Penjelasan Lengkap tentang Fase Bulan, Kenapa Bentuknya Selalu Berubah? Ini Kata Ahli Astronom!
INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu lagi nongkrong sore, tiba-tiba lihat Bulan nongol di langit padahal Matahari belum sepenuhnya tenggelam? Atau heran kenapa Bulan kadang bulat penuh, kadang cuma seperti sabit tipis?
Fenomena ini bukan sulap, bukan juga karena Bulan “berubah wujud”, tapi karena sebuah konsep sederhana dalam astronomi yang disebut fase-fase Bulan.
Lewat penjelasan dari kanal YouTube @Crash Course, kita bisa memahami fase Bulan dengan cara yang ringan, masuk akal, dan jauh dari kesan ribet.
Berikut penjelasan lengkap tentang penyebab fase Bulan, istilah-istilah pentingnya, sampai miskonsepsi yang sering bikin orang salah paham.
Baca juga: Mengenal Mercury Retrograde: Fenomena Langit yang Sering Disalahkan Saat Hidup Terasa Berantakan
Bulan, Bola Batu yang Disinari Matahari
Bulan sebenarnya adalah bola batu raksasa dengan diameter sekitar 3.500 kilometer yang melayang di angkasa.
Meski terlihat terang dan keperakan dari Bumi, permukaannya justru cukup gelap, daya pantulnya mirip aspal atau papan tulis.
Alasan Bulan tampak terang adalah karena ia terus-menerus disinari Matahari dan memantulkan cahaya tersebut ke arah Bumi.
Karena Bulan berbentuk bola, ada satu hal penting yang perlu diingat bahwa separuh Bulan selalu terang dan separuh lainnya selalu gelap.
Ini berlaku juga untuk Bumi dan planet lain. Bagian yang menghadap Matahari disebut sisi siang, sementara yang membelakangi Matahari disebut sisi malam.
Nah, fase Bulan bukan soal bagian mana yang terang, tapi seberapa banyak bagian terang itu yang bisa kita lihat dari Bumi.
Geometri Jadi Kunci Fase Bulan
Penyebab utama fase Bulan adalah geometri, alias posisi relatif antara Matahari, Bulan, dan Bumi.
Saat Bulan mengorbit Bumi, sudut pandang kita terhadap sisi terang Bulan ikut berubah. Inilah yang bikin bentuk Bulan tampak beda dari hari ke hari.
Ada satu istilah penting dalam memahami hal ini, namanya terminator. Terminator adalah garis imajiner yang memisahkan sisi terang (siang) dan sisi gelap (malam) di permukaan Bulan. Posisi garis inilah yang menentukan apakah Bulan terlihat sabit, setengah, atau penuh.
Waxing, Waning, dan Bentuk “Benjol” Bulan
Dalam dunia astronomi, ada istilah waxing dan waning yang sering dipakai. Waxing berarti bagian Bulan yang terang terlihat semakin besar dari hari ke hari. Sebaliknya, waning berarti bagian terang itu semakin mengecil.
Ada juga istilah gibbous atau dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai “benjol”. Ini adalah fase ketika Bulan terlihat lebih dari setengah penuh, tapi belum bulat sempurna. Bentuknya cembung dan sering muncul sebelum atau sesudah fase purnama.
Awal Siklus: Bulan Baru
Siklus fase Bulan dimulai dari Bulan Baru atau new moon. Pada fase ini, Bulan berada di antara Bumi dan Matahari.
Akibatnya, sisi Bulan yang menghadap Bumi adalah sisi gelap, sehingga hampir tidak terlihat sama sekali. Di fase ini, Bulan sebenarnya ada di langit siang hari, terbit dan terbenam bersamaan dengan Matahari.
Inilah salah satu miskonsepsi paling umum yaitu banyak orang mengira Bulan hanya muncul di malam hari, padahal kenyataannya Bulan ada di langit siang sesering ia muncul di malam.
Sabit Awal yang Tipis dan Cantik
Beberapa hari setelah Bulan Baru, Bulan bergerak sedikit ke timur dalam orbitnya. Kita mulai bisa melihat sebagian kecil sisi terang Bulan. Bentuknya masih tipis seperti sabit, dengan ujung yang menjauh dari arah Matahari.
Fase ini sering jadi favorit pengamat langit karena Bulan terlihat cantik di ufuk barat sesaat setelah Matahari terbenam. Inilah fase waxing crescent atau sabit awal, tanda bahwa bagian terang Bulan sedang “tumbuh”.
Kuartal Pertama yang Setengah Terang
Sekitar tujuh hari setelah Bulan Baru, Bulan mencapai fase kuartal pertama. Meski terlihat setengah terang, istilah “kuartal” dipakai karena Bulan sudah menempuh seperempat orbitnya mengelilingi Bumi.
Pada fase ini, kita melihat Bulan tepat dari arah garis terminator. Separuh Bulan tampak terang dan separuh lainnya gelap. Bulan biasanya terlihat dari siang hingga tengah malam.
Menuju Purnama: Bulan Benjol Awal
Setelah kuartal pertama, Bulan masuk fase waxing gibbous. Bentuknya terlihat lebih dari setengah penuh, seperti benjolan yang makin membesar tiap malam.
Bulan terbit di sore hari dan menemani langit hampir sepanjang malam. Sekitar dua minggu setelah Bulan Baru, Bulan akhirnya mencapai fase paling ikonik: Bulan Purnama.
Bulan Purnama yang Terang Sepanjang Malam
Pada fase purnama, Bumi berada di antara Matahari dan Bulan. Posisi ini membuat seluruh sisi Bulan yang menghadap Bumi disinari Matahari secara penuh. Hasilnya, Bulan terlihat bulat sempurna dan sangat terang.
Karena posisinya berlawanan dengan Matahari, Bulan Purnama terbit saat Matahari terbenam dan tenggelam saat Matahari terbit. Nggak heran kalau fase ini sering dikaitkan dengan malam yang terang dan suasana yang dramatis.
Fase Menyusut dan Kuartal Ketiga
Setelah purnama, Bulan mulai memasuki fase waning. Bagian terang yang terlihat perlahan menyusut, dimulai dari waning gibbous.
Jika kamu bangun pagi-pagi, kamu bisa melihat Bulan besar yang hampir purnama sedang terbenam di barat.
Sekitar tiga minggu setelah Bulan Baru, Bulan kembali terlihat setengah terang. Fase ini disebut kuartal ketiga.
Mirip dengan kuartal pertama, tapi sisi terang dan gelapnya terbalik. Bulan terbit tengah malam dan terbenam sekitar tengah hari.
Sabit Akhir dan Kembali ke Awal
Beberapa hari setelah kuartal ketiga, Bulan berubah menjadi sabit lagi, kali ini disebut waning crescent atau sabit akhir.
Bentuknya makin tipis sampai akhirnya kembali ke fase Bulan Baru. Satu siklus penuh fase Bulan memakan waktu sekitar 29,5 hari, yang jadi asal-usul kata “bulan” atau month.
Cahaya Bumi dan Wajah Hantu Bulan
Pernah lihat Bulan sabit tipis tapi sisi gelapnya tetap terlihat samar? Fenomena ini disebut earthshine atau cahaya Bumi. Cahaya Matahari dipantulkan oleh Bumi ke permukaan Bulan, lalu kembali ke mata kita.
Menariknya, dari Bulan, fase Bumi terlihat kebalikan dari fase Bulan yang kita lihat. Saat kita melihat Bulan Baru, dari Bulan justru terlihat “Bumi Penuh” yang sangat terang.
Fase-fase Bulan bukanlah sesuatu yang rumit kalau dipahami dari kacamata geometri sederhana.
Bulan selalu setengah terang dan setengah gelap, tapi posisi kita di Bumi membuat bagian yang terlihat berubah-ubah.
Dari Bulan Baru, sabit, setengah, benjol, hingga purnama, semuanya adalah tarian kosmik yang berulang tiap 29,5 hari.
Lewat penjelasan dari Crash Course, kita diingatkan bahwa alam semesta memang terlihat rumit di awal, tapi sebenarnya sangat logis dan indah saat dipahami pelan-pelan.
Jadi, lain kali kamu lihat Bulan di langit, kamu nggak cuma melihat cahaya, tapi juga sedang menyaksikan geometri kosmik yang sedang bekerja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube