Selasa, 31 MARET 2026 • 13:07 WIB

Bukan Google, Perpustakaan Ashurbanipal 'Internet' Pertama Dunia

Author

Perpustakaan Ashurbanipal (News Artnet)

INDOZONE.ID - Jauh sebelum hadirnya mesin pencari seperti Google, dunia kuno ternyata sudah memiliki “pusat informasi” yang sangat maju.

Salah satunya adalah Perpustakaan Ashurbanipal, yang kerap disebut sebagai “internet” pertama di dunia karena perannya sebagai gudang pengetahuan terbesar pada masanya.

Perpustakaan ini didirikan oleh Ashurbanipal, raja Kekaisaran Asyur yang memerintah pada abad ke-7 SM.

Baca juga: Tak Hanya Dendam, Burung Gagak juga Bisa Beri Hadiah bagi Manusia yang Baik Hati

Berbeda dari kebanyakan penguasa pada zamannya yang fokus pada peperangan, Ashurbanipal justru dikenal sebagai sosok yang mencintai ilmu pengetahuan.

Pusat Pengetahuan di Kota Nineveh

Perpustakaan Ashurbanipal dibangun di kota Nineveh, yang saat itu menjadi ibu kota Kekaisaran Neo-Asyur. Kota ini pernah menjadi salah satu pusat peradaban terbesar di dunia, sebelum akhirnya runtuh pada abad ke-7 SM.

Keberadaan perpustakaan ini baru terungkap kembali pada abad ke-19 dan langsung dianggap sebagai salah satu penemuan arkeologi paling penting.

Dari sinilah para peneliti mulai memahami lebih dalam tentang peradaban Asyur kuno yang sebelumnya hanya dikenal lewat cerita dan mitos.

Baca juga: Tiba-tiba Tak Bisa Bicara di Luar Angkasa, Misteri Medis Astronaut NASA Masih Belum Terpecahkan

Ribuan Tablet Tanah Liat sebagai “Database”

Melansir laman artnet, Selasa (31/03/2026) perpustakaan ini menyimpan sekitar 30.000 tablet tanah liat yang ditulis menggunakan aksara paku. Tablet-tablet ini berisi berbagai topik, mulai dari astronomi, sejarah, hingga pengobatan.

Menariknya, bangsa Mesopotamia kuno sudah memiliki sistem pengelompokan dan pengarsipan yang terstruktur. Hal ini membuat Perpustakaan Ashurbanipal sering dianggap sebagai bentuk awal dari sistem katalogisasi, mirip dengan cara kerja database modern.

Salah satu koleksi paling terkenal dari perpustakaan ini adalah Epic of Gilgamesh, kisah legendaris tentang raja Sumeria yang mencari keabadian. Teks ini menjadi salah satu karya sastra tertua di dunia.

Bertahan karena Kehancuran

Uniknya, banyak koleksi di perpustakaan ini tetap bertahan justru karena kehancuran kota Nineveh. Saat kota tersebut diserang oleh bangsa Babilonia dan Media, perpustakaan ikut terbakar.

Baca juga: Mengenal Hammurabi, Tokoh paling Berpengaruh dalam Sejarah Mesopotamia

Namun, panas dari kebakaran tersebut justru mengeraskan tablet tanah liat, sehingga lebih awet dan mampu bertahan hingga ribuan tahun kemudian.

Berkat peristiwa tersebut, banyak informasi penting dari masa lalu masih bisa dipelajari hingga sekarang.

Bukti Penguasa Kuno Peduli Ilmu

Perpustakaan Ashurbanipal menjadi bukti bahwa penguasa kuno tidak hanya fokus pada ekspansi wilayah, tetapi juga pada pelestarian pengetahuan.

Ashurbanipal bahkan dikenal sering digambarkan membawa pena, simbol ketertarikannya pada literasi.

Peran perpustakaan ini bagi dunia kuno sering dibandingkan dengan Perpustakaan Alexandria di era berikutnya. Keduanya sama-sama menjadi pusat ilmu pengetahuan yang berpengaruh besar terhadap perkembangan peradaban.

Baca juga: Asteroid Ryugu Bawa 5 Bahan Pembentuk DNA, Mungkinkah Ada 'Bumi Lain' di Alam Semesta?

Perpustakaan Ashurbanipal menunjukkan bahwa konsep “internet” sebenarnya sudah ada dalam bentuk sederhana sejak ribuan tahun lalu.

Dengan ribuan tablet yang tersusun rapi dan berisi berbagai ilmu, perpustakaan ini menjadi bukti awal bagaimana manusia berusaha mengumpulkan, menyimpan, dan menyebarkan informasi.

Hingga kini, warisan tersebut terus dipelajari dan menjadi fondasi penting dalam memahami sejarah peradaban manusia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: News.artnet.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU