INDOZONE.ID - Sudah tahu fenomena langit apa saja yang bisa kamu saksikan sepanjang Juli 2026?
Kalau belum tahu, pas banget nih bulan ini, langit akan menghadirkan sejumlah peristiwa menarik yang sayang untuk dilewatkan.
Menariknya beberapa peristiwa bisa menambah pengalaman baru kamu lho.
Lalu apa saja fenomena langit di Juli 2026 ini? berikut infomarsi lengkapnya:
1. Bulan Sabit Muda dan Venus Berdampingan
Sekitar 17 Juli 2026, langit senja akan menampilkan pemandangan menarik saat Bulan sabit muda tampak berdekatan dengan Venus.
Fenomena ini sering menjadi salah satu momen favorit para pengamat langit karena mempertemukan dua objek terang dalam satu bidang pandang.
Dari Indonesia sendiri, momen ini berpotensi terlihat indah setelah Matahari terbenam, terutama jika cuaca cerah dan langit tidak tertutup awan.
Selain indah dipandang, pasangan Bulan dan Venus juga punya cerita panjang dalam sejarah manusia.
Banyak peradaban kuno menjadikan peristiwa ini sebagai penanda simbol keberuntungan.
2.Fase Perbani Awal Bikin Detail Bulan Terlihat Jelas
Setelah pesona Bulan sabit dan Venus, kondisi langit Juli 2026 kembali menghadirkan momen menarik lewat fase perbani awal pada 21 Juli 2026.
Pada fase ini, separuh permukaan Bulan tampak terang, sehingga bentuk kawah dan permukaannya bisa terlihat lebih jelas.
Kondisi ini justru sering disukai astronom amatir karena detail Bulan tampak lebih tegas dibandingkan saat purnama.
Fenomena tersebut terjadi karena adanya garis terminator, yaitu batas antara sisi terang dan gelap di permukaan Bulan.
Di sepanjang garis ini, bayangan permukan Bulan terlihat lebih jelas.
3. Hujan Meteor
Menjelang akhir Juli, perhatian pengamat langit akan bergeser dari fenomena Bulan ke hujan meteor Delta Aquarid Selatan.
Fenomena ini mulai aktif sejak pertengahan Juli dan diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 28-29 Juli 2026.
Bagi pengamat di Indonesia, peluang menyaksikannya cukup menarik karena titik radiannya berada relatif tinggi di langit selatan.
Baca juga: 7 Fenomena Aneh yang Pernah Terjadi pada Bumi, Kamu Pernah Ngalamin?
Hujan meteor ini terjadi saat Bumi melintasi jalur debu dan serpihan yang ditinggalkan oleh komet purba.
Ketika partikel kecil itu masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, maka gesekan dengan udara menciptakan garis cahaya yang kita kenal sebagai meteor atau “bintang jatuh”.
Meski ukurannya sering kali hanya sebesar butiran pasir, cahaya yang dihasilkan bisa tampak memukau di langit malam.
Berbeda dari hujan meteor lain yang lebih terang, Delta Aquarid cenderung terlihat lebih halus dan redup.
Oleh karena itu, lokasi pengamatan yang gelap dan jauh dari polusi cahaya sangat membantu untuk melihatnya dengan lebih jelas.
4. Buck Moon
Setelah hujan meteor mulai menghiasi langit, bulan ini juga akan ditutup dengan purnama yang dikenal sebagai Buck Moon pada 29 Juli.
Nama ini berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara, yang mengamati bahwa pada periode ini rusa jantan mulai menumbuhkan tanduk baru.
Meski berasal dari budaya tertentu, istilah Buck Moon kini sering digunakan dalam dunia astronomi populer.
Secara astronomis, Buck Moon tidak berbeda jauh dari purnama lainnya. Fenomena ini terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir sejajar, sehingga sisi Bulan yang menghadap Bumi tampak terang sepenuhnya.
5.Waktu Terbaik Mengamati Inti Galaksi Bima Sakti
Selain Bulan dan hujan meteor, Juli juga menjadi waktu menarik untuk mengamati inti Galaksi Bima Sakti.
Dari Indonesia, pusat galaksi ini bisa terlihat di langit selatan setelah Matahari terbenam hingga menjelang tengah malam, terutama di lokasi yang minim polusi cahaya.
Baca juga: Fenomena Langka! Awan Noctilucent yang Bersinar di Langit Malam
Bagian terang yang tampak seperti kabut itu sebenarnya adalah kumpulan bintang di pusat galaksi atau tempat lubang hitam supermasif Sagittarius A berada.
Menariknya, cahaya dari pusat Bima Sakti membutuhkan waktu sekitar 26 ribu tahun untuk sampai ke Bumi, sehingga saat melihatnya kita seperti sedang menatap masa lalu alam semesta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Astronomy.com