INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kalian merasa capek banget melihat timeline media sosial yang isinya orang pamer alias flexing terus?
Mulai dari pamer saldo rekening, mobil baru, outfit branded, sampai pencapaian karier yang bikin kita merasa insecure.
Rasanya kompetisi hidup zaman sekarang itu kompetitif banget sampai 100% bikin stres.
Nah, kalau kalian butuh ketenangan hidup yang sesungguhnya, kalian harus banget melirik budaya orang-orang di negara Skandinavia seperti Denmark, Norwegia, dan Swedia.
Di sana, mereka punya sebuah konsep hidup unik yang bikin masyarakatnya adem ayem tanpa drama pamer.
Konsep atau aturan tidak tertulis yang mengatur cara hidup mereka dikenal dengan nama Jante Law, atau bahasa kerennya Janteloven.
Akun YouTube @BBC Ideas sempat mengupas tuntas fenomena ini dalam salah satu video mereka.
Ternyata, rahasia kebahagiaan negara-negara Skandinavia yang selalu masuk peringkat atas dunia itu bersumber dari aturan komunal ini.
Biar nggak penasaran dan bisa langsung kalian terapkan di kehidupan sehari-hari, yuk kita bahas tuntas apa sih sebenarnya konsep unik yang satu ini!
Baca juga: Terlihat Lewat Foto Rontgen, Begini Seluk-Beluk Tradisi Mistis Susuk dari Tinjauan Medis
Aturan Unik yang Melarang Kalian Merasa Paling Istimewa
Jadi sebenarnya janteloven adalah sebuah norma sosial tidak tertulis di masyarakat Skandinavia yang sangat menekankan nilai kesetaraan dan kolektivitas.
Inti dari aturan ini sebenarnya sederhana banget tapi menohok, yaitu kalian dilarang keras untuk pamer, merasa lebih hebat, atau menganggap diri kalian jauh lebih istimewa daripada orang lain di sekitar kalian. Di sini, ego individu kalian harus ditekan demi kebaikan bersama.
Bagi anak muda zaman sekarang yang terbiasa diajarkan untuk selalu menonjol dan menjadi bintang, konsep ini pasti terdengar aneh banget.
Tapi bagi masyarakat di sana, merasa diri paling pintar atau paling sukses itu adalah sebuah red flag besar.
Aturan ini bertindak sebagai kontrol sosial yang otomatis bakal menertibkan siapa saja yang tidak mau membaur atau mendadak bertingkah sok penting di depan publik.
Bukan Cuma Teori tapi Melekat Kuat di Kehidupan Nyata
Hebatnya, konsep Janteloven ini bukan cuma sekadar teori kuno yang dibahas di buku sosiologi saja.
Aturan tidak tertulis ini benar-benar melekat kuat dalam kehidupan nyata sehari-hari, bahkan sampai tahun 2026 ini.
Uniknya lagi, aturan ini nggak cuma berlaku di daerah pedesaan yang sepi, tapi tetap eksis di tengah hiruk-pikuk kota-kota besar modern di Skandinavia.
Hal ini otomatis memengaruhi hampir semua aspek kehidupan mereka. Janteloven menentukan cara masyarakat di sana bersikap di depan umum, memilih pakaian yang tidak mencolok, hingga menentukan jenis mobil apa yang bakal mereka beli.
Mereka sengaja memilih barang-barang yang biasa saja dan fungsional agar tetap terlihat membumi dan membaur dengan tetangga sekitar.
Jadi jangan harap melihat orang lokal konvoi pakai supercar sambil pamer knalpot bising di sana.
Sistem Kolektif yang Berbeda Jauh dengan Budaya Barat Lainnya
Kalau kita bandingkan dengan budaya negara Barat lainnya, konsep ini terasa kontras banget.
Ambil contoh masyarakat Inggris yang sampai sekarang masih mengenal perbedaan atau sekat kelas sosial yang cukup jelas.
Di sana, kalau kalian punya kekayaan melimpah atau berasal dari latar belakang keluarga terpandang, kalian otomatis bisa mendapatkan hak istimewa tertentu yang nggak dimiliki orang biasa.
Nah, Janteloven datang untuk meruntuhkan semua ego sektoral seperti itu. Konsep ini menekankan kalau aturan hidup bermasyarakat itu ditentukan secara bersama-sama oleh kelompok atau komunitas, bukan oleh satu individu yang kebetulan lagi berkuasa atau mendadak kaya raya secara sepihak.
Semua orang berdiri di barisan yang sama rata, nggak ada yang boleh merasa posisinya lebih tinggi.
Berawal dari Novel Satir yang Berubah Menjadi Kenyataan
Siapa sangka kalau aturan yang mengikat satu wilayah ini awalnya cuma berasal dari sebuah karya fiksi.
Istilah ini pertama kali muncul dalam sebuah novel satir legendaris pada tahun 1930-an yang berjudul A Fugitive Crosses His Tracks. Novel keren ini ditulis oleh seorang penulis bernama Aksel Sandemose.
Dalam ceritanya, Aksel menciptakan sebuah kota fiksi yang diberi nama Jante. Kota ini sengaja dibuat untuk mengkritik sekaligus menyindir mentalitas kota kecil di Skandinavia pada zaman itu.
Di kota fiksi tersebut, setiap ada orang yang punya ambisi besar atau berani tampil beda dari yang lain, mereka bakal langsung ditekan dan dikucilkan oleh komunitasnya sendiri.
Aksel ingin menggambarkan betapa menyebalkannya lingkungan yang mengekang kebebasan individu.
Evolusi Menjadi Panduan Hidup Informal Masyarakat Modern
Namun, sejarah emang sering kali berjalan dengan cara yang plot twist. Meskipun awalnya ditulis murni sebagai bentuk sindiran atau satir yang tajam, elemen kritik dari Jante Law perlahan-lahan mulai terlupakan seiring berjalannya waktu. Masyarakat justru melihat sisi positif dari keteraturan yang ada di dalam cerita tersebut.
Selama beberapa dekade berikutnya, norma ini justru bergeser fungsinya secara total. Dari yang tadinya sebuah kritik fiksi, kini berubah menjadi semacam panduan hidup informal alias sepuluh perintah tidak tertulis tentang bagaimana seseorang seharusnya berperilaku di tengah masyarakat Skandinavia.
Nilai-nilai di dalamnya diadopsi secara sadar oleh generasi ke generasi demi menjaga kedamaian sosial.
Dua Sisi Dilema Antara Kekangan dan Keseimbangan Hidup
Sama seperti konsep hidup lainnya, Janteloven tentu saja punya dua sisi mata uang yang memicu perdebatan.
Di satu sisi, banyak kritikus atau anak muda kreatif yang menganggap aturan ini mirip seperti penjara yang mengekang potensi dan bakat alami individu.
Konsep ini dinilai membunuh kreativitas karena nggak mendukung seseorang untuk menonjol atau meraih pencapaian yang luar biasa di atas rata-rata.
Namun di sisi lain, hukum tidak tertulis ini diakui dunia sebagai fondasi paling penting dalam menjaga keharmonisan negara.
Dengan menekan ego individu secara maksimal, mereka berhasil menciptakan lingkungan sosial yang super setara, aman, dan minim gesekan konflik.
Angka kriminalitas yang rendah dan tingkat kebahagiaan warga yang mencapai hampir 100% menjadi bukti nyata kalau sistem ini bekerja dengan sangat baik.
Baca juga: Mengenal Tradisi Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu Jelang Waisak
Belajar dari konsep Janteloven ini bikin kita sadar kalau setiap masyarakat di belahan dunia mana pun pasti punya stigma dan aturan sosial tidak tertulisnya masing-masing.
Memahami aturan seperti ini bisa menjadi langkah awal yang bagus buat kita untuk memikirkan kembali, sebenarnya aturan mana sih yang paling sehat untuk kehidupan kita sehari-hari.
Menekan ego dan berhenti pamer mungkin terdengar berat di tengah gempuran media sosial yang serba kompetitif ini.
Tapi tidak ada salahnya mulai mengurangi kebiasaan flexing dan lebih fokus pada kontribusi nyata untuk lingkungan sekitar.
Jadi, setelah tahu kalau janteloven adalah kunci kebahagiaan warga Skandinavia, apakah kalian tertarik untuk mulai menerapkannya di circle pertemanan kalian sendiri?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube