Ilustrasi Halloween (freepik.com)
INDOZONE.ID - Malam Halloween identik dengan labu bercahaya, kostum menyeramkan, dan teriakan “Trick or Treat!” yang menggema di jalanan.
Tapi dibalik keseruan itu, tersimpan sejarah panjang tentang kepercayaan kuno, upacara spiritual, dan pertemuan antara dunia hidup dan mati.
Baca juga: 5 Fakta Sejarah Hari Sumpah Pemuda yang Belum Banyak Diketahui
Ratusan tahun sebelum Halloween dikenal seperti sekarang, masyarakat Celtic di wilayah Irlandia, Skotlandia, dan Wales sudah memiliki tradisi kuno bernama Samhain.
Festival ini dirayakan setiap tanggal 31 Oktober untuk menandai berakhirnya musim panen dan datangnya musim dingin masa yang dianggap gelap, dingin, dan penuh bahaya.
Orang-orang Celtic percaya kalau pada malam Samhain, batas antara dunia orang hidup dan dunia arwah menjadi sangat tipis. Roh orang mati dipercaya kembali ke bumi untuk mencari tempat tinggal atau bahkan mengganggu yang masih hidup.
Untuk melindungi diri, penduduk menyalakan api unggun besar di perbukitan, memakai topeng dan pakaian menyeramkan untuk menyamarkan identitas dari roh-roh jahat yang berkeliaran. Selain itu, mereka menyiapkan persembahan makanan di depan rumah untuk menenangkan arwah dan dewa kematian.
Baca juga: Tren Halloween di Indonesia, dari Tradisi Barat hingga Kreasi Lokal Populer dan Kreatif
Momen ini juga digunakan sebagai ritual ramalan masa depan banyak orang Celtic yang mencoba memprediksi nasib mereka di musim dingin yang akan datang menggunakan batu, api, dan tulang hewan.
Ilustrasi labu untuk Halloween. (Freepik).
Samhain bukan sekadar pesta arwah. Bagi masyarakat Celtic, ini adalah perayaan spiritual terbesar dalam setahun, semacam “Tahun Baru” yang menandai transisi antara terang dan gelap, hidup dan mati.
Ketika agama Kristen mulai menyebar ke Eropa pada abad ke-9, Gereja berusaha mengubah tradisi pagan menjadi perayaan yang lebih religius.
Tahun 835 M, Paus Gregorius IV menetapkan 1 November sebagai Hari Para Kudus (All Saints’ Day), sebuah hari untuk menghormati para martir dan orang suci. Malam sebelum perayaan itu disebut All Hallows’ Eve, yang kemudian disingkat menjadi Halloween.
Meskipun bernuansa baru, masyarakat tetap mempertahankan unsur mistis dari Samhain seperti penggunaan lilin, pakaian seram, dan doa bagi arwah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Britannica.com