INDOZONE.ID - Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia pada abad ke-21. Fenomena ini bukan lagi sekadar isu lingkungan atau prediksi ilmiah tentang masa depan, melainkan kenyataan yang dampaknya sudah dirasakan secara langsung di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Peningkatan suhu global, perubahan pola cuaca ekstrem, hingga krisis pangan dan kesehatan menjadi bukti bahwa sistem iklim bumi sedang mengalami gangguan serius.
Para ilmuwan sepakat bahwa perubahan iklim telah memasuki fase darurat. Tanpa tindakan nyata dan kolaborasi global, dampaknya akan semakin parah dan mengancam keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Perubahan iklim (climate change) mengacu pada perubahan jangka panjang dalam suhu rata-rata bumi serta pola cuaca global. Perubahan ini dapat terjadi secara alami, misalnya akibat variasi siklus matahari atau aktivitas vulkanik. Namun sejak era Revolusi Industri pada awal 1800-an, aktivitas manusia menjadi penyebab utama percepatan perubahan iklim.
Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas menghasilkan emisi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄).
Gas-gas ini bekerja layaknya selimut yang menyelimuti bumi, memerangkap panas matahari, dan menyebabkan suhu global meningkat, fenomena yang dikenal sebagai pemanasan global.
Menurut laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), suhu rata-rata global saat ini telah meningkat sekitar 1,1–1,2 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri. Dekade terakhir (2011–2020) tercatat sebagai periode terpanas dalam sejarah modern.
Baca juga: Transformasi Perubahan Iklim Menjadi Bencana Iklim: Hasilnya Bencana Hidrometeorologi
Sebagian besar penyebab perubahan iklim berasal dari aktivitas manusia. Beberapa faktor utama meliputi:
Produksi listrik dan panas masih sangat bergantung pada batu bara, minyak, dan gas. Proses ini menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar yang menjadi kontributor utama pemanasan global.
Penebangan hutan untuk pertanian, peternakan, dan pembangunan menyebabkan karbon yang tersimpan di pohon dilepaskan ke atmosfer. Selain itu, berkurangnya hutan juga mengurangi kemampuan alam menyerap karbon dioksida.
Produksi semen, baja, plastik, tekstil, dan barang elektronik membutuhkan energi tinggi yang sebagian besar berasal dari bahan bakar fosil. Industri menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.
Mobil, truk, kapal, dan pesawat yang berbahan bakar fosil menyumbang hampir seperempat emisi karbon dioksida global terkait energi. Pertumbuhan sektor transportasi membuat emisi terus meningkat.
Peternakan menghasilkan gas metana dari pencernaan hewan ternak, sementara penggunaan pupuk kimia melepaskan dinitrogen oksida. Produksi dan distribusi pangan juga memerlukan energi tinggi.
Pemakaian energi berlebihan, pemborosan makanan, dan konsumsi barang sekali pakai turut meningkatkan emisi. Data menunjukkan bahwa 1 persen populasi terkaya dunia menyumbang emisi lebih besar dibandingkan 50 persen penduduk termiskin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Perserikatan Bangsa-Bangsa Indonesia