INDOZONE.ID - Asal-usul Gunung Lewotobi laki-laki dan perempuan tidak hanya berkaitan dengan fenomena alam, tetapi erat kaitannya dengan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Flores Timur.
Bagi masyarakat setempat, dua gunung yang berdiri berdampingan ini diyakini sebagai simbol pasangan suami istri yang memiliki hubungan tak terpisahkan.
Gunung kembar ini berada di wilayah Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Secara geografis, keduanya dikenal sebagai Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Lewotobi Perempuan.
Baca juga: Menguak Sesar Cisadane, Patahan Tektonik yang Membelah Dua Gunung
Masyarakat setempat menyebut keduanya sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, baik dari sisi alam maupun cerita adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Mengutip laman NTT Bicara, Jumat (13/03/2026) menurut cerita yang disampaikan oleh Tobias Lewotobi Puka, tokoh adat setempat, nama asli kawasan gunung tersebut adalah Ile Bele, yang berarti “gunung besar”.
Dalam penyebutannya, Ile Bele terdiri dari dua bagian, yaitu Ile Lake yang merujuk pada Gunung Lewotobi Laki-laki, serta Ile Wae yang dikenal sebagai Gunung Lewotobi Perempuan.
Kedua gunung ini memiliki ketinggian yang berbeda. Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki ketinggian sekitar 1.548 meter di atas permukaan laut, sedangkan Gunung Lewotobi Perempuan mencapai sekitar 1.703 meter.
Baca juga: Cerita Horor di Gunung Slamet: Banyak Orang Hilang dan Tersesat, Termasuk Mahasiswa Asal Magelang
Meski berbeda tinggi, keduanya dianggap sebagai pasangan yang saling melengkapi dalam kepercayaan masyarakat lokal.
Di balik keberadaan dua gunung tersebut, masyarakat menyimpan legenda tentang dua tokoh bernama Puka dan Tobi yang hidup berdampingan seperti keluarga. Kisah ini menceritakan tentang hubungan erat antara dua keluarga yang sama-sama menantikan kelahiran anak.
Dalam cerita tersebut, kedua keluarga sepakat bahwa hubungan mereka akan terus terjalin melalui status kekerabatan anak yang lahir.
Jika yang lahir perempuan maka akan dipandang sebagai Mame (paman), sedangkan jika laki-laki maka disebut Opu (ipar).
Baca juga: Kisah Mistis Pager Wetan di Lereng Gunung Semeru: Perjanjian Kelam Sang Kuncen Cari Tumbal
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NTT Bicara