INDOZONE.ID - Gerakan 212 atau yang dikenal sebagai Aksi 2 Desember merupakan demonstrasi besar yang berlangsung pada 2 Desember 2016 di Jakarta.
Aksi ini juga disebut sebagai Aksi Bela Islam III, yang dipimpin oleh berbagai organisasi dan kelompok Islam untuk menyuarakan protes terhadap dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Baca juga: 5 Arti Mimpi Bertemu Orang yang Sama Berulang Kali Menurut Primbon Jawa
Gerakan ini bermula dari pernyataan Ahok terkait Surat Al-Maidah ayat 51, yang kemudian memunculkan reaksi keras dari sebagian umat Islam yang menganggap ucapannya sebagai bentuk penistaan agama. Situasi tersebut memicu mobilisasi massa dalam jumlah besar, yang kemudian berujung pada aksi demonstrasi nasional untuk menuntut proses hukum.
Bagi umat Islam, Gerakan 212 dianggap sebagai wujud pembelaan terhadap nilai-nilai keagamaan dan bentuk solidaritas umat Islam dalam menjaga kehormatan agama. Identitas keislaman menjadi kekuatan sosial yang mempersatukan massa dalam aksi tersebut.
Baca juga: Kisah Billy Milligan: Kriminal yang Punya 24 Kepribadian dengan Vonis DID Pertama di AS
Sejumlah tokoh dan organisasi Islam turut terlibat dalam aksi 212 yang berlangsung pada 2016 lalu, di antaranya Amien Rais, kader Muhammadiyah, Front Pembela Islam (FPI), Arifin Ilham, Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), serta Ma’ruf Amin selaku Ketua MUI saat itu. Dukungan juga datang dari organisasi seperti Persis (Persatuan Islam) dan Persatuan Umat Islam.
Gerakan 212 ini turut memengaruhi peta politik nasional. Tekanan publik dari aksi ini berpengaruh pada menurunnya elektabilitas Ahok dan mendorong proses hukum yang akhirnya menjatuhkan hukuman pidana kepada mantan gubernur tersebut.
Baca juga: 5 Zodiak Cewek yang Paling Pekerja Keras dan Disiplin, Siapa Saja Mereka?
Secara keseluruhan, Aksi 212 in bukan hanya sekadar protes spontan, melainkan gerakan sosial berbasis religiusitas dengan tujuan mempertahankan nilai dan identitas keagamaan. Aksi ini mencerminkan bagaimana solidaritas umat dapat berkembang menjadi kekuatan politik dan sosial di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Journal Of Social Contemplativa.