Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 06 JANUARI 2026 • 21:00 WIB

Geger Pecinan: Jejak Tragedi Tionghoa di Semarang Abad ke-18

Geger Pecinan: Jejak Tragedi Tionghoa di Semarang Abad ke-18Peta Semarang di Algemeene Rijks Archief (ARA). (Sumber: wikimedia.org)

INDOZONE.ID - Kawasan Pecinan berada tepat berseberangan dengan Pekojan di Kota Semarang. Sejarah wilayah ini tak lepas dari peristiwa kelam yang terjadi pada abad ke-18, tepatnya pada 1740. Saat itu, masyarakat Tionghoa di Batavia melakukan perlawanan terhadap VOC. Namun, pemberontakan tersebut berakhir tragis dengan pembantaian besar-besaran terhadap warga Tionghoa.

Kabar duka itu sampai ke Semarang dan menggugah Kapitein Tionghoa setempat bernama Kwee An Say. Demi melindungi warga Tionghoa di kawasan Pecinan Semarang, ia berinisiatif membangun benteng pertahanan dari balok kayu dan papan yang kokoh. Benteng ini dikenal dengan nama Pan-shia, yang merujuk pada material kayu sebagai bahan utamanya.

Sebelum Pan-shia berdiri, VOC telah lebih dulu membangun benteng Fort Vijfhoek di kawasan yang kini dikenal sebagai Kota Lama. Benteng berbentuk segi lima ini menjadi simbol kekuatan militer Belanda dan memegang kendali jalur perdagangan di pesisir utara Jawa. Keberadaan Fort Vijfhoek inilah yang mendorong Kwee An Say membangun Pan-shia sebagai langkah tandingan untuk melindungi permukiman Tionghoa.

Baca juga: Kisah Nepotisme di Zaman VOC: Pengaruh Keluarga Elite dalam Pemerintahan Kolonial

Dari sisi lain, kawasan perumahan Tionghoa saat itu relatif aman karena dikelilingi Kali Semarang yang memiliki aliran cukup dalam. Selain dibangun dari kayu, benteng Pan-shia juga dijaga ketat oleh warga Tionghoa setiap malam untuk mengontrol situasi di sekitar permukiman.

Perlawanan terhadap VOC tidak hanya digerakkan oleh tokoh lokal. Gerakan ini juga dipimpin oleh panglima perang legendaris Tan Sin Ko, yang dikenal dengan sebutan Singseh. Bersama tokoh pelarian dari Batavia bernama Khe Panjang, mereka menjadi otak di balik strategi penyatuan laskar Tionghoa di sepanjang pesisir Jawa. Kehadiran para pemimpin berpengalaman ini memberi kekuatan militer yang signifikan bagi pasukan Tionghoa.

Pada 1741, benteng VOC di Semarang dikepung koalisi Tionghoa-Jawa. Pasukan gabungan ini terdiri dari sekitar 20.000 orang Jawa, termasuk pasukan artileri Sunan Pakubuwono II, serta 3.500 orang Tionghoa yang dilengkapi 30 pucuk meriam. Meski pengepungan berlangsung sengit, pertahanan VOC tetap tak tertembus.

Sebaliknya, VOC justru mendapat bala bantuan dari Batavia dan Makassar. Serangan balasan tersebut berhasil memukul mundur pasukan pemberontak. Kapitein Kwee An Say bersama sisa pasukannya kemudian ditangkap VOC, dan hingga kini nasib mereka tidak diketahui.

Berdasarkan koleksi Algemeene Rijks Archief (ARA), peta Semarang tahun 1741 menunjukkan perubahan besar. Permukiman Tionghoa di Semarang terlihat menghilang pascapemberontakan. Dalam legenda peta, pada bagian “C” tertulis Chinese Camp Verbrand yang berarti “Pecinan Dibakar”.

Baca juga: Jejak Awal Pendidikan Formal di Nusantara: Dari Portugis ke VOC

Wilayah yang dibakar berada di sebelah timur Kali Semarang. Hal ini mengindikasikan bahwa sebelum Geger Pecinan, permukiman Tionghoa memang sudah berkembang di sekitar aliran Kali Semarang. Catatan Chinese Camp Verbrandtersebut menandai musnahnya permukiman lama yang dulunya terletak di kawasan yang kini menjadi jalan utama kota.

Pasca pembakaran, VOC memaksa para penyintas untuk pindah ke lokasi baru yang kini dikenal sebagai Pecinan Gang Baru dan Gang Lombok. Pemindahan ini dilakukan secara sengaja agar warga Tionghoa tetap berada dalam jangkauan pengawasan meriam VOC, demi mencegah terulangnya perlawanan serupa di kemudian hari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Anri.go.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Geger Pecinan: Jejak Tragedi Tionghoa di Semarang Abad ke-18

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!