INDOZONE.ID - Ketika berbicara mengenai dampak perubahan iklim, kebanyakan orang akan langsung membayangkan banjir, kekeringan, atau cuaca ekstrem.
Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa perubahan iklim juga berpotensi membuat tagihan air rumah tangga ikut naik.
Lalu, kenapa hal itu bisa terjadi?
Penelitian yang dipimpin Jennifer Skerker dari Stanford University menggunakan Kota Santa Cruz, California, sebagai studi kasus.
Baca juga: Benarkah Ikan Tidak Memiliki Leher? Penelitian Baru Mulai Mengubah Jawabannya
Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan biaya penyediaan air bersih sehingga tarif air berpotensi ikut naik.
Santa Cruz hampir sepenuhnya bergantung pada aliran sungai dan satu bendungan. Ketika kekeringan semakin sering terjadi, volume air baku menyusut sehingga penyedia air harus mencari sumber baru.
Salah satu solusi yang dipertimbangkan adalah membangun pabrik desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air tawar.
Namun, biaya pembangunannya yang tinggi menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong kenaikan tarif air.
Baca juga: 7 Hewan yang Matanya Tampak Menyala dalam Gelap, Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya
Dalam penelitian ini, tagihan air rumah tangga diperkirakan naik hampir dua kali lipat, dari sekitar 64 dolar AS menjadi 120 dolar AS per bulan.
Akibatnya, semakin banyak keluarga diperkirakan harus mengeluarkan biaya air di atas batas keterjangkauan, yakni lebih dari 2,5% dari pendapatan rumah tangga.
Rumah Tangga Berpenghasilan Rendah Paling Terdampak
Penelitian ini juga menegaskan bahwa beban kenaikan tarif paling berat dirasakan oleh kelompok berpenghasilan rendah. Bahkan pada kondisi saat ini, sebagian rumah tangga sudah harus mengeluarkan lebih dari 2,5% pendapatan mereka hanya untuk membayar air.
Jika tarif terus naik, mereka berisiko terpaksa mengurangi anggaran untuk kebutuhan dasar lain, seperti pangan, biaya hunian, atau layanan kesehatan.
Baca juga: Tonggeret Periodik, Serangga yang Hidup 17 Tahun di Bawah Tanah dan Hanya 3 Minggu di Permukaan
Hasil studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Sustainability pada 8 Juli 2026 ini menunjukkan bahwa tantangan perubahan iklim tidak hanya terbatas pada masalah kelangkaan air, tetapi juga pada meningkatnya biaya untuk mempertahankan layanan air bersih yang terjangkau.
Meski penelitian ini berfokus pada Santa Cruz, para peneliti menilai temuan tersebut juga relevan bagi daerah lain yang menghadapi kekeringan, termasuk bagi penyedia layanan air bersih seperti PDAM di Indonesia yang harus menjaga pasokan air tetap tersedia.
Oleh karena itu, para peneliti menekankan bahwa upaya adaptasi terhadap perubahan iklim harus disertai dengan kebijakan yang melindungi rumah tangga berpenghasilan rendah, agar mereka tidak menanggung beban ganda akibat krisis iklim dan juga krisis biaya hidup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Earth.com