Menjelajahi Gua Terdalam di Bumi: Tembus Kedalaman 2.000 Meter, Isinya Makhluk Aneh Tanpa Mata!
INDOZONE.ID - Lorong-lorong gua yang tersebar di berbagai belahan dunia memang selalu menyimpan misteri yang bikin penasaran. Beberapa di antaranya bahkan memegang rekor dunia yang mencengangkan, mulai dari sistem gua terpanjang di Kentucky (AS), gua terbesar di Vietnam, hingga gua bawah air terpanjang yang ada di Meksiko.
Namun, ada satu pertanyaan yang sampai sekarang masih bikin para ilmuwan dan penjelajah penasaran setengah mati: gua mana sih yang paling dalam di perut Bumi, dan makhluk aneh apa saja yang bisa bertahan hidup di kegelapan ekstrem tersebut?
Ternyata, gak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan ini. Melansir laporan dari Live Science, ada dua gua raksasa yang sampai sekarang masih saling sikut dan bergantian memegang takhta sebagai gua terdalam di dunia, yaitu Gua Veryovkina dan Gua Krubera-Voronya.
Dua Raksasa Bawah Tanah di Pegunungan Terpencil
Uniknya, kedua gua batu kapur (karst) ini berada di lokasi yang sama, yaitu di wilayah otonom Abkhazia, Georgia, tepatnya di kawasan pegunungan terpencil bernama Gagra. Kedalaman kedua gua ini sama-sama gila, yaitu sudah menembus lebih dari 2.000 meter (2 kilometer) di bawah permukaan tanah.
Berdasarkan data terbaru dari ahli geologi Paul Burger, Gua Veryovkina saat ini memimpin tipis di urutan pertama dengan kedalaman sekitar 2.212 meter. Sementara itu, Gua Krubera menguntit tepat di belakangnya dengan kedalaman mencapai 2.199 meter.
Meski begitu, posisi ini bisa kapan saja berubah. Burger menjelaskan kalau pengukuran vertikal di kedalaman ekstrem seperti itu masih memiliki risiko eror hingga puluhan kaki. Jadi, siapa yang nomor satu bakal sangat tergantung pada cara para ahli menafsirkan data terbaru di lapangan.
Baca juga: Menelusuri Jejak Manusia Purba dan Kehidupan Prasejarah di Gua Braholo Jogja
Kok Bisa Ada Gua Sedalam Itu? Ini Rahasia Ilmiahnya!
Kedua gua ini bertengger di Arabika Massif, sebuah kawasan batuan kapur di Pegunungan Kaukasus yang terbentuk akibat pengikisan gletser selama jutaan tahun. Batuan di sini berasal dari periode Jura Akhir hingga Kapur Awal, alias sudah berumur sekitar 163 sampai 100 juta tahun yang lalu.
Hazel Barton, seorang mikrobiolog sekaligus ahli geologi dari University of Alabama, menjelaskan kalau lapisan batu kapur di sana awalnya terbentuk mendatar secara bertingkat. Namun, akibat adanya aktivitas tektonik prasejarah, lapisan tersebut tertekan dan posisinya berubah drastis menjadi hampir tegak lurus, mirip seperti tumpukan sandwich yang didirikan.
Nah, karena posisinya yang berdiri tegak, air hujan atau lelehan es yang masuk bakal langsung mencari jalan paling gampang untuk meluncur lurus ke bawah melalui retakan batu. Selama jutaan tahun, aliran air bawah tanah ini terus mengikis batuan keras tersebut hingga membentuk lorong vertikal raksasa yang super dalam.
Kehidupan Rahasia di Kegelapan Abadi
Melihat kondisinya, bagian dalam gua ini terdengar mustahil untuk ditinggali. Di sana kondisinya gelap gulita, sangat lembap, dan suhunya super dingin, konstan di angka 2 sampai 3 derajat Celsius sepanjang tahun.
Menurut ahli ekologi bawah tanah dari University of Lisbon, Ana Sofia Reboleira, makhluk hidup yang ada di sana harus melakukan adaptasi super ekstrem demi bertahan hidup:
- Metabolisme Lambat: Semakin dalam gua, pasokan makanan atau nutrisi bakal makin langka. Makanya, hewan-hewan di sana sengaja memperlambat kerja tubuhnya agar bisa puasa berbulan-bulan.
- Kehilangan Mata dan Warna Tubuh: Karena hidup di tempat yang gak ada cahaya sama sekali selama jutaan tahun, hewan-hewan ini kehilangan pigmen warna kulit (kebanyakan berwarna putih transparan) dan bahkan tidak punya mata alias buta.
- Sensor Tubuh Memanjang: Sebagai ganti mata, mereka berevolusi memiliki kaki, antena, atau rambut halus yang jauh lebih panjang untuk mendeteksi getaran udara sekecil apa pun.
Salah satu penghuni paling ikonik di sana adalah Plutomurus ortobalaganensis, sejenis serangga kecil tanpa sayap dari keluarga springtail. Hewan yang hobi memakan jamur dan bahan organik busuk ini ditemukan oleh tim Reboleira pada kedalaman 1.980 meter di Gua Krubera. Sampai detik ini, serangga buta tersebut masih memegang rekor sebagai hewan darat terdalam yang pernah ditemukan di planet Bumi.
Bukan cuma serangga, dunia mikroba di sana juga gak kalah ajaib. Mereka bertahan hidup tanpa bantuan sinar matahari lewat proses kimia bernama chemolithoautotrophy. Alih-alih berfotosintesis, mikroba-mikroba ini bertahan hidup dengan cara "memakan" dan mengoksidasi mineral dari bebatuan gua untuk diubah jadi energi.
Baca juga: Ox Bel Ha: Gua Bawah Laut Terpanjang di Dunia Capai 524 Km, Sekitar Jakarta-Yogyakarta
Kenapa Gua Terdalam Ini Penting Bagi Manusia?
Bagi para ilmuwan, gua-gua dalam ini bukan cuma sekadar lorong gelap yang menyeramkan. Tempat ini adalah "jendela alami" untuk mempelajari bagaimana kehidupan bisa bertahan di lingkungan yang super ekstrem. Penelitian di sini bahkan dipakai sebagai simulasi untuk mencari tahu potensi adanya kehidupan mahluk asing di planet lain.
Selain itu, sistem gua bawah tanah ternyata punya peran vital bagi ekosistem Bumi kita. Lapisan batuan kapur di dalam gua berfungsi sebagai filter alami raksasa yang menyaring dan memurnikan air bersih sebelum masuk ke dalam tanah.
Gua juga menjadi tempat penyimpanan karbon alami yang sangat besar. Beberapa mikroba di dalamnya bahkan bisa mengubah karbon dioksida menjadi materi organik, yang artinya ekosistem misterius ini punya andil besar dalam menjaga keseimbangan iklim dan keberlangsungan hidup manusia di atas Bumi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nationalgeographic