INDOZONE.ID - The Georgia Guidestones merupakan prasasti yang berisi perintah untuk tatanan dunia baru.
Prasasti yang berbentuk seperti Sepuluh Perintah Tuhan ini pernah berdiri megah di Elbert County, Georgia, Amerika Serikat, sebelum akhirnya dihancurkan pada 2022.
Prasasti raksasa tersebut memicu kekaguman sekaligus kontroversi selama lebih dari empat dekade.
Sebagian orang melihatnya sebagai pesan perdamaian untuk masa depan umat manusia, sementara yang lain menganggapnya sebagai simbol agenda tersembunyi menuju “New World Order.”
Baca juga: Bukan Sekadar Terowongan Cahaya, Penelitian Baru Ungkap Realita Pengalaman Jelang Kematian
Monumen Granit yang Dijuluki “Stonehenge Amerika”
Melansir laman New Georgia Encyclopedia (18/02/2026), Georgia Guidestones diresmikan pada 22 Maret 1980 dan berdiri di titik tertinggi wilayah timur laut Georgia.
Prasasti ini terdiri dari empat lempengan granit besar setinggi lebih dari 16 kaki, satu batu tengah (gnomon), serta batu penutup di bagian atasnya.
Dengan berat total mencapai sekitar 119 ton, monumen ini sering dijuluki “Stonehenge Amerika” karena fungsi astronomisnya.
Baca juga: Wahana Antariksa yang Pernah DIbuat Manusia: Dari yang Berawak hingga Robotik
Berbeda dengan Stonehenge di Inggris yang tak memiliki pesan tertulis, Guidestones memuat sepuluh pedoman bagi umat manusia yang diukir dalam delapan bahasa modern, Inggris, Spanyol, Rusia, Mandarin, Arab, Ibrani, Hindi, dan Swahili.
Pada bagian penutup, terdapat pesan tambahan dalam empat bahasa kuno, termasuk hieroglif Mesir dan aksara paku Babilonia, yang berbunyi.
"Biarlah ini menjadi batu penunjuk arah menuju zaman akal sehat."
Isi Pesan: Sepuluh Pedoman untuk Dunia Baru
Sepuluh perintah atau prinsip yang terukir di prasasti tersebut membahas berbagai aspek kehidupan global, mulai dari pemerintahan, populasi, hukum, hingga spiritualitas dan hubungan manusia dengan alam.
Baca juga: Rahasia Belalai Gajah Terkuak: Ribuan Kumis dengan "Teknologi" Super Canggih di Ujung Hidung
Beberapa isi yang paling sering diperdebatkan antara lain:
- Menjaga populasi manusia di bawah 500 juta jiwa dalam keseimbangan dengan alam.
- Mengarahkan reproduksi secara bijak demi kualitas dan keberagaman.
- Menyatukan umat manusia dengan bahasa baru yang hidup.
- Mengatur iman, tradisi, dan hasrat dengan akal sehat.
- Menghindari hukum kecil dan pejabat yang tidak perlu.
- Memberi ruang bagi alam.
Bagi sebagian kalangan, pesan tersebut terdengar seperti seruan global untuk harmoni dan rasionalitas.
Akan tetapi bagi kelompok religius dan penganut teori konspirasi, pedoman itu dianggap sebagai cetak biru pengendalian populasi dan pemerintahan dunia tunggal.
Baca juga: Dulu Lautan Penuh Hiu, Arkansas Kini Jadi 'Surga' Fosil Kerangka Hiu
Asal-Usul yang Misterius
Kisah Georgia Guidestones bermula pada musim panas 1979, ketika seorang pria menggunakan nama samaran “R.C. Christian” mendatangi perusahaan Elberton Granite Finishing Company.
Ia mengaku mewakili “sekelompok kecil warga Amerika yang setia” yang ingin membangun monumen untuk generasi masa depan.
Identitas asli Christian tidak pernah terungkap hingga kini.
Ia memilih Elbert County karena kualitas granitnya yang terkenal serta lokasinya yang tenang dan terpencil.
Baca juga: Dulu Lautan Penuh Hiu, Arkansas Kini Jadi 'Surga' Fosil Kerangka Hiu
Struktur dari prasasti ini dirancang dengan presisi astronomis.
Celah dan lubang pada prasasti memungkinkan sinar matahari serta posisi bintang Polaris menunjukkan waktu, titik balik matahari, dan pergerakan bulan tahunan.
Dengan kata lain, Guidestones tidak hanya simbolis, tetapi berfungsi sebagai kompas, kalender, dan jam matahari raksasa.
Kontroversi dan Teori Konspirasi
Selama bertahun-tahun, prasasti ini menjadi sasaran vandalisme dan perdebatan.
Banyak teori konspirasi mengaitkannya dengan agenda elit global, gerakan internasionalisme, bahkan simbolisme okultisme.
Kontroversi memuncak pada 2022 ketika seorang kandidat politik Georgia menyebut monumen tersebut “satanis” dan menyerukan penghancurannya.
Pada 6 Juli 2022, sebuah ledakan merusak sebagian struktur. Demi alasan keamanan publik, otoritas negara bagian akhirnya merobohkan sisa monumen pada hari yang sama.
Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi bagian dari perbincangan publik dan penyelidikan resmi.
Baca juga: Kenapa Cuma Manusia yang Punya Dagu? Ilmuwan Bilang Itu Kecelakaan Evolusi
Meski telah dihancurkan, Georgia Guidestones tetap hidup. Model dan dokumentasinya kini dapat ditemukan di museum lokal Elberton.
Bagi sebagian orang, prasasti ini adalah simbol ajakan menuju perdamaian, logika, dan tanggung jawab ekologis. Bagi sekelompok lain, prasasti ini merupakan simbol tatanan dunia baru yang penuh misteri.
Apakah Georgia Guidestones sekadar karya seni filosofis dengan visi global, ataukah ia menyimpan pesan tersembunyi yang lebih kelam?
Tidak ada jawaban pasti. Namun, meski kini telah hancur dan rata dengan tanah, prasasti ini tetap menjadi salah satu sejarah paling teka-teki yang pernah diukir manusia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: New Georgia Encyclopedia