INDOZONE.ID - Pria asal Korea Selatan bernama Woo Bum-kon membantai 56 orang hanya karena lalat.
Tragedi yang terjadi pada 1982 ini masih dikenang sebagai salah satu kasus penembakan massal paling kelam dalam sejarah Korea Selatan, sekaligus memicu sorotan besar terhadap sistem keamanan negara saat itu.
Melansir laman The New York Times, Sabtu (08/05/2026) aksi brutal Woo Bum-kon berlangsung selama sekitar delapan jam di wilayah Uiryeong, Korea Selatan bagian selatan.
Dalam kejadian tersebut, sedikitnya 56 orang tewas dan puluhan lainnya terluka sebelum pelaku akhirnya mengakhiri hidupnya.
Baca juga: Misteri Penemuan Jasad Influencer Korea Selatan dalam Koper, Pelaku Diduga Penggemar VIP
Berawal dari Insiden Sepele
Kemarahan Woo Bum-kon diduga bermula dari kejadian kecil saat ia dibangunkan dari tidur siang. Pacarnya, Chun Mal Sun, disebut menepis lalat yang hinggap di dadanya.
Hal sepele itu memicu emosi Woo Bum-kon sebelum ia berangkat bekerja.
Setelah melapor bertugas, Woo Bum-kon dilaporkan mengonsumsi minuman keras dalam jumlah banyak. Malam harinya, emosinya semakin tidak terkendali.
Dalam kondisi mabuk, ia memanfaatkan kelengahan rekan-rekannya untuk mengambil senjata dan amunisi dari gudang polisi.
Bergerak dari Desa ke Desa
Dikutip dari laman The New York Times, Woo Bum-kon kemudian bergerak dari satu desa ke desa lain sambil membawa senjata dan granat.
Karena mengenakan seragam polisi, banyak warga awalnya tidak curiga saat ia mendatangi permukiman mereka.
Situasi semakin kacau ketika ia menyerang fasilitas komunikasi setempat, membuat wilayah tersebut terputus dari dunia luar.
Kondisi itu membuat respons aparat terlambat, sehingga Woo terus bergerak selama berjam-jam tanpa bisa segera dihentikan.
Baca juga: Misteri Hilangnya "Frog Boys" Korea Selatan: Luka Mendalam yang Tak Terobati
Dikenal Punya Temperamen Buruk
Melansir laman Korea JoongAng Daily, Woo Bum-kon sebenarnya dikenal sebagai penembak jitu yang sangat terampil.
Saat bertugas di Korps Marinir, ia disebut sebagai salah satu penembak terbaik dan bahkan pernah berada di unit pengamanan presiden.
Namun di balik kemampuan tersebut, Woo Bum-kon juga dikenal memiliki masalah alkohol dan temperamen kasar. Ia bahkan dijuluki “harimau gila” karena sifat agresifnya. Meski dinilai bermasalah, ia tetap bertugas di kepolisian.
Jadi Simbol Kegagalan Sistem
Peristiwa ini tidak hanya mengejutkan publik Korea Selatan, tetapi turut mengguncang institusi kepolisian. Sejumlah pejabat keamanan saat itu mengundurkan diri karena dianggap gagal mencegah tragedi.
Baca juga: Wanita Bermasker Merah: Urban Legend Dari Korea Selatan
Korea JoongAng Daily turut menyoroti bahwa tragedi Woo Bum-kon bukan semata luapan emosi satu orang, melainkan cerminan kegagalan institusional yang lebih luas.
Bahkan, peringatan resmi bagi para korban baru digelar puluhan tahun kemudian.
Hingga kini, tragedi Woo Bum-kon tetap menjadi pengingat pahit tentang bagaimana kemarahan yang tak terkendali dan lemahnya pengawasan bisa berujung pada bencana besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The New York Times, Korea JoongAng Daily