Ilustrasi Pohon Natal. (Unsplash)
INDOZONE.ID - Hari ini, 7 Januari 2026, ketika banyak negara sudah menurunkan lampu hias dan menyimpan pohon Natal, perayaan justru mencapai puncaknya bagi jutaan orang di belahan dunia lain.
Di negara-negara seperti Rusia, Ethiopia, dan Mesir, gereja-gereja dipenuhi suasana ibadah yang khidmat ketika sekitar 260 juta umat Kristiani, atau sekitar 12 persen dari total populasi Kristen dunia berdasarkan data Pew Research Center, secara resmi merayakan hari kelahiran Yesus Kristus.
Bagi penganutnya, momentum ini jauh melampaui sisa kemeriahan tahun baru, ia merupakan ketetapan spiritual yang terjaga teguh selama berabad-abad meski terus digempur arus modernitas.
Perayaan yang berlangsung dua pekan pasca-Natal Barat ini identik dengan prosesi kebaktian malam yang khusyuk serta jamuan tradisional sebagai tanda berakhirnya periode puasa yang disiplin.
Baca juga: Penggalian Arkeologi di Xizang Ungkap Jejak Manusia Sejak 100.000 Tahun Lalu
Keunikan rentang waktu ini pun kerap mengundang tanya mengenai latar belakang historis yang membedakan penanggalan mereka dengan kalender dunia pada umumnya.
Mengapa ada dua kalender yang berbeda dalam satu agama yang sama? Bagaimana sebuah kesalahan hitung astronomi di masa Romawi kuno bisa menciptakan selisih 13 hari yang bertahan hingga ribuan tahun kemudian?
Perbedaan tersebut berawal dari peristiwa bersejarah pada tahun 325 Masehi, ketika Konsili Nicea Pertama diselenggarakan untuk menyeragamkan ajaran gereja, khususnya dalam penetapan tanggal Paskah sebagai perayaan utama umat Kristiani.
Dalam forum itu, para uskup sepakat mengadopsi kalender Julian, sistem penanggalan berbasis matahari yang diperkenalkan oleh Julius Caesar pada 46 SM dengan masukan dari astronom Mesir, Sosigenes.
Namun, perhitungan yang disusun Sosigenes ternyata belum sepenuhnya tepat, karena panjang tahun matahari yang dihitungnya meleset sekitar 11 menit.
Ketidaktepatan yang terlihat kecil tersebut terus terakumulasi dari tahun ke tahun, hingga akhirnya memicu pergeseran waktu yang signifikan dalam sistem penanggalan.
Pada 1582, ketidaksesuaian penanggalan yang berdampak pada perayaan hari-hari besar keagamaan mendorong Paus Gregorius XIII untuk melakukan pembaruan melalui penerapan kalender Gregorian.
Walaupun sistem ini dinilai mampu mengoreksi akumulasi kesalahan sebelumnya, Gereja Ortodoks, yang telah terpisah sejak Skisma Besar 1054, memilih untuk tidak menerima perubahan tersebut.
Di luar penolakan terhadap otoritas Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja, umat Ortodoks juga mengkhawatirkan bahwa penerapan kalender baru berpotensi membuat perayaan Paskah bertepatan dengan Paskah Yahudi (Passover), sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan ketentuan dalam tradisi dan teks suci mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: National Geographic, Al Jazeera