Ilustrasi pembunuhan misteri. (Pixabay)
INDOZONE.ID - Perdebatan mengenai bukti DNA menambah sorotan pada kasus Gilgo Beach, yang dari awal sudah menarik perhatian.
Sisa-sisa dari kerangka Maureen Brainard-Barnes ditemukan di semak-semak dekat Pantai Gilgo, Long Island, pada musim dingin 2010. Namun, tak ada bukti fisik yang bisa bantu penyidik untuk menemukan pembunuhnya, hanya ada satu helai rambut yang terlepas.
Baca juga: Kisah 'Dokter Maut' dari India: Pembunuh Berantai yang Buang Mayat Korbannya untuk Buaya
Pada saat itu, ekstraksi bukti DNA sehelai rambut tersebut belum memungkinkan dilakukan oleh laboratorium. Para investigator tetap mencari bukti-bukti lain untuk mengidentifikasi pembunuh berantai, yang menyebarkan tubuh perempuan sepanjang jalan pesisir.
Sekitar 7 tahun lalu, para investigator beralih ke Astrea Forensik, sebuah laboratorium di California yang menggunakan teknik baru untuk menganalisis DNA yang lama dan rusak. Dalam hal ini, termasuk rambut yang ditemukan bersama jasad Brainard-Barnes.
Saat ini, kerja dari laboratorium tersebut jadi keputusan penting, khususnya pada kasus yang diawasi ketat.
Baca juga: Asal-usul Nama 'Alas Lali Jiwo', Lembah Indah di Gunung Arjuno
Hakim negara juga mempertimbangkan untuk mengizinkan bukti DNA yang dihasilkan whole genome sequencing Astra Forensics digunakan pada sidang Rex Heuermann. Ia dituduh sebagai pembunuh Brainard-Barnes, serta enam perempuan lainnya.
Jika diizinkan, ini bakal jadi pertama kali teknik seperti ini diterapkan dalam pengadilan New York.
Jaksa menganggap kalau temuan Astrea, juga digabungkan dengan bukti lain, bakal menyakinkan keterlibatan Heuermann (61) sebagai aktor dibaliknya.
Baca juga: Kecerdasan Jamur: Mitos atau Fakta yang Dapat Mengubah Pandangan Kita
Namun, tim pengacara dari arsitek asal Manhattan itu menilai kalau perhitungan perusahaan melebih-lebihkan kemungkinan, kalau bukti rambut tersebut cocok dengan klien mereka.
“Bisa dibayangkan tekanan yang dirasakan hakim ini, karena kemungkinan besar ia membuat putusan yang akan menjadi acuan bagi kasus-kasus setelahnya,” kata April Stonehouse, pakar forensik DNA dari Arizona State University yang tidak terlibat dalam kasus ini.
Baca juga: Sejarah Perkembangan Sekolah Dasar hingga Menengah di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ABC News