Sketsa kehidupan di atas kapal narapidana menuju Tasmania. (Sumber: Arsip Hulton (The Collector))
INDOZONE.ID - Kisah tragis narapidana perempuan yang dibuang ke Tasmania pada abad ke-19 menyimpan banyak cerita pilu tentang kemiskinan, kehilangan keluarga, hingga perjuangan bertahan hidup di negeri asing.
Banyak dari mereka bukan pelaku kejahatan besar, melainkan perempuan miskin yang dihukum karena mencuri makanan atau barang kebutuhan sehari-hari.
Melansir laman The Collector, Sabtu (23/05/2026) salah satu kisah yang paling menyentuh datang dari Margaret Butler.
Ia diasingkan ke Tasmania pada tahun 1845 hanya karena mencuri kentang. Hukuman itu membuatnya harus meninggalkan empat anaknya di tanah kelahiran.
Namun penderitaan Margaret tidak berhenti di sana. Setelah menikah lagi di Tasmania, ia justru mengalami kekerasan hingga akhirnya tewas dipukuli suaminya sendiri.
Baca juga: Kisah Legenda Hua Mulan Sebagai Simbol Keberanian Perempuan Mendobrak Batas dan Stigma Sosial
Sekitar 12.500 perempuan dikirim dari Inggris dan Irlandia ke Tasmania antara tahun 1820 hingga 1853.
Pemerintah Inggris saat itu menggunakan sistem “transportasi”, yaitu mengasingkan narapidana ke koloni untuk dijadikan tenaga kerja.
Sebagian besar perempuan tersebut berasal dari kalangan miskin.
Bahkan, 86 persen dari mereka dihukum karena pencurian kecil seperti makanan, pakaian, atau barang kebutuhan pokok lainnya. Banyak yang sebenarnya mencuri demi bertahan hidup.
Selain kehilangan kebebasan, mereka juga dipaksa berpisah dengan anak dan keluarga. Banyak perempuan yang tidak pernah lagi bertemu dengan keluarganya setelah diasingkan.
Perjalanan laut menuju Tasmania memakan waktu berbulan-bulan dan menjadi pengalaman berat bagi para narapidana perempuan.
Meski beberapa kapal memiliki dokter yang memperlakukan mereka dengan baik, tidak sedikit perempuan yang mengalami kekerasan selama perjalanan.
Baca juga: Sejarah Perempuan Mesopotamia Kuno yang Ternyata Sudah Punya Hak Mandiri
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Collector