namun kedamaian itu akhirnya terganggu oleh ancaman dari luar.
Baca juga: Jack Sparrow di Dunia Nyata: Dari Bajak Laut Tak Bermoral, Jadi Mualaf
Ketika jalur perdagangan internasional mulai ramai, datanglah perompak dari wilayah utara, khususnya dari Kepulauan Filipina.
Kelompok yang paling terkenal adalah bajak laut Balangingi dan Mindanao.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Facebook