Senin, 01 JUNI 2026 • 14:17 WIB

Candi Borobudur Ternyata Penuh Kode Astronomi Kuno

Author

Salah satu relief Candi Borobudur. (Dok. BRIN.)

INDOZONE.ID - Candi Borobudur bukan sekadar warisan arsitektur Buddha, tapi struktur candi ini menyimpan sistem pengetahuan astronomi yang canggih.

Para peneliti dari BRIN dan ITB membuktikan bahwa nenek moyang kita memahami langit jauh lebih dalam dari yang selama ini kita bayangkan.

Endang Soegiartini dari Kelompok Keilmuan Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) menjelaskan, Candi Borobudur mampu menunjukkan arah Timur-Barat secara tepat.

Stupa utama yang berada di titik tengah candi berfungsi sebagai gnomon, penanda waktu dan musim, seperti jam matahari raksasa yang dibangun di atas bukit.

Ada sembilan relief perahu layar di dinding candi yang bukan sekadar dekorasi.

Relief-relief itu menggambarkan fungsi navigasi berbasis bintang. Hal ini membuktikan bahwa pelaut Nusantara sudah membaca langit jauh sebelum ada GPS.

Baca juga: Daftar Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno: Candi dan Prasasti

Baca juga: Peninggalan Sriwijaya: Prasasti, Candi, dan Jejak Sejarahnya

Riset BRIN Arkeo-Astronomi Lintas Disiplin

Pada 28 Februari lalu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema Rintisan Riset Multi Disiplin Arkeo-astronomi Candi Borobudur: Dari Budaya Syailendra ke Budaya Lanna di Kampus BRIN Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Arkeo-astronomi adalah disiplin ilmu yang mengkaji bagaimana masyarakat masa lalu memahami dan menggunakan pengetahuan tentang langit dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Candi Borobudur. (Wikipedia)

Peneliti PRA BRIN Gerhana Puannadra Putri menjelaskan metode yang digunakan dalam kajian ini, mulai dari penentuan alignment benda langit, koordinat, pola pergerakan, hingga observasi topografi di sekitar situs. Tujuannya untuk merekonstruksi tampilan langit pada era candi itu dibangun.

"Hasil pengukuran dapat digunakan untuk memodelkan penampakan langit dan posisi benda langit pada saat situs dibuat. Perlu dukungan bukti kontekstual yang kuat seperti relief, transkrip, atau sejarah untuk validasi hasil pengukuran arkeo-astronomi terkait penanggalan, agama dan kepercayaan, sosial budaya, dan sebagainya," paparnya dikutip dari laman BRIN.

Langit dalam Tradisi Jawa

Astronomi bukan hanya soal candi. Peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN, Agus Iswanto, mengungkap bahwa masyarakat Jawa membagi satu tahun ke dalam 12 mangsa berdasarkan peredaran matahari.

Sistem ini disebut pranata mangsa, yakni  mengajarkan orang untuk membaca tanda alam, yang dikenal sebagai ilmu titen.

Rekan sesama peneliti, Suyami, menambahkan bahwa aspek astronomi dalam tradisi Jawa memengaruhi penanggalan, perbintangan, hingga penentuan hari baik untuk pernikahan.

"Masyarakat Jawa juga mempunyai tradisi meditasi selama bulan purnama yang disebut manekung," ungkapnya. Tradisi ini menunjukkan bahwa siklus bulan bukan cuma soal romantisme malam, tapi juga praktik spiritual yang terstruktur,” ujar Turita Indah Setyani dari Universitas Indonesia.

Ilustrasi Candi Borobudur dari Atas. (RM Nunes)

Potensi Besar yang Belum Sepenuhnya Digali

Mahirta, Ketua Program Studi Arkeologi Universitas Gadjah Mada, menyebut Indonesia punya potensi besar dalam kajian arkeo-astronomi.

Peninggalan Hindu-Buddha, struktur megalitik, rock arts, hingga prasasti dari berbagai era, semuanya belum sepenuhnya diteliti dari sudut pandang astronomi.

Pengaruh India dan Tibet dalam arsitektur candi Indonesia diduga kuat memiliki keterkaitan dengan tradisi astronomi dari kedua wilayah itu. Artinya, Borobudur mungkin bukan fenomena lokal, tapi bagian dari jaringan pengetahuan langit yang lebih luas di Asia.

BRIN membuka peluang riset ini lewat program RIIM Ekspedisi dan RIIM Kolaborasi, skema pendanaan yang bisa dimanfaatkan untuk mengungkap lebih jauh kekayaan warisan ilmu pengetahuan Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BRIN

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU