Situs Arkeologi Monte Verde di Chile (google maps).
INDOZONE.ID - Monte Verde, situs arkeologi di Chile selatan yang selama beberapa dekade dianggap sebagai bukti tertua kehadiran manusia di Amerika, kini harus menghadapi kenyataan baru.
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science mengklaim bahwa lokasi tersebut sebenarnya jauh lebih muda dari perkiraan sebelumnya, yaitu antara 4.200 hingga 8.200 tahun lalu, bukan 14.500 tahun seperti yang selama ini diyakini.
Jika temuan ini benar, maka Monte Verde tidak lagi relevan dalam perdebatan kapan manusia pertama kali memasuki Benua Amerika. Sebuah pernyataan yang tentu akan mengguncang dunia arkeologi.
Baca juga: Asteroid Ryugu Bawa 5 Bahan Pembentuk DNA, Mungkinkah Ada 'Bumi Lain' di Alam Semesta?
Tim peneliti yang dipimpin Todd Surovell, arkeolog dari University of Wyoming, menggunakan tiga metode penanggalan ilmiah yang berbeda pada material yang ditemukan di dalam dan sekitar situs.
Mereka tidak hanya mengambil sampel dari area situs, tapi juga dari formasi tanah yang sama di hulu dan hilir sungai di lembah tersebut.
Hasilnya menunjukkan konsistensi yang mengejutkan: semua sampel mengindikasikan usia yang jauh lebih muda. Surovell menyebut kesalahan penanggalan dari peneliti sebelumnya "langsung terlihat" setelah data baru dianalisis.
Salah satu temuan kunci adalah penanggalan lapisan abu vulkanik kuno yang berusia sekitar 11.000 tahun.
Baca juga: Pembunuhan Snapchat: Kisah 2 Remaja Belasan Tahun Bunuh Wanita
Abu itu berada di lapisan di bawah bukti hunian manusia, yang berarti manusia baru hadir setelah abu itu terendapkan.
Artinya, usia situs tidak mungkin lebih tua dari 11.000 tahun.
Tentu saja, temuan ini tidak diterima begitu saja oleh peneliti asli Monte Verde.
Tom Dillehay, antropolog dari Vanderbilt University yang telah meneliti situs ini sejak 1970-an, menolak keras kesimpulan baru ini.
Baca juga: Ternyata Ini Alasan Kuda dan Mamalia Besar Punya Wajah Panjang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters