Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 02 MEI 2026 • 17:10 WIB

Kisah Tragis Pembunuhan Naimullah: Jurnalis yang Hilang dalam Bayangan llegal Logging dan Kebebasan Pers

Kisah Tragis Pembunuhan Naimullah: Jurnalis yang Hilang dalam Bayangan llegal Logging dan Kebebasan PersKisah Naimullah, jurnalis yang terbunuh di tahun 1997 (Instagram)

INDOZONE.ID - Kasus pembunuhan Naimullah pada 1997 bukan sekedar peristiwa kriminal, tetapi juga mencerminkan kekerasan terhadap jurnalis yang mengancam kebebasan pers. Sebagai wartawan yang tengah menginvestigsi pembalkan liar, Naimullah berada di garis depan dalam mengungkapkan praktik ilegal yang diduga melibatkan pihak-pihak berpengaruh. 

Risiko yang ia hadapi menunjukkan betapa rentannya posisi jurnalis ketika menjalankan fungsi kontrol sosial. Dalam konteks ini, kekerasan terhadap dirinya menjadi simbol bagaimana upaya membungkam informasi dapat merusak prinsip dasar kebebasan pers bahkan sebelum kebenaran sempat terungkap.

Secara kronologis, Naimullah ditemukan tewas di dalam mobilnya di Pantai Penibungan, Mempawah, setelah sehari sebelumnya menerima telepon misterius dan bertemu sejumlah orang terkait liputannya. Ia sempat terlihat berbincang dengan beberapa pria di warung kopi sebelum menuju lokasi yang diduga berkaitan dengan investigasinya. 

Sore harinya mobilnya terlihat memasuki kawasan pantai, dan malamnya ia ditemukan dengan luka di kepala akibat kekerasan. Saksi mata menyebut empat pria meninggalkan lokasi kejadian, namun identitas mereka tak pernah terungkap, membuat kasus ini tetap menjadi misteri hingga kini.

Baca juga: Kisah Para Wartawan Hebat di Dunia yang Ukir Sejarah Dunia Jurnalisme

Berikut ini adalah beberapa fakta dari kasus tersebut seperti yag dikutip dari situs ylbhi.or.id.

Penelusuran yang Menguak Luka Lama

Upaya menelusuri kembali kasus pembunuhan Naimullah menghadirkan sejumlah kejutan yang tak terduga. Setelah berminggu-minggu mencari keberadaan keluarganya tanpa hasil, informasi justru muncul dari lingkaran keluarga sendiri. 

Kejutan lain datang ketika diketahui bahwa anak pertama Naimullah ternyata adalah rekan satu fakultas penulis semasa kuliah—sebuah fakta yang baru disadari saat melihat fotonya terpajang di rumah keluarga.

Pertemuan dengan Mhia, istri Naimullah, berlangsung penuh emosi. Ia sempat mempertanyakan mengapa kisah ini baru diangkat kembali setelah puluhan tahun. Bahkan, setahun sebelumnya ia telah membakar berbagai dokumen terkait suaminya demi menghapus ingatan pahit. 

Trauma yang tersisa membuatnya menolak dokumentasi berupa foto, rekaman suara, maupun video, karena kekhawatiran akan dampak terhadap keamanan keluarga.

Di sisi lain, upaya penelusuran juga terhambat oleh buruknya sistem pengarsipan. Berkas di kepolisian tidak ditemukan. Kliping koran pun nyaris hilang dimakan waktu, tersimpan dalam kondisi memprihatinkan. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa dokumentasi adalah kunci agar sebuah kasus tidak lenyap begitu saja.

Baca juga: Ubadssagen, Kisah Pembunuhan Keji dan Mutilasi Pemilik Kapal Selam ke Jurnalis Kim Wall

Malam Telepon yang Mengubah Segalanya

Kronologi tragedi bermula pada Sabtu dini hari, 26 Juli 1997. Sekitar pukul 01.00 WIB, telepon berdering di rumah Mhia di Pontianak. Seorang polisi dari Mempawah menghubungi, namun tidak langsung menjelaskan situasi. Ia hanya menanyakan ciri-ciri Naimullah dan kendaraan yang digunakan.

Kegelisahan Mhia semakin memuncak karena sejak siang suaminya belum pulang. Naimullah sebelumnya berpamitan untuk mengerjakan liputan mengenai pembalakan liar dan berencana menemui pihak perusahaan setelah salat Jumat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ylbhi.or.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kisah Tragis Pembunuhan Naimullah: Jurnalis yang Hilang dalam Bayangan llegal Logging dan Kebebasan Pers

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!