INDOZONE.ID - Di Indonesia, kapur identik dengan alat tulis atau bahan bangunan. Namun di Rusia, kapur justru bisa ditemukan sebagai produk yang dijual untuk dikonsumsi. Fenomena unik ini dikenal dengan istilah edible chalk atau kapur yang bisa dimakan.
Produk tersebut banyak dijual di berbagai toko online Rusia, termasuk marketplace populer seperti Ozon. Namun perlu diketahui, kapur yang dijual bukanlah kapur tulis sekolah, melainkan kapur alami yang telah diproses dan dipasarkan khusus untuk dikunyah atau dikonsumsi.
Apa Itu Edible Chalk?
Edible chalk umumnya berasal dari deposit batu kapur alami yang kaya akan kalsium karbonat. Salah satu sumber yang cukup terkenal berada di wilayah Belgorod, Rusia, yang memiliki cadangan batu kapur dalam jumlah besar.
Para penggemarnya menyebut edible chalk memiliki tekstur renyah (crunchy), rasa mineral yang khas, dan sensasi unik saat dikunyah. Bahkan, di internet terdapat komunitas yang membahas berbagai jenis kapur berdasarkan tekstur, tingkat kerenyahan, hingga karakter rasanya, mirip seperti pecinta kopi atau teh yang mendiskusikan minuman favorit mereka.
Baca juga: Stalagmit dan Stalaktit Batuan Kapur Penghias Gua
Kenapa Ada Orang yang Suka Makan Kapur?
Fenomena ini sering dikaitkan dengan kondisi yang disebut pica, yaitu dorongan untuk mengonsumsi benda yang sebenarnya bukan makanan, seperti tanah, es batu, tanah liat, atau kapur.
Pica bisa terjadi pada berbagai kelompok, termasuk ibu hamil. Selama bertahun-tahun, para peneliti mencoba mencari tahu penyebabnya. Salah satu teori yang cukup banyak didukung adalah adanya kaitan antara pica dengan kekurangan zat besi atau anemia.
Meski begitu, hingga saat ini para ilmuwan masih memperdebatkan apakah keinginan mengonsumsi kapur muncul karena tubuh kekurangan mineral tertentu atau karena faktor lain yang lebih kompleks.
Bukan Cuma Terjadi di Rusia
Meski cukup populer di Rusia dan beberapa negara bekas Uni Soviet, kebiasaan mengonsumsi tanah liat atau mineral sebenarnya juga ditemukan di berbagai belahan dunia.
Praktik yang dikenal sebagai geophagy atau kebiasaan memakan tanah, kapur, maupun tanah liat ini sudah tercatat dalam berbagai budaya di Afrika, Asia, hingga Amerika Selatan. Di beberapa daerah, tanah liat tertentu bahkan dipercaya dapat membantu meredakan mual saat kehamilan.
Karena itu, fenomena edible chalk sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Rusia hanya menjadi salah satu contoh modern di mana kebiasaan tersebut masih bertahan dan bahkan berkembang menjadi pasar tersendiri.
Kapur yang Dimakan Bukan Kapur Tulis
Meski sama-sama disebut kapur, edible chalk berbeda dengan kapur tulis yang biasa digunakan di sekolah.
Edible chalk berasal dari sumber mineral alami tertentu dan dipasarkan khusus untuk konsumsi manusia. Sementara itu, kapur tulis atau kapur industri bisa mengandung bahan tambahan yang tidak dirancang untuk dikonsumsi.
Baca juga: Teluk Ha Long, Gugusan Ribuan Pulau Batu Kapur di Vietnam
Viral di Media Sosial
Di era media sosial, edible chalk juga memiliki komunitas penggemarnya sendiri. Video orang mengunyah kapur dengan suara renyah kerap muncul dalam konten ASMR dan berhasil menarik jutaan penonton.
Bagi sebagian orang, ide menjadikan kapur sebagai camilan mungkin terdengar aneh. Namun bagi sebagian masyarakat Rusia, edible chalk merupakan produk yang cukup dikenal dan memiliki penggemar setia.
Fakta Singkat:
- Edible chalk adalah kapur yang dipasarkan untuk dikonsumsi manusia.
- Banyak berasal dari wilayah Belgorod, Rusia.
- Sering dikaitkan dengan fenomena pica.
- Berbeda dengan kapur tulis yang digunakan di sekolah.
- Memiliki komunitas penggemar dan pasar khusus di internet.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthdigest.com